Sebagai sutu bidang kajian ilmiah, ekologi menggabungkan pendekatan hipotesis-dedukatif, yang menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menguji penjelasan hipotesis dari fenomena-fenomena ekologis. Banyak ahli ekologi yang merancang model matematis yang memungkinkan mereka membuat simulasi eksperimen dalam skala besar yang tidak memungkinkan dilakukan dilapangan. Dengan pendekatan ini, variebel penting dan hubungan hipotesisnya dijelaskan melalui persamaan matematis. Cara-cara yang mungkin bagi variable-variabel itu untuk berinteraksi kemudian dapat dipelajari.

Lingkungan meliputi komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik meliputi suhu, cahaya, air, dan nutrien. Sedangkan biotic meliputi semua organism lain yang merupakan bagian dari lingkungan suatu individu.

Ekologi merupakan kajian ilmiah mengenai hubungan antara organism engan lingkungannya

FAKTOR ABIOTIK DALAM BIOSFER

Biosfer adalem planetah ekosisitim global –jumlah seluruh ekosistim planet, atau seluruh makhluk hidup dan tempat hidupnya-. Biosfer merupakan tingkatan paling kompleks dalam ekologi. Biosfer meliputi atmosfer hingga ketinggian beberapa kilometer, daratan sampai ke dan termasuk bebatuan yang mengandung air yang berada paling tidak 1500 meter dibawah tanah, danau dan aliran sungai, gua dan lautan hingga kedalaman beberapa kilometer.

Factor-faktor abiotik utama antara lain :

a. Suhu

Suhu merupakan factor yang penting dalam persebaran organismekarena pengaruhnya pada proses biologis dan ketidakmampuan sebagian besar organism untuk mengatur suhu tubuhnya secara tepat. Sel bisa saja pecah jika air yang terdapat didalamnya membeku pada suhu dibawah 0 derajat. Selain itu sejumlah organism dapat mempertahankan suatu metabolism yang cukup aktif pada suhu yang sangat rendah atau pada suhu yang sangat tinggi. Adaptasi yang luar biasa memungkinkan beberapa organisme hidup di luar kisaran suhu tersebut. Suhu internal suatu organisme sesungguhnya dipengaruhi oleh pertukaran panas dengan lingkungannya.

b. Air

Sifat-sifat air yang unik berpengaruh pada organism dan lingkungannya, air sangat penting bagi kehidupan. Tetapi ketersediannya yang bervariasi secara dramatis di berbagai habitat. Organism air tawar dan air laut hidup terendan di suatu daerah di lingkungan akuatik, tetapi organism tersebut mengalami permasalahan keseimbangan air jika tekanan osmosis intraselulernya tidak sesuai dengan tekanan osmosis air disekitarnya. Organisme di lingkungan darat menghadapi ancaman kekeringan yang hampir konstan, dan evolusinya dibentuk oleh kebutuhannya untuk mendapatkan dan menyimpan air dalam jumlah yang mencukupi.

c. Cahaya Matahari

Matahari memberikan energy yang menggerakkan hamper di seluruh ekosistem, meskipun hanya tumbuhan dan organisme fotosintetik lain yang menggunakan sumber energy ini secara langsung, intensitas cahaya bukan merupakan factor terpenting yang membatasi pertumbuhan tumbuhan di lingkungan darat, tetapi penaungan oleh kanopi hutan membuat persaingan untuk mendapatkan cahaya matahari di bawah kanopi tersebut menjadi lebih luas. Cahaya juga penting bagi perkembangan dan perilaku banyak tumbuhan dan hewan yang sesitiv terhadap fotoperiode, yaitu panjang relative siang dan malam hari. Fotoperiode merupakan suatu indicator yang lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan suhu,dalam member petunjuk mengenai kejadian musiman, seperti perbungaan atau perpindahan (migrasi).

d. Angin

Angin memperkuat pengaruh suhu lingkungan pada organism dengan cara meningkatkan hilangnya panas melalui penguapan (evaporasi) dan konveksi. Angin juga menyebabkan hilangnya air di organism dengan cara meningkatkan laju penguapan pada hewan dan laju transpirasi pada tumbuhan. Selain itu, angin dapat menyebabkan pengaruh yang sangat mendasar pada bentuk pertumbuhan tumbuhan., yaitu dengan cara menghambat pertumbuhan anggota tubuh pohon yang terdapat pada sisi arah tiupan angin, anggota tubuh pohon yang berada pada arah yang berlawanan dengan arah tiupan angin akan tumbuh secara normal, yang menghasilkan suatu penampakan “lambaian bendera”.

e. Batu dan Tanah

Penyebab timbulnya pola pengelompokan pada area tertentu yang acak pada ekosistem terrestrial adalah struktur fisik, pH dan komposisi mineral batuan serta tanah yang akan membatasi persebaran tumbuhan dan hewan yang memakannya. Pada aliran sungai, komposisi substrat dapat mempengaruhi factor kimiawi dalam air, yang selanjutnya akan mempengaruhi tumbuhan dan h ewan penghuni ekosistem akuatik. Pada lingkunhan laut struktur substrat dalamm zona pasang-surut dan dasar laut menentukan jenis organisme yang dapat menempel atau meliang dalam habitat seperti itu.

f. Gangguan Periodik

gangguan yang sangat merusak seperti kebakaran, badai, tornado dan letusan gunung merapi dapat menghancurkan komunitas biologis. Setelah adanya gangguan yang merusak, daerah akan dikolonisasi ulang oleh organisme yang selamat dari bencana, akan tetapi struktur komunitas akan mengalami suatu suksesi perubahan selama proses pemulihan. Beberapa gangguan, seperti letusan gunung berapi merupakan gangguan yang jarang terjadi dan tidak dapat diprediksi menurut dan ruang, sehingga organism tidak memiliki adaptasi evolusioner untuk menghadapinya. Sebaliknya gangguan seperti kebakaran meskipun dalam jangka pendek tidak dapat diprediksi, tetapi kejadian berulang sering terjadi pada beberapa komunitas, dan banyak tumbuhan telah beradaptasi terhadap gangguan periodic seperti ini. Pada kenyataannya beberapa komunitas sesungguhnya bergantung pada kebakaran yang terjadi secara perioi untuk mempertahankan hidupnya.

BIOMA AKUATIK DAN TERESTRIAL

Bioma adalah salah satu komunitas utama dunia, diklasifikasikan berdasarkan vegetasi yang dominan dan ditandai oleh adaptasi organisme terhadap lingkungan tertentu. Bima terdiri dari dua macam yaitu bioma akuatik dan terrestrial.

a. Bioma akuatik

Bioma akuatik memperlihatkan strativikasi vertical yang jelas pada beberapa variable fisik dan kimiawi. Cahaya diserap oleh air itu sendiri dan oleh mikroorganisme yang ada di dalamnya, sedemikian rupa sehingga intensitasnya menurun secara cepat dengan bertambahnya kedalaman. Para ahli ekologi membedakan antara zona fotik dibagian atas, yaitu daerah yang mencukupi untuk fotosintesis, dan afotik dibagian bawah yaitu sedikit sekali cahaya yang menembus sampai ke daerah itu.suhu air juga cenderung terstrativikasi, khusunya selama musim panas dan musim dingin. Energi panas dari cahaya matahari akan menghangatkan permukaan air hingga ke bagian air yang dapat ditembus oleh cahaya matahari, tetapi air di tempat yang lebih dalam tetap sangat dingin.

b. Bioma terrestrial

Bioma terrestrial seringkali dinamakan sesuai cirri fisik atau iklim utama dan vegetasinya yang dominan.masing-masing bioma juga ditandai oleh mikroorganisme, fungi, dan hewan yang beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Stratifikasi dan bentuk serta ukuran tumbuhan berperan besar dalam menentukan pelapisan tersebut. Bioma lain yang bukan hutan memiliki strata vertikalnya itu agak kurang menonjol. Stratifikasi vertical vegetasi bioma memberikan habitat yang berbeda-beda bagi hewan-hewan, yang seringkali dikelompokkan dengan jelas berdasarkan tempat pencarian makanannya mulai dari burung dan kelelawar insektivora dan karnivora yang mencari makan diatas kanopi hingga ke mamalia kecil. Bioma terrestrial biasanya saling tumpang tindih satu sama lain, tanpa pembatasan yang jelas. Jika daerah saling tumpang tindih itu begitu besar, maka daerah itu bias dianggap sebagai bioma yan terpisah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *