BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Ilmu tentang struktur dan fungsi jaringan pada tumbuhan perlu dipelajari karena merupakan dasar dari penerapan pemanfaatan tumbuhan bagi kehidupan manusia. Selain itu, ilmu tersebut juga dapat diterapkan untuk memecahkan masalah dibidang keanekaragaman hayati. Tubuh tumbuhan tersusun atas banyak sel yang pada tempat tertentu membentuk jaringan. Jaringan tersebut bekerja bersama-sama melaksanakan fungsi, selain tumbuhan, hewan juga mempunyai jaringan (Oram, 1994).
Tubuh hewan tersususn atas banyak sel yang pada tempat tertentu sel-sel itu bersatu membentuk jaringan. Jaringan yang berkelompok bekerja bersama melaksanakan fungsi tertentu membentuk suatu organ. Beberapa jaringan organ yang bekeja bersama melakukan fungsi tertentu dikenal sebagai sistem organ (Oram, 1994).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaringan Syaraf
• Jaringan saraf berperan dalam penerimaan rangsang dan penyampaian rangsang. Secara embriologi, jaringan ini berasal dari lapisan ektoderm. Jaringan ini terdapat pada sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) dan pada sistim saraf tepi. Ada dua macam sel, yaitu sel saraf (neuron) dan sel pendukung (sel glia).
Sel Saraf

Sel Jaringan Ikat syaraf
1. Neuron
• Neuron mengandung badan sel, nukleus, dan penjuluran atau serabut. Satu tipe penjuluran tersebut adalah dendrit, yang berperan dalam menerima sinyal dari sel lain dan meneruskannya ke badan sel. Tipe penjuluran sel saraf yang lain, disebut akson (neurit), yang berperan dalam meneruskan sinyal dari badan sel ke neuron lainnya.
• Beberapa akson berukuran sangat panjang, yaitu memanjang dari otak sampai ke bagian bawah abdomen (panjang 1/2 meter atau lebih). Transmisi sinyal dari neuron ke neuron lainnya umumnya dilakukan secara kimia.
2. Sel Glia
• Sel glia merupakan sel yang menunjang dan melindungi neuron. Sel-sel pendukung umumnya berperan dalam melindungi dan membungkus akson dan dendrit, sehingga membantu mempercepat transmisi sinyal.
• Sel Glia meliputi astrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel epindem

Saraf
• Dalam sistem saraf tepi, serabut saraf berkumpul dalam berkas untuk membentuk saraf. Stroma saraf terdiri dari suatu lapisan fibrosa eksternal dari jaringan ikat padat yang disebut epineurium.
• Saraf mengadakan suatu komunikasi diantara pusat saraf dan organ sensoris serta efektor. Yang berkomunikasi adalah ujung serabut aferen dan eferen.
• Dalam sistem saraf tepi, serabut saraf berkumpul dalam berkas untuk membentuk saraf. Stroma saraf terdiri dari suatu lapisan fibrosa eksternal dari jaringan ikat padat yang disebut epineurium.
• Saraf mengadakan suatu komunikasi diantara pusat saraf dan organ sensoris serta efektor. Yang berkomunikasi adalah ujung serabut aferen dan eferen.
Sistem Saraf Otonom
• Terdiri dari kumpulan sel saraf yang terletak di dalam sistem saraf pusat, serabut-serabutnya meninggalkan sistem saraf pusat melalui nervus kranialis atau spinalis dan ganglion saraf yang terletak dalam lintasan serabut-serabut ini.
• Terdiri dari sistem simpatis dan sistem parasimpatis
Reseptor
• Merupakan bagian dari tubuh yang dapat menerima rangsang. Fungsinya adalah untuk mengadakan reaksi terhadap stimulus.
• Reseptor dibagi menjadi dua yaitu reseptor somatis dan reseptor yang merupakan organ indera

2.2 JARINGAN OTOT
Gerakan kebanyakan hewan disebabkan oleh kontraksi sel-sel yang berbentuk panjang, silinder atau gelendong yang masing-masing mengandung serabut kontraktil mikroskopik yang panjang dan paralel disebut miofibril yang terdiri atas protein aktin dan miosin. Sel-sel otot melakukan kerja mekanik dengan cara kontraks, menjadi pendek dan tebal. Pada vertebrata terdapat 3 jaringan otot yaitu: otot jantung, otot polos dan otot seran lintang. Adapun penjelasan lebih lanjutnya.(Ville,1984)
a) Otot jantung
Otot jantung hanya terdapat pada dinding jantung, terdiri atas serabut-serabut otot yang bergaris-garis melintang seperti halnya otot kerangka.Otot jantung mempunyai lurik tetapi letak nukleus terdapat di pusat. Otot jantung adalah uniselular dan tidak multiselular. “Intercalated disk” (Cakram sisipan) yang tampak pada serabut dengan elektron mikroskop tetap diidentifikasi sebagai membran sel yang terikat sangat erat. Kontraksi sel jantung tidak terkontrol. Adapun perbedaan antara otot kerangka dan otot jantung:
1) Serabut otot jantung tidak merupakan sinsitium, melainkan merupakan rangkaian sel-sel tunggal yang berderet-deret ujung bertemu dengan ujung dengan perantara suatu bangunan yang dinamakan discus intercalaris.
2) Sel otot jantung tidak berbentuk silindris biasa, melainkan bercabang-cabang sehingga memberikan kesan adanya anyaman 3 dimensional.
3) Inti sel otot jantung tidak terletak di bawah sarkolema, melainkan di tengah sel.
4) Kontraksi otot jantung di luar pengaruh kehendak kita.
Celah-celah antara anyaman serabut-serabut otot jantung diisi oleh jaringan pengikat sebagai endomisium. Dalam beberapa hal struktur halus otot jantung sama dengan otot kerangka, khususnya mengenai hubungan antara miofilamen halus dengan miofilamen tebal sehingga lempeng-lempeng yag tampak pada miofibril tidak berbeda pula. Perbedaan yang tampak pada pengamatan dengan M.E. yaitu susunan sarcoplasmic reticulum dan mitokondria yang tidak teratur sehingga berkas-berkas miofilamen yang membentuk miofibril tidak disusun secara teratur sehingga batas-batas miofibril tidak tegas. Selain itu mitokondria lebih panjang dan banyak jumlah nya(Subowo,1992).
Discus intercalaris ternyata merupakan batas sel yang berbentuk berigi-rigi antara sel-sel otot jantung yang berdekatan. Discus intercalaris dibedakan menjadi 2 bagian utama yaitu:
– Pars transversalis, menempati bagian yang berjalanmelintang terhadap serabut otot
– Pars lateralis, menempati bagian yang sejajar dengan serabut otot
Histogenesis otot jantung dapat diikuti sejak embrio sebagai perkembangan dari splanchnopleura yang terdapat di luar endotil primordium jantung. Sejak awalnya telah terbentuk struktur desmosom antar sel-sel otot jantung definitif yaitu pada saat pembuluh darah bersama jaringan pengikat menembus endotil jantung(Ville,1992).
b) Otot polos
Otot polos atau disebut juga otot licin, jenis otot ini didapatkan pada alat-alat dalam sebagai komponen dinding saluran pencernaan, saluran pernapasan, saluran keluar kelenjar, pembuluh darah dan lainnya. Otot licin tidak mempunyai lurik, mempunyai ujung yang lancip, letak nuleus di sentral dan kontraksi tidak terkontrol. Otot licin berkontraksi sangat lamban tetapi dapat ada dalam kontraksi yang cukup lama. Otot terkendali beberapa avertebrata, seperti otot yang menutup cangkang kerang adalah otot licin (Ville,1984)
Sel-sel otot polos dapat tersusun tersebar atau membentuk berkas memanjang atau sebagai lembaran. Apabila tersusun sebagai lembaran sel-sel otot tersusun rapat sehingga bagian yang meruncing akan menimpa pada bagian tebalnya. Sel otot berbentuk sebagai gelendong atau kumparan yaitu bagian yang menebal mengandung inti yang menempati di tengah. Inti yang menempati bagian sel yang menebal terletak agak eksentrik berbentuk memajang atau oval. Di dalam nya mengandung 2 nukleoli dan khromatin halus. Pada waktu sel otot memendek (Kontraksi), selubung inti berkerut-kerut.
Sitoplasma untuk sel otot disebut sarkoplasma mengandung sepasang sentriol. Dalam sitoplasma terdapat butir-butir glikogen yang penting sebagai sumber energi. Seperti hal nya sel-sel lainnya, sel otot pun diselubungi oleh membran plasma ynag dinamakan sarkolema. Untuk nutrisi jaringan otot diperlukan pembuluh darah yang bercabang-cabang masuk diantara berkas-berkas otot. Agar dapat berkontraksi maka jaringan otot membutuhkan rangsangan dari ujung-ujung syaraf. Menurut cara penghantaran impuls saraf, oleh bozler dibedakan 2 tipe:
1. Tipe multi unit, apabila tiap sel otot polos mendapatkan rangsangan dari ujung-ujung saraf yan
g berasal dari sebatang serabut saraf, sehingga setiap sel otot mendapat impuls dalam waktu bersamaan. Tipe otot ini misalnya terdapat pada dinding Ductus deferens.
2. Tipe viseral, dalam seberkas otot, tidak semuanya mendapatkan ujung saraf, tetapi rangsangan akan diteruskan ke otot-otot yang berdekatan melalui hubungan yang mirip gap junction.
Sarkoplasma di dekat inti mengandung sejumlah mitokondria halus, mikrotubuli, granular endoplasmic reticulum dan kelompok-kelompok ribosom bebas. Kompleks golgi menempati di dekat salah satu ujung inti. JARINGAN OTOT
Gerakan kebanyakan hewan disebabkan oleh kontraksi sel-sel yang berbentuk panjang, silinder atau gelendong yang masing-masing mengandung serabut kontraktil mikroskopik yang panjang dan paralel disebut miofibril yang terdiri atas protein aktin dan miosin. Sel-sel otot melakukan kerja mekanik dengan cara kontraks, menjadi pendek dan tebal. Pada vertebrata terdapat 3 jaringan otot yaitu: otot jantung, otot polos dan otot seran lintang. Adapun penjelasan lebih lanjutnya.(Ville,1984)
c) Otot jantung
Otot jantung hanya terdapat pada dinding jantung, terdiri atas serabut-serabut otot yang bergaris-garis melintang seperti halnya otot kerangka.Otot jantung mempunyai lurik tetapi letak nukleus terdapat di pusat. Otot jantung adalah uniselular dan tidak multiselular. “Intercalated disk” (Cakram sisipan) yang tampak pada serabut dengan elektron mikroskop tetap diidentifikasi sebagai membran sel yang terikat sangat erat. Kontraksi sel jantung tidak terkontrol. Adapun perbedaan antara otot kerangka dan otot jantung:
5) Serabut otot jantung tidak merupakan sinsitium, melainkan merupakan rangkaian sel-sel tunggal yang berderet-deret ujung bertemu dengan ujung dengan perantara suatu bangunan yang dinamakan discus intercalaris.
6) Sel otot jantung tidak berbentuk silindris biasa, melainkan bercabang-cabang sehingga memberikan kesan adanya anyaman 3 dimensional.
7) Inti sel otot jantung tidak terletak di bawah sarkolema, melainkan di tengah sel.
8) Kontraksi otot jantung di luar pengaruh kehendak kita.
Celah-celah antara anyaman serabut-serabut otot jantung diisi oleh jaringan pengikat sebagai endomisium. Dalam beberapa hal struktur halus otot jantung sama dengan otot kerangka, khususnya mengenai hubungan antara miofilamen halus dengan miofilamen tebal sehingga lempeng-lempeng yag tampak pada miofibril tidak berbeda pula. Perbedaan yang tampak pada pengamatan dengan M.E. yaitu susunan sarcoplasmic reticulum dan mitokondria yang tidak teratur sehingga berkas-berkas miofilamen yang membentuk miofibril tidak disusun secara teratur sehingga batas-batas miofibril tidak tegas. Selain itu mitokondria lebih panjang dan banyak jumlah nya(Subowo,1992).
Discus intercalaris ternyata merupakan batas sel yang berbentuk berigi-rigi antara sel-sel otot jantung yang berdekatan. Discus intercalaris dibedakan menjadi 2 bagian utama yaitu:
– Pars transversalis, menempati bagian yang berjalanmelintang terhadap serabut otot
– Pars lateralis, menempati bagian yang sejajar dengan serabut otot
Histogenesis otot jantung dapat diikuti sejak embrio sebagai perkembangan dari splanchnopleura yang terdapat di luar endotil primordium jantung. Sejak awalnya telah terbentuk struktur desmosom antar sel-sel otot jantung definitif yaitu pada saat pembuluh darah bersama jaringan pengikat menembus endotil jantung(Ville,1992).
d) Otot polos
Otot polos atau disebut juga otot licin, jenis otot ini didapatkan pada alat-alat dalam sebagai komponen dinding saluran pencernaan, saluran pernapasan, saluran keluar kelenjar, pembuluh darah dan lainnya. Otot licin tidak mempunyai lurik, mempunyai ujung yang lancip, letak nuleus di sentral dan kontraksi tidak terkontrol. Otot licin berkontraksi sangat lamban tetapi dapat ada dalam kontraksi yang cukup lama. Otot terkendali beberapa avertebrata, seperti otot yang menutup cangkang kerang adalah otot licin (Ville,1984)
Sel-sel otot polos dapat tersusun tersebar atau membentuk berkas memanjang atau sebagai lembaran. Apabila tersusun sebagai lembaran sel-sel otot tersusun rapat sehingga bagian yang meruncing akan menimpa pada bagian tebalnya. Sel otot berbentuk sebagai gelendong atau kumparan yaitu bagian yang menebal mengandung inti yang menempati di tengah. Inti yang menempati bagian sel yang menebal terletak agak eksentrik berbentuk memajang atau oval. Di dalam nya mengandung 2 nukleoli dan khromatin halus. Pada waktu sel otot memendek (Kontraksi), selubung inti berkerut-kerut.
Sitoplasma untuk sel otot disebut sarkoplasma mengandung sepasang sentriol. Dalam sitoplasma terdapat butir-butir glikogen yang penting sebagai sumber energi. Seperti hal nya sel-sel lainnya, sel otot pun diselubungi oleh membran plasma ynag dinamakan sarkolema. Untuk nutrisi jaringan otot diperlukan pembuluh darah yang bercabang-cabang masuk diantara berkas-berkas otot. Agar dapat berkontraksi maka jaringan otot membutuhkan rangsangan dari ujung-ujung syaraf. Menurut cara penghantaran impuls saraf, oleh bozler dibedakan 2 tipe:
3. Tipe multi unit, apabila tiap sel otot polos mendapatkan rangsangan dari ujung-ujung saraf yang berasal dari sebatang serabut saraf, sehingga setiap sel otot mendapat impuls dalam waktu bersamaan. Tipe otot ini misalnya terdapat pada dinding Ductus deferens.
4. Tipe viseral, dalam seberkas otot, tidak semuanya mendapatkan ujung saraf, tetapi rangsangan akan diteruskan ke otot-otot yang berdekatan melalui hubungan yang mirip gap junction.
Dalam sarkoplasma terdapat berkas-berkas filamen yang membentuk miofibril.
Sangat menarik adanya daerah-daerah yang tampak padat berbentuk sebagai kumparan yang ditembusi oleh berkas filamen. Tempat tersebut diduga merupakan tempat bertumpunya miofibril. Terdapat 2 jenis filamen yaiu miofilamen halus dan miofilamen kasar. Kedua jenis miofilamen tersebut berjalan sejajar sumbu sel otot polos. Di antara berkas-berkas miofilamen terlihat mitokondria.
Pada pengamatan M.E. sarkolema menunjukkan lekukan ke dalam yang dinamakan kaveola, tentang fungsi kaveola belum begitu jelas, ada yang mengusulkan bahwa kaveola sesuai dengan struktur yang pada otot seran lintang yang dinamakan sebagai centrotubule yang berfungsi untuk merambatkan impuls lebih cepat.

e) Otot seran lintang
Otot seran lintang atau otot bercorak sebagian besar terdapat sebagai otot kerangka sehingga dinamakan pula otot kerangka. Otot seran lintang dapat diketemukan di lidah, diafragma, dinding pangkal esophagus dan otot wajah. Sel otot kerangka merupakan perkecualian dari dalil bahwa sel hanya mempunyai satu nukleus karena sel-sel ini secara embrionik berkembang dari sel-sel yang lebih kecil yang berfungsi antara ujung dengan ujung. Kedudukan nukleus otot kerangka tidak lazim yaitu pada perifer sel, dekat di bawah membran. Sel otot kerangka lebih dari 2 cm. Aktivitas berat yang terus-menerus meningkatkan ketebalan otot. Miofibril otot kerangka mempunyai pita-pita melintang gelap berseling terang disebut lurik. Lurik ini mempunyai peran fundamental dalam kontraksi. Selama kontraksi pita yang gelap tetap tetapi pita terang memendek. Kontraksi otot kerangka terkendali.
2.3 Darah
Darah vertebrata merupakan suatu jenis jaringan ikat yang terdiri atas beberapa sel yang tersuspensi dalam suatu matriks cairan. Walaupun fungsi darah berbeda dengan jaringan ikat lain namun ia memenuhi salah satu kriteria jaringan ikat karena memiliki matriks ekstraseluler yang luas. Matriks dalam darah berupa cairan yang disebut plasma, yang terdiri atas air, garam-garam, dan berbagai jenis protein terlarut. Keseluruhan darah terdiri atas unsur seluler (sel-sel dan potongan sel yang disebut keping darah) yang tersuspensi dalam suatu materik cairan yang disebut plasma.
Fungsi Darah
Darah melakukan banyak fungsi penting dalam tubuh termasuk:
• Pasokan oksigen ke jaringan (terikat pada hemoglobin, yang dibawa dalam sel darah merah)
• Pasokan nutrisi seperti glukosa, asam amino, dan asam lemak (terlarut dalam darah atau terikat protein plasma (misalnya, lemak darah)
• Penghapusan limbah seperti karbon dioksida, urea, dan asam laktat
• Fungsi imunologis, termasuk sirkulasi sel darah putih, dan deteksi bahan asing oleh antibodi
• Pembekuan, yang merupakan salah satu bagian dari tubuh mekanisme perbaikan diri (tindakan pembekuan darah ketika Anda terluka untuk menghentikan pendarahan.)
• pengangkutan hormon dan sinyal dari jaringan kerusakan
• Peraturan tubuh pH (pH normal darah dalam kisaran 7,35-7,45) (meliputi hanya 0,1 unit pH)
• Pengatur suhu tubuh
• Hidrolik fungsi
Komponen-Komponen Darah
Biasanya, 7-8% dari berat tubuh manusia adalah dari darah. Pada orang dewasa, jumlah ini untuk 4-5 liter darah. Cairan penting ini melaksanakan fungsi kritis transportasi oksigen dan nutrisi ke sel-sel dan menyingkirkan karbon dioksida, amonia, dan produk-produk limbah lain. Di samping itu, memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh kita dan dalam mempertahankan suhu tubuh relatif konstan. Darah adalah jaringan yang sangat khusus yang terdiri dari berbagai macam komponen. Empat dari yang paling penting adalah merah sel, sel darah putih, platelet, dan plasma. Semua manusia memproduksi komponen darah ini – tidak ada perbedaan populational atau regional.

a. Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah, atau eritrosit adalah sel-sel mikroskopik yang relatif besar tanpa inti. Dalam ciri yang terakhir ini, mereka serupa dengan primitif sel prokariotik bakteri. Merah membuat sel-sel normal 40-50% dari total volume darah. Mereka mengangkut oksigen dari paru-paru ke semua hidup jaringan tubuh dan membawa pergi karbon dioksida. Sel-sel merah terus diproduksi dalam sumsum tulang dari sel batang dengan laju sekitar 2-3 juta sel per detik. Hemoglobin adalah pengangkutan gas protein molekul yang membentuk 95% dari sel darah merah. Masing-masing sel darah merah memiliki sekitar 270.000.000 kaya besi-molekul hemoglobin. Orang-orang yang mengalami anemia umumnya memiliki kekurangan sel darah merah. warna merah darah terutama karena beroksigen sel darah merah. Manusia molekul hemoglobin janin berbeda dari yang dihasilkan oleh orang dewasa di sejumlah rantai asam amino. Fetal hemoglobin memiliki tiga rantai, sementara orang dewasa hanya memproduksi dua. Sebagai akibatnya, molekul hemoglobin janin menarik dan transportasi yang relatif lebih banyak oksigen ke sel-sel tubuh.
b. Sel Darah Putih
Sel darah putih, atau leukosit, ada dalam jumlah dan jenis variabel tetapi membentuk bagian yang sangat kecil volume darah – biasanya hanya sekitar 1% pada orang sehat. Leukosit tidak terbatas pada darah. Mereka terjadi di tempat lain dalam tubuh juga, terutama di limpa, hati, dan kelenjar getah bening. Sebagian besar diproduksi di sumsum tulang kita dari jenis yang sama sel-sel induk yang memproduksi sel darah merah. Yang lain diproduksi di kelenjar timus, yang berada di pangkal lehernya. Beberapa sel darah putih (disebut limfosit ) adalah penanggap pertama untuk sistem kekebalan tubuh kita. Mereka mencari, mengidentifikasi, dan mengikat protein asing pada bakteri, virus, dan jamur sehingga mereka dapat dihilangkan. Lain-lain sel darah putih (disebut granulosit and macrophages dan makrofag ) Kemudian tiba mengepung dan menghancurkan sel-sel asing. Mereka juga mempunyai fungsi menyingkirkan sel-sel darah yang sekarat atau mati serta benda asing seperti debu dan asbes. Sel darah merah tetap layak hanya sekitar 4 bulan sebelum mereka akan dihapus dari darah dan komponen mereka didaur ulang oleh sel darah putih di limpa. Masing-masing sel darah putih biasanya hanya berlangsung 18-36 jam sebelum mereka juga dipindahkan, meskipun beberapa jenis hidup sebanyak satu tahun.
c. Platelet

Platelet, atau trombosit, adalah fragmen sel tanpa inti yang bekerja dengan bahan-bahan kimia pembekuan darah di tempat luka. Mereka melakukan ini dengan mengikuti dinding pembuluh darah, sehingga menyumbat pecah di pembuluh darah dinding. Mereka juga dapat melepaskan bahan kimia yang menyebabkan coagulating untuk membentuk gumpalan dalam darah yang dapat plug up pembuluh darah menyempit. Ada lebih dari selusin jenis faktor pembekuan darah dan platelet yang perlu berinteraksi dalam proses pembekuan darah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa platelet membantu memerangi infeksi dengan melepaskan protein yang membunuh bakteri dan beberapa mikroorganisme lainnya. Selain itu, trombosit merangsang sistem kekebalan tubuh. Masing-masing trombosit adalah sekitar 1 / 3 ukuran sel darah merah. Mereka memiliki umur dari 9-10 hari. Seperti merah dan sel darah putih, trombosit diproduksi di tulang sumsum dari sel-sel induk.
d. Plasma
Plasma adalah cairan bening yang relatif air (92 +%), gula, lemak, protein dan larutan garam yang membawa sel darah merah, sel darah putih, platelet, dan beberapa bahan kimia lainnya. Biasanya, 55% dari volume darah kita terdiri dari plasma. sekitar 95%-nya terdiri atas air. Ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh sel-sel, plasma membawa makanan untuk mereka dan menghilangkan produk-produk limbah metabolisme. Plasma juga mengandung faktor pembekuan darah, gula, lipid, vitamin, mineral, hormon, enzim, antibodi (kekebalan), dan protein. Hal ini mungkin bahwa plasma berisi beberapa dari setiap protein yang diproduksi oleh tubuh – sekitar 500 telah diidentifikasi pada plasma manusia sejauh ini.

Gambar bagian bawah sel darah merah, platelet dan T-limfosit (eritrosit = merah; platelet = kuning; T-limfosit = lampu hijau) (SEM x 9.900).. Gambar ini adalah hak cipta Dennis Kunkel di www.DennisKunkel.com, digunakan dengan izin.

2.4 JARINGAN IKAT
Jaringan ikat memiliki variasi yang sangat luas berdasarkan morfologi, letak geografis dan strukturnya. Fungsi utama adalah sebagai penghubung jaringan. Secara embriologis, jaringan ikat berasal dari mesoderm. Dari lapis mesoderm ini, sel multipoten pada embryo atau dikenal dengan sebutan mesenkim berkembang menjadi jaringan penyambung, jaringan ikat, tulang, dan darah.
Komponen jaringan ikat terdiri atas sel dan matriks ekstra seluler. Ekstra seluler tersebut teridi atas substansi dasar dan serabut jaringan ikat. Sel jaringan ikat merupakan komponen penting pada beberapa jenis jaringan ikat, sedangkan serabut jaringan ikat juga merupakan komponen penting pada tipe jaringan ikat yang lainnya. Walaupun demikian, ketiga komponen jaringan ikat memegang peran penting di dalam jaringan ikat.
Fungsi Jaringan Ikat
Jaringan ikat mempunyai banyak fungsi, namun yang paling utama adalah sebagai penunjang dan pengikat, media untuk pertukaran, pertahanan tubuh, dan penyimpan lemak. Fungsi sebagai penunjang karena jaringan ikat dapat membentuk kapsula yang membungkus organ yang sekaligus menunjang fungsi organ tersebut. Jaringan ikat juga berperan sebagai media pertukaran hasil metabolik dalam jaringan dan zat nutrisi serta oksigen di dalam darah dan pada beberapa sel dalam tubuh. Fungsi pertahanan dan proteksi diperan kan oleh beberapa sel jaringan ikat seperti sel fagositik, sel immunokompeten, dan sel penghasil substansi khusus dalam tubuh.
Pada setiap jaringan ikat terdapat 3 unsur utama, yaitu
1. Sel jaringan ikat
2. Substansi dasar
3. Serabut jaringan ikat
Sel Jaringan Ikat
Pemerian sel jaringan ikat didasarkan atas penampilannya dalam jaringan ikat. Sel jaringan ikat dibagi dalam dua kategori yaitu sel yang tetap (fixed cells) dan sel kelana (transien cells atau wandering cells). Sel tetap merupakan sel yang tetap berada di tempat. Sel tetap sifatnya stabil dan berumur panjang. Yang termasuk ke dalam sel tetap adalah : Fibroblas, Perisit, sel lemak, sel mast, dan makrofag. Sedangkan sel kelana adalah sel yang berasal dari sumsum talang dan ikut sirkulasi aliran darah. Sifat sel kelana adalah berumur pendek. Sel kelana akan migrasi ke jaringan ikat karena adanya rangsangan. Yang termasuk ke dalam sel kelana adalah Sel plasma, mackrofag, limfosit, neutrofil, eosinofil, basofil, dan monosit.
Jenis-jenis sel tetap :
1. Fibroblas :
Salah satu jenis sel yang paling banyak terdapat pada jaringan ikat lo
nggar. Diperkirakan berperan sebagai sel penghasil serabut dan substansi dasar. Fibroblas merupakan sel besar, bercabang-cabang yang dari samping berbentuk seperti gelendong. Cabang-cabangnya langsing. Inti lonjong atau memanjang dan kromatin halus. Pada sedian histologi, gambaran sel tidak begitu jelas dan ciri inti digunakan sebagai pedoman untuk menentukannya.
Fibroblas muda, secara aktif mengahsilkan protein, sitoplasma bersifat basofilik. Pada Fibroblas tua, dan relatif yang kurang aktif sitoplasmanya jarang, dan hanya basofilik lemah. Fibroblas tua atau yang kurang aktif kadang-kadang disebut fibrosit. Fibroblas diperkirakan sebagai sel tetap pada jaringan ikat, tetapi mereka tetap bisa tumbuh dan bergenerasi.
2. Perisit
Merupakan sel yang berasal dari sel mesenkim yang tidak berdiferensiasi. Perisit adalah sel perikapiler dengan posisi tetap pada sel endothel kapiler darah dan vena kecil. Sel ini berbentuk memanjang dan dikelilingi oleh lamina basalis yang terus berhubungan dengan membran basalis kapiler. Perisit mempunyai kompleks Golgi, mitokondria, mikrotubulus dan filamen. Perisit mempunyai karakteristik seperti sel endothel dan sel otot polos yaitu mengandung aktin, myosin dan tropomyosin. Karena itu, fungsi perisit dihubungkan dengan proses kontraksi yang mengatur aliran darah pada kapiler. Pada kejadian tertentu sperti terjadinya perlukaan, perisit kemungkinan dapat berubah menjadi sel otot polos dan sel endotjel pada kapiler darah.
3. Sel Lemak
Sel lemak sering disebut adiposit, dan berasal dari sel mesenkim yang tidak mengalami diferensiasi. Fungsi sel lemak adalah untuk mensintesis dan menyimpan triglyserida. Ada dua jenis sel lemak yakni sel unilokular yaitu mengandung satu unit sel lemak dan ukurannya besar dan membentuk jaringan lemak putih. Sedangkan sel lemak yang dibentuk oleh banyak unit lemak namun ukurannya kecil disebut multilokular dan membentuk jaringan lemak coklat. Penyebaran lemak putih lebih banyak dibanding dengan lemak coklat. Sel lemak putih berbentuk bulat atau polihedral dengan diameter 120 ųm. Sel lemak coklat berbentuk poligonal.

4. Sel Mast
Sel Mast tersebar luas pada jaringan ikat, tetapi cenderung mengelompok kecil-kecil pada pembuluh darah. Mudah dikenal karena terdapat granula pada sitoplasmanya. Bentuk sel lonjong, tidak beraturan dan kadang-kadang memiliki kaki semu pendek. Inti sel kecil dan tidak mencolok. Sel Mast menghasilkan antikoagulan yaitu heparin, histamin yang mengakibatkan vasodilatasi, dan serotonin yang berperan sebagai vasokonstriktor. Selain itu, sel Mast melepaskan mediator seperti faktor anafilaktif dan pengaktif trombosit.
5. Makrofag :
Sering disebut histiosit. Populasi sel ini hampir sama dengan fibroblas. Makrofag kebanyakan ditemukan pada daerah yang kaya pembuluh darah. Bentuk sel tidak beraturan dan cabang-cabangnya pendek. Bila dirangsang, dapat melakukan gerakan amuboid dengan kaki-kaki palsu terjulur ke segala arah. Merupakan tipe sel pengembara. Inti berbentuk lonjong , kadang-kadang berlekuk, lebih kecil dari inti fibroblas.Sitoplasma berwarna gelap. Sel ini mempunyai kemampuan menelan. Makrofag berperan untuk pertahanan tubuh karena dapat bergerak dan berdaya fagositosis. Juga berperan dalam reaksi imunologis. Makrofag menghasilkan sejumlah substansi penting seperti, lisozim, elastase, kolagenase, dan interferon.
Jenis Sel Pengembara
1. Sel Plasma
Sel ini mirip limfosit. Sitoplasmanya lebih banyak dan bersifat basofilik dengan inti terletak eksentris. Ukuran sel ini besar dengan diameter 20 µm. Kromatin inti menggumpal di tepi dan tersusun menyerupai ruji roda pedati. Sel ini sering terdapat pada membran serosa dan jaringan limfoid dan banyak pada tempat radang. Sel Plasma merupakan deferensiasi khusus dari limfosit. Sel ini menghasilkan antibodi.
2. Limfosit.
Umumnya, sel darah putih ini bersirkulasi pada aliran darah. Akan tetapi sering migrasi melawati kapiler darah menuju ke jaringan ikat khususnya pada saat terjadinya peradangan.
3. Neutrofil
Sel yang berperan di dalam fagositosis dan penghancur bakteri pada daerah radang. Hasil dari proses ini akan terbentuk nanah, yaitu pengumpulan jaringan yang telah mati.
4. Eosinofil
Eosinofil bersama dengan neutrofil juga berperan pada peradangan terutama pada kejadian terinfestasi cacing serta pada kejadian reaksi alergi
Sel Pigmen : sel – sel yang mengandung pigmen jarang ditemukan pada jaringan ikat longgar, namun biasa dijumpai pada jaringan ikat padat. Beberapa dari sel pigmen tersebut adalah Melanosit. Berperan dalam mengahasilkan melanin, yaitu penyerap sinar cahaya.
Substansi Dasar
Substansi dasar ini membentuk matriks. Substansi intersel memberi kekuatan dan penyokong bagi jaringan dan berfungsi sebagai medium untuk perembesan cairan jaringan.
Substansi intersel amorf berbentuk gel kaku dan berperan membantu untuk memberikan kekuatan dan sokongan pada jaringan dan media untuk difusi nutrisi. Bahan amorf terdiri atas glikosaminoglikans (polisakarida yang mengandung gula amino) dan glikoprotein. Glikosaminoglikans yang banyak pada jaringan ikat adalah: asam hialuronat, kondroitin sulfat, dermatan sulfat, keratan sulfat, heparan sulfat. Sedangkan, proteoglikan pada jaringan ikat adalah : fibronektin, laminin, dan kondronektin.
Serabut Jaringan Ikat
Dalam jaringan ikat terdapat 3 jenis serabut, yakni serabut kolagen, serabut elastin, dan serabut retikuler. Ketiga jenis serabut ini dibedakan berdasarkan penampilan dan sifat kimianya. Semua serabut merupakan protein.
1. Serabut Kolagen,
Terdapat pada semua jenis jaringan ikat. Terdiri atas protein kolagen. Pada keadaan segar berwarna putih. Diameternya berkisar antara 1-12 mikron. Beberapa serabut bergabung menjadi berkas serabut yang lebih besar. Dalam keadaan segar bersifat lunak, dan sangat kuat. Susunan serabut kolagen bergelombang, karenannya bersifat lentur.
Benang serabut kolagen yang paling halus yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya adalah fibril dengan tebal kurang lebih 0,3 sampai 0,5 µm. Selanjutnya fibril ini disusun oleh satuan serabut yang lebih kecil yang disebut miofibril dengan diameter 45 sampai 100nm. Miofibril ini hanya terlihat dengan mikroskop elekron dan tampak mempunyai garis melintang khas dengan periodisitas 67 nm.
Serabut kolagen memiliki daya tahan tarik tinggi. Serabut kolagen dijumpai pada tendon, ligamen, kapsula, dll. Serabut ini bening dan terlihat garis memanjang. Bila kolagen direbus akan menghasilkan gelatin. Serabut kolagen dapat dicerna oleh pepsin dan enzim kolagenase. Paling tidak telah dikenal 2 jenis serabut kolagen dengan variasi pada urutan asam amino dari rantai α (alfa). Dari 20 jenis tersebut, ada 6 tipe kolagen yang yang paling utama dan secara genetik berbeda. Keenam tipe kolagen tersebut adalah :
1. Tipe I : tipe kolegen yang paling banyak ditenukan. Terdapat pada jaringan ikat dewasa, tulang, gigi dan sementum
2. Tipe II : kolagen tipe ini dibentuk oleh kondroblas dan merupakan unsur utama penyusun matriks tulang rawan. Kolagen ini ditemukan pada kartilago hyalin dan elastik
3. Tipe III : Kolagen ini ditemukan pada awal perkembangan beberapa jenis jaringan ikat. Pada keadaan dewasa kolagen ini terdapat pada jaringan retikuler
4. Tipe IV : terdapat pada lamina densa pada lamina basalis dan diperkirakan merupakan hasil sel-sel yang langsung berhubungan engan lamina tersebut
5. Tipe V : terdapat pada plasenta, dan berhubungan dengan kolagen tipe I
6. Tipe VI : terdapat pada basal lamina
2. Serabut Elastin
Serabut elastin terlihat sebagai pita pipih atau benang silindris panjang dan sangat elastis. Daya elastisitas ini disebabkan karena serabut elastin mengandung protein elastin. Elastin merupakan material amorf yang kandungan utamanya adalah asam amino glysin dan prolin. Serat elastin tidak terpengaruh oleh air panas atau dingin atau larutan asam dan alkali. Tertapi dapat dicerna secara enzymatik oleh enzym elastase pankreas. Ukurannya antara 1-4 mikrometer. Lazimnya bercabang dan membentuk jalinan. Dalam keadaan segar,
serabut elastin berwarna kekuning-kuningan. Dengan pengecatan HE serabut elastin berwarna merah jambu. Terdapat pada organ yang memerlukan daya elastisitas ,yaitu daun telinga, pita suara, trakea, ligamentum nukhe, kulit dan pembuluh arteri.

Gambar : Serabut Elastin
3. Serabut Retikuler
Serat retikuler adalah serat kolagen yang sangat halus tersusun membentuk suatu kerangkan penyokong seperti jala atau retikulum. Serabut retikuler terdiri atas fibril kolagen (kolagen tipe III) yang dibalut oleh proteoglikan dan glikoprotein. Akan tampak bila dicat dengan garam perak. Bentuknya lembut dan membentuk jalinan. Ditemukan pada kapiler, serabut otot, serabut saraf, jaringan lemak dan hepatosit.
Kategori Jaringan Ikat :
Sifat jaringan ikat sangat bervariasi. Penampilannya tergantung pada proporsi relatif san susunan unsur sel, substansi, dan serabut jaringan ikat. Berdasarkan perkembangannya, sel, serabut dan matrik, jaringan ikat dibagi menjadi Jaringan ikat Embrional dan Jaringan ikat Dewasa seperti terlihat pada Tabel1.
Tabel 1. Klasifikasi Jaringan Ikat
A. Jaringan Ikat Embryonal
1. Jaringan Ikat Mesenkim
2. Jaringan Ikat Mukosa
B. Jaringan Ikat Dewasa
1. Jaringan Ikat Longgar
2. Jaringan Ikat Padat
a. Jaringan Ikat Padat Tidak Teratur
b. Jaringan Ikat Padat Teratur
1. Kolagen
2. Elastik
3. Jaringan Retikuler
4. Jaringan Lemak
JARINGAN IKAT EMBRIONIK
1. Mesenkim
Hanya ditemukan pada jaringan embryo dan terdiri dari sel mesenkim, memiliki penjuluran panjang saling berhubungan membentuk jalinan tiga dimensi. Matriks jaringan ikat cukup banyak dan pada tahap-tahap awalnya adalah cairan yang dapat mengental tetapi kemudian mengandung serabut-serabut halus. Sel mesenkim mempunyai inti lonjong. Sel mesenkim dapat menumbuhkan organ tubuh.

Gambar Jaringan Ikat Mesenkim
2. Jaringan Ikat Mukosa
Selnya membentuk jalinan, matriknya diisi oleh massa gel terutama mengandung asam hyaluronat. Jaringan ikat ini telah mengandung serabut kolagen terutama tipe I dan III serta fibroblast. Jaringan ikat ini dikenal juga dengan nama Wharton’s jelly. Terdapat pada hipodermis embrio dan tali pusar. Pada dewasa terdapat pada lipatan omasum dan glans penis.

Gambar : Jaringan Ikat Mukosa
JARINGAN IKAT DEWASA
Memiliki sel, serabut dan matrik. Serabut pada jaringan ikat dewasa berbeda dalam jenis, kuantitas dan ukurannya.
1. Jaringan Ikat Longgar.
Jaringan ikat longgar dikenal juga dengan nama Jaringan Ikat Areolar. Jenis jaringan ikat ini banyak ditemukan pada hewan dewasa. Jaringan ikat ini menciri dengan banyak ditemukan adanya substansi dasar dan cairan jaringan. Jaringan ikat ini juga banyak mengandung sel dan serabutnya longgar. Serabutnya adalah kolagen, elastis dan retikuler. Jumlah serabutnya tergantung orientasi, susunan dan kuantitasnya. Jaringan ikat longgar banyak mengandung sel pengembara seperti makrofag, sel mast dan sel yang tidak berdeferensiasi. Jaringan ini banyak dijumpai pada pembuluh darah, saraf, diantara berkas otot, di bawah epitel. Fungsi jaringan ini sebagai pengisi, penunjang dan bantalan.

Gambar : Jaringan Ikat Longgar
2. Jaringan Ikat Padat
Jumlah serabut lebih banyak dari sel dan matrik. Jaringan ikat padat dibagi menjadi 2, yaitu Jaringan Ikat Padat teratur dan Tidak teratur.
Jaringan Ikat Padat Teratur, mengandung terutama serabut kolagen. Serabut kolagen paling banyak dan tersusun saling menyilang. Populasi sel yang utama adalah fibroblast. Banyak dijumpai pada organ seperti : kapsula paru-paru, kapsula hati, ginjal, limpa, testis, fasia, aponeurosa, perikardium dan dermis.

Gambar : Jaringan Ikat Tidak Teratur
Jaringan Ikat Padat Tidak Teratur, terdapat dua bentuk tergatung macam serabutnya. Pada tendon dan ligamen mayoritas kolagen sedangkan pada ligamentum nukhe serabut elatis yang utama.
3. Jaringan Retikuler
Terdiri dari sel retikuler dan serabut kolagen tipe III, yang saling berhubungan membentuk jalinan tiga dimensi. Terdapat pada jaringan limfoid dan mieloid.
4. Jaringan Lemak,
Merupakan bentuk jaringan khusus dimana selnya mampu menimbun lemak. Ada dua macam yaitu lemak coklat dan lemak putih.
Jaringan lemak putih terbagi atas septa berbentuk jaringan ikat longgar menjadi kelompok sel lemak disebut lobulus. Tiap sel dikelilingi oleh serabut kolagen dan retikuler. Diameter sel lemak 200 µm dan mengandung satu unit lemak. Sitoplasma tipis dan inti pipih.

Gambar : Lemak Putih
Jaringan Lemak Coklat, selnya lebih kecil dari lemak putih. Unit-unit kecil lemak tersebar pada sitoplasma. Kadar sitokrom tinggi, sehingga warnanya coklat. Banyak dijumpai pada rodensia dan binatang berhibernansi.

Gambar : Lemak Coklat
2.5 JARINGAN EPITEL

I. Pengertian
Jaringan epitel adalah jaringan yang melapisi permukaan tubuh, organ tubuh, dan permukaan saluran tubuh hewan. Jaringan epitel terdiri dari lapisan sel-sel yang sangat rapat susunannya, yang membatasi rongga-rongga di dalam tubuh. Oleh karena itu, jaringan epitel dapat dikatakan sebagai jaringan yang seluler. Tidak ada pembuluh darah dalam jaringan epitel. Zat makanan diberikan ke jaringan secara difusi dari pembuluh darah kapiler yang terletak di jaringan dibawahnya. Secara embriologi, jaringan ini berasal dari :
* Ektoderm contohnya epitel pada kulit
* Entoderm contohnya epitel pada saluran pencernaan
* Mesoderm contohnya epitel pada saluran kemih
Di bagian tubuh luar, epitel ini membentuk lapisan pelindung, sedangkan pada bagian dalam tubuh, jaringan epitel terdapat disepanjang sisi organ. Jaringan epitel yang melapisi luar tubuh disebut epidermis, yang membatasi rongga dalam disebut endodermis, sedangkan yang membatasi rongga disebut mesoderm.

II. Fungsi
Jaringan epitel secara umum memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
1) Sebagai pelindung atau proteksi jaringan yang berada di sebelah dalamnya,
2) Sebagai kelenjar, yaitu cairan yang menghasilkan getah. Kelenjar merupakan lekukan dari jaringan epitel dimana pada dindingnya terdapat sel kelenjar. Sel kelenjar adalah sel yang mengambil bahan baku dari darah lalu dibuat menjadi sesuatu.
a. Kelenjar ekskresi bila zat yang dikeluarkannya untuk dibuang, contohnya urine.
b. Kelenjar sekresi bila zat yang dikeluarkannya untuk digunakan kembali, contohnya enzim-enzim.
c. Kelenjar endokrin bila zat yang dikeluarkan (hormon) langsung ke dalam darah.
3) Sebagai penerima rangsang atau reseptor, disebut epitel sensori atau neuroepitelium. Epitel sensori kebanyakan berada di alat indra.
4) Sebagai pintu gerbang lalu lintas zat, berfungsi melakukan penyerapan zat ke dalam tubuh dan mengeluarkan zat dari dalam tubuh. Contohnya pada alveolus paru-paru, jonjot usus, dan nefron ginjal.
5) Sebagai alat penyaring atau filtrasi.
6) Sebagai alat respirasi.
Dalam rangka fungsinya sebagai pelindung, biasanya epitel sendiri pun diberi pelindung yaitu lapisan tanduk (korneum), silia, dan lapisan lendir.

III. Bentuk dan Susunan
Jaringan epitel dapat dibedakan menjadi dua, yaitu epitel simpleks (terdiri dari satu lapis sel) dan epitel kompleks (tersusun atas beberapa lapisan sel).

1. Epitel simpleks
a) Epitel pipih selapis
Epitel pipih selapis berukuran tipis dan lemah, yang cocok untuk pertukaran material dengan cara difusi. Ciri-cirinya, sitoplasma jernih, inti sel bulat terletak di tengah. Epitel ini terletak di pleura, alveolus paru-paru, kapsula bowman pada ginjal, lapisan dalam pembuluh darah dan limfa, ruang jantung, selaput bagian dalam telinga, sel ekskresi kecil dari kebanyakan kelenjar. Adapun fungsi epitel ini antara lain :
a. Pelapis bagian dalam rongga dan saluran (endothelium)
b. Tempat difusi zat
c. Tempat infiltrasi zat
d. Tempat osmosis zat

b) Epitel kubus selapis
Sitoplasmanya jernih atau berbutir-butir. Inti sel bulat besar di tengah. Terletak di kelenjar keringat dan kelenjar air liur, retina
mata, permukaan ovarium, dan saluran nefron ginjal. Adapun fungsinya :
a. Lapisan pelindung atau proteksi
b. Tempat penyerapan zat (absorbsi)
c. Penghasil mucus (lendir) / sekresi

c) Epitel silindris selapis
Epitel ini memiliki bentuk silinder (tabung), sitoplasmanya jernih atau berbutir-butir. Epitel ini memiliki nucleus berbentuk bulat terletak di dekat dasar. Terdapat pada dinding dalam lambung, usus, kandung kencing, kantong empedu, saluran rahim, rahim, saluran pernafasan bagian atas, saluran pencernaan. Adapun fungsinya :
a. Lapisan pelindung (proteksi)
b. Tempat penyerapan zat ( absorbsi)
c. Tempat difusi dan absorbsi zat
d. Melicinkan

d) Epitel silindris selapis bersilia
Epitel ini berbentuk seperti epitel silindris berlapis, hanya saja memiliki bulu-bulu getar atau silia. Epitel ini dapat ditemukan di dinding dalam rongga hidung, saluran trakea, bronkus, dan dinding dalam saluran oviduk. Adapun fungsinya :
a. Penghasil mucus (lendir) untuk menangkap benda asing yang masuk
b. Dengan getaran silia menghalau benda asing yang masuk/ atau melekat pada mucus

e) Epitel silindris semu berlapis
Epitel ini terdiri atas sel-sel epitelium batang yang berekatan satu sama lain dan tidak semua selnya mencapai permukaan sehingga menyerupai epitelium berlapis. Terletak pada rongga hidung dan trakea. Adapun fungsinya :
a. Proteksi
b. Sekresi
c. Gerakan zat melalui permukaan

2. Epitel kompleks
Epitel kompleks tersusun oleh beberapa lapisan sel. Lapisan sel terbawah yang selalu membelah diri untuk mengganti sel-sel permukan yang rusak, disebut lapisan germinativa. Beberapa jaringan yang termasuk epitel kompleks adalah :
a) Epitel pipih berlapis
Epitel pipih berlapis, seperti yang terdapat di pemukaan kulit kita, mampu melakukan mitosis dengan cepat. Sel-sel baru hasil mitosis menggantikan sel-sel permukaan yang mati. Letaknya pada kulit (dengan zat tanduk), epidermis, rongga mulut, esophagus, laring, vagina, saluran anus, rongga hidung. Berfungsi sebagai :
a. Lapisan pelindung terhadap pengaruh luar
b. Lapisan pelindung saluran dalam
c. Penghasil mucus

b) Epitel kubus berlapis
Terletak di kelenjar keringat, kelenjar minyak, ovarium di masa pertumbuhan, buah zakar. Fungsinya :
a. Lapisan pelindung
b. Penghasil mucus

c) Epitel silindris berlapis
Terletak pada lapisan konjunctiva (lapisan yang selalu basah karena lendir) misalnya pada bagian mata yang berwarna putih, dinding dalam kelopak mata, laring, faring, uretra. Berfungsi sebagai :
a. Proteksi
b. Penghasil mucus
c. Gerakan zat lewati permukaan
d. Saluran ekskresi kelenjar ludah dan kelenjar susu

d) Epitel transisional
Merupakan bentuk epitel banyak lapis yang sel-selnya tidak dapat digolongkan berdasarkan bentuknya. Bila jaringannya menggelembung bentuknya berubah.Terletak pada kandung kencing, ureter, pelvis ginjal. Pada lapisan atas terdapat lapisan sel yang berbentuk payung (sel payung). Sel payung dalam keadaan regang akan memipih, misalnya dalam keadaan saluran terisi penuh. Berfungsi menahan regangan dan tekanan.

3. Epitel Kelenjar
Merupakan jaringan yang dibentuk oleh sel-sel yang terkhususkan untuk menghasilkan suatu secret cair yang komposisinya berbeda dari komposisi darah atau cairan antar sel.kelenjar adalah turunan epitel,. Merupakan organ yang sebagian besar terdiri atas sel-sel kelenjar. Sekretnya berupa enzim, hormon, atau lendir.
a) Epitel kelenjar eksokrin
Terletak pada kelenjar minyak, kelenjar keringat, kelenjar saliva. Berfungsi menghasilkan mucus
b) Epitel kelenjar endokrin
Terletak pada otak, daerah leher, anak ginjal, pankreas, kelamin. Berfungsi menghasilkan hormon.

4. Epitel bertingkat
Bentuknya seperti epitel berlapis. Epitel bertingkat terdiri dari satu lapis sel yang tidak sama tinggi sehingga terlihat seperti berlapis-lapis. Contoh: epitel pada trakea.

Gambar Bentuk Jaringan Epitel

1. Epitel kubus selapis
2. Epitel pipih selapis
3. Jaringan ikat

Epitel silindris banyak lapis bersilia .
tampak silia di tengah-tengah,

Epitel transisional saat kandung kemih kosong

Epitel transisional saat kandung kemih penuh

BAB III
KESIMPULAN
pada jaringan hewan tersusun atas jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan darah, jaringan saraf, dan jaringan otot. Masing-masing jaringan tersebut mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda

DAFTAR PUSTAKA
Subowo. 1992.histologi umum.Jakarta:PT bumi aksara
Ville dkk. 1984.zoologi umum.Jakarta:PT Gelora aksara pratama
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair;=en|id&u;=http://en.wikipedia.org/wiki/Blood
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair;=en|id&u;=http://www.emc.maricopa.edu/faculty/farabee/BIOBK/BioBookAnimalTS.html
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair;=en|id&u;=http://anthro.palomar.edu/blood/blood_components.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *