PENDAHULUAN

Semua zat yang berasal dari tumbuhan dan hewan terdiri dari komponen kompleks yang tidak dapat digunakan secara langsung, maka diperlukan pemecahan agar menjadi komponen yang lebih sederhana. Digesti merupakan proses penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan yang terjadi dalam saluran pencernaan, yaitu agar dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan khemis dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Fungsi utama pencernaan adalah memecah molekul kompleks dan molekul besar dalam makanan sehingga molekul itu dapat diserap dan digunakan tubuh. Penguraian komponen kompleks menjadi komponen sederhana disebut hidrolisis (Tillman,. et al, 1984).

Menurut Suhanda (1984), fungsi sistem pencernaan antara lain: menerima makanan yang dimakan. Makanan direduksi secara fisis, reduksi yang lebih lanjut berlangsung secara kimia, menyerap hasil pencernaan, bahan buangan yang tidak dapat dicerna ditahan Dan dibuang keluar tubuh.

Proses pencernaan makanan sangat penting sebelum makanan diabsorbsi atau diserap oleh dinding saluran pencernaan. Zat-zat makanan tidak dapat diserap dalam bentuk alami dan tidak berguna sebagai zat nutrisi sebelum proses pencernaan awal. Zat makanan akan dipersiapkan untuk diabsorbsi melalui proses-proses tertentu dengan bantuan enzim-enzim Tertentu dalam saluran pencernaan. Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian struktur alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada tinggi rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut serta jenis makanannya. Pada hewan invertebrata alat pencernaan makanan umumnya masih sederhana, dilakukan secara fagositosis dan secara intrasel, sedangkan pada hewan-hewan vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang sempurna yang dilakukan secara ekstrasel. Struktur alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada tinggi rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut serta jenis makanannya. Pada hewan invertebrata alat pencernaan makanan umumnya masih sederhana, dilakukan secara fagositosis dan secara intrasel, sedangkan pada hewan-hewan vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang sempurna yang dilakukan secara ekstrasel.

Saluran pencernaan terbentang dari bibir sampai dengan anus. Bagian-bagian utamanya terdiri dari mulut, hulu kerongkongan, kerongkongan, lambung, usus kecil dan usus besar. Panjang dan rumitnya saluran tersebut sangat bervariasi diantara spesies. Pada karnivora relatif pendek dan sederhana akan tetapi pada herbivora adalah lebih panjang dan lebih rumit. Pada beberapa herbivora (kuda dan kelinci) lambungnya relative sederhana dan dapat disamakan dengan lambung karnivora sedangkan usus besarnya, terutama sekum lebih luas dan rumit dari yang dipunyai karnivora. Sebaliknya pada herbivora lain (sapi, kambing, domba), lambungnya (sistem berlambung majemuk) adalah besar dan rumit, sedangkan usus besarnya panjang akan tetapi kurang berfungsi. Kandungan air pada liur yang mencapai 99%, mempermudah melarutnya molekul makanan dan hidrolase dapat bekerja optimal. Liur juga mengandung enzim amilase dan lipase. Amilase liur akan memecah pati dan glikogen menjadi maltosa dan oligosakarida, sedangkan enzim amilase liur pada manusia kurang mempunyai peran pada proses pencernaan. Enzim-enzim tersebut menjadi inaktif pada pH≤4, sehingga tidak bias bekerja ketika makanan sudah mencapai lambung.

Sistem pencernaan unggas berbeda dari sistem pencernaan mamalia dalam hal unggas tidak mempunyai gigi guna memecah makanan secara fisik. Lambung kelenjar pada unggas disebut proventrikulus. Antara proventrikulus dan mulut terdapat suatu pelebaran kerongkongan, disebut tembolok. Makanan disimpan untuk sementara waktu dalam tembolok. Kemudian makanan tersebut dilunakkan sebelumnya menuju ke proventrikulus. Makanan kemudian secara cepat melalui proventrikulus ke ventikulus atau empedal. Fungsi utama empedal adalah untuk menghancurkan dan menggiling makanan kasar. Pekerjaan tersebut dibantu oleh grit yang ditimbun unggas semenjak mulai menetas.

Langkah-langkah dalam sistem digesti meliputi, mekanis, biologis dan enzimatis.

Sistem mekanis dilakukan dengan prehension, reinsalivasi, dan remastikasi serta redeglutisi. Didalam rumen terdapat mikroflora rumen yang berfungsi untuk mencerna selulose dan hemisellulose menjadi VFH, CO2, CH4 dan energi panas. Fungsi lain dari organisme rumen adalah sebagai sumber energi, sumber asam amino, dan sintesis vitamin B. Sistem digesti juga dibantu oleh glandula saliva, pancreas dan hati Merupakan kelenjar

Tambahan (Tillman,. Et al, 1984).

Hewan non ruminansia (unggas) memiliki pencernaan monogastrik (perut tunggal) yang berkapasitas kecil. Makanan ditampung di dalam crop kemudian empedal/gizzard terjadi penggilingan sempurna hingga halus. Makanan yang tidak tercerna akan keluar bersama ekskreta, oleh karena itu sisa pencernaan pada unggas
berbentuk cair (Girisenta, 1980).

Zat kimia dari hasil–hasil sekresi kelenjar pencernaan memiliki peranan penting dalam sistem pencernaan manusia dan hewan monogastrik lainnya. Pencernaan makanan berupa serat tidak terlalu berarti dalam spesies ini. Unggas tidak memerlukan peranan mikroorganisme secara maksimal, karena makanan berupa serat sedikit dikonsumsi. Saluran pencernaan unggas sangat berbeda dengan pencernaan pada mamalia. Perbedaan itu terletak di daerah mulut dan perut, unggas tidak memiliki gigi untuk mengunyah, namun memiliki lidah yang kaku untuk menelan makanannya. Perut unggas memiliki keistimewaan yaitu terjadi pencernaan mekanik dengan batu-batu kecil yang Dimakan oleh unggas di gizzard (Swenson, 1997).

Saluran pencernaan mammalia terdiri dari rongga mulut (oral), kerongkongan (oesophagus), proventrikulus (pars glandularis), yang terdiri dari rumen, retikulum, dan omasum; ventrikulus (pars muscularis) yakni abomasum, usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum), sekum (coecum), kolon, dan anus. Lambung sapi sangat besar, yakni ¾ dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dikunyah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi pembusukan dan peragian (Arora, 2005).

Pada hewan lambung tunggal (kelinci) organ saluran pencernaanya terdiri dari mulut, faring, kerongkongan, lambung (gastrum), usus halus (intestineum tenue), yang terdiri dari doedenum, jejenum, ileum, usus besar (intestinum crasum), yang terdiri dari kolon, sekum, dan rektum kemudian berakhir pada anus. (Tillman, et al, !984).

Sistem digesti pada mammalia dibagi menjadi dua macam yaitu monogastrik dan poligastrik. Monogastrik memiliki saluran pencernaan meliputi mulut, oesophagus, stomach, small intestinum, large intestinum, rektum dan anus. Sedangkan pada poligastrik perut dibagi menjadi empat yaitu rumen, reticulum, omasum, dan abomasum, sehingga urutan saluran pencernaannya menjadi mulut, oesophagus, rumen, reticulum, omasum, abomasum, small intestinum, large intestinum, rektum dan anus (Swenson,1997).

Sistem pencernaan unggas berbeda dari sistem pencernaan mammalia dalam hal unggas tidak mempunyai gigi guna memecah makanan secara fisik. Lambung kelenjar pada unggas disebut proventrikulus. Antara proventrikulus dan mulut terdapat suatu pelebaran kerongkongan, disebut tembolok. Makanan disimpan untuk sementara waktu dalam tembolok. Kemudian makanan tersebut dilunakkan sebelumnya menuju ke proventrikulus. Makanan kemudian secara cepat melalui proventrikulus ke ventikulus atau empedal. Fungsi utama empedal adalah untuk menghancurkan dan menggiling makanan kasar. Pekerjaan tersebut dibantu oleh grit yang ditimbun unggas semenjak mulai menetas.

SISTEM PENCERNAAN PADA HEWAN

A. Sistem Pencernaan Pada Amfibi

gambar:pencernaan katak

Sistem pencernaan makanan pada amfibi, hampir sama dengan ikan, meliputi saluran

pencernaan dan kelenjar pencernaan. salah satu binatang

amphibi adalah katak. Makanan katak berupa hewan-hewan kecil (serangga). Secara

berturut-turut saluran pencernaan pada katak meliputi:

1. rongga mulut: terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa dan lidah

untuk menangkap mangsa,

2. esofagus; berupa saluran pendek,

3. ventrikulus (lambung), berbentuk kantung yang bila terisi makanan

menjadi lebar. Lambung katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya

esofagus dan lubang keluar menuju usus,

4. intestinum (usus): dapat dibedakan atas usus halus dan usus tebal. Usus halus

meliputi: duodenum. jejenum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya.

5. Usus tebal berakhir pada rektum dan menuju kloata, dan

6. kloaka: merupakan muara bersama antara saluran pencernaan makanan, saluran

reproduksi, dan urine.

Kelenjar Pencernaan

Kelenjar pencernaan pada amfibi, terdiri atas hati dan pankreas. Hati berwarna merah kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan. pankreas berwarna Kekuningan, melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duadenum). Pancreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada duodenum.

Lidah

Lidah merupakan massa jaringan pengikat dsan otot lurik yang diliputi oleh membran mukosa. Membran mukosa melekat erat pada otot karena jaringan penyambung lamina propia menembus ke dalam ruang-ruang antar berkas-berkas otot. Pada bagian bawah lidah membran mukosanya halus.

Fungsi lidah:

– untuk mengaduk makanan yang dikunyah

– menelan makanan

– mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata

Permukaan atas lidah mengandung banyak tonjolan-tonjolan epitel mulut dan lamina propia

yang disebut papilla). Terdapat empat jenis papilla:

a. Filiformis

– terdapat di bagian posterior

– bebtuk penonjolan konis, sangat banyak diseluruh permukaan lidah

– epitel tidak mengandung putting pengecap

– epitel berambut

b. Fungiformis

– di bagian anterior dan diantara filiformis

– menyerupai jamur karena menpunyai tangkai sempit dan permukaan yang halus, bagian atas melebar

– mengandung putting kecap, tersebar di permukaan atas

– epitel berlapis pipih tak menanduk

c. Foliatel

– pada pangkal lidah bvagian lateral, terdapat beberapa tonjolan-tonjolan padat

– bentuk: sirkumvalata

– banyak putting kecap

d. Circumfalate

– papillae yang sangat besar dengan permukaannya yang pipih meluas di atas papillae lain, susunan seperti parit

– tersebar di daerah “V” bagian posterior lidah

– banyak kelenjar mukosa dan serosin

– banyak putting kecap yang terdapat di sepanjang sisi papilla

Kelenjar Ludah

Kelenjar ludah terbentuk dari jaringan epitel dan menghasilkan secret.

Ciri-ciri: – sel glandularis

– duktus interkalaris

– saluran bercolak

– menghasilakan mucus dan enzim amilase

Ada 3 pasang kelenjar ludah menurut tempatnya:

1. Glandula parotid (kelenjar bawah telinga)

– sel penyusun: sel serous

– bentuk kelenjar asiner bercabang majemuk

– bermuara dekat gigi molar atas yang kedua

2. Glandula submaksiksilaris (kelen
jar bawah rahang)

– bermuara di dekat pangkal lidah

– bentuk kelenjar tubuloasiner bercabang majemuk

– sel penyusun: sel serous (banyak) dan sel mukus. Sel serous, inti agak banyak dan sitoplasmanya mengandung butir-butir zimogen. Sel mukus, berinti gepeng dan terletak di bagian basal.

3. Glandula subligualis (kelenjar bawah lidah

– bermuara dekat pangkal lidah

– bentuk kelenjar tubuloasiner bercabang majemuk

– sel penyusun: sel mucus

B. Sistem Pencernaan Makanan Pada Aves


Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan kimiawi dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

a) Jenis Makanan Burung

Makanan burung adalah bijii-bijian seperti padi, jagung, dan jewawut.

b) Organ-organ Pencernaan Makanan.

Organ pencernaan makanan pada burung perkutut (Geopelia Striata) sama
halnya dengan organ pencernaan burung pemakan biji-bijian lainnya. Organ pencernaan pada burung terbagi atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian, hewan kecil, dan buah-buahan.

Saluran pencernaan pada burung terdiri atas:

1) Paruh: merupakan modifikasi dari gigi.

2) Rongga mulut: terdiri atas rahang atas yang merupakan penghubung antara rongga mulut dan tanduk

3) Faring: berupa saluran pendek, esofagus: pada burung terdapat pelebaran pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan makanan yang dapat diisi dengan cepat

4) Lambung terdiri atas:

– Proventrikulus (lambung kelenjar): banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding ototnya tipis.

– Ventrikulus (lambung pengunyah/empedal): ototnya berdinding tebal. Pada burung pemakan biji-bijian terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama makanan vang berguna untuk membantu pencernaan dan disebut sebagai ” hen’s teeth”,
6) Intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada kloaka.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum.
Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan pankreas. Pada burung merpati tidak terdapat kantung empedu.
Berikut adalah gambar organ pencernaan pada burung :

c) Fungsi organ pencernaan pada burung :

· Paruh : Mengambil makanan.

· Kerongkongan : Saluran makanan menuju tembolok.

· Tembolok : Menyimpan makanan sementara.

· Lambung kelenjar : Mencerna makanan secara kimiawi.

. Lambung pengunyah : Menghancurkan makanan.

· Hati : Membantu mancerna makanan secara mekanis.

· Pankreas : Menghasilkan enzim.

· Usus halus : Tempat pencernaan sari makanan yang diserap
oleh kapiler darah pada dinding usus halus.

· Usus besar : Saluran sisa makan ke rectum.

· Usus buntu : Memperluas daerah penyerapan sari makanan.

· Poros usus : Tempat penyimpan sisa makanan sementara.

·Kloaka : Muara 3 (tiga) saluran,yaitu :

– Pencernaan usus.

– Saluran uretra dari ginjal

– Saluran kelamin

d) Sistem Pencernaan burung

Pada mulut terdapat paruh yang sangat kuat dan berfungsi untuk
mengambil makanan.Makanan yang diambil oleh paruh kemudian masuk
kedalam rongga mulut lalu menuju kerongkongan.Bagian bawah kerongkongan
membesar berupa kantong yang disebut tembolok.Kemudian masuk ke lambung
kelenjar .Disebut lambung kelenjar karena dindingnya mengandung kelenjar yang
menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara
kimiawi.Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah.Disebut lambung
pengunyah karena dindingnya mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk
menghancurkan makanan.Didalam hati,empedal sering terdapat batu kecil atau
pasir untuk membantu mencerna makanan secara mekanis.
Kemudian,makanan masuk menuju usus halus.Enzim yang dihasilkan oleh
pankreas dan empedu dialirkan kedalam usus halus.Hasil pencernaan berupa sari-
sari makanan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.Burung mem-
punyai dua usus buntu yang terletak antara lambung dan usus.Usus buntu berguna
untuk memperluas daerah penyerapan sari makanan.
Sisa makanan didorong ke usus besar kemudian kedalam poros usus
(rektum) dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka.


e) Mekanisme pencernaan makanan pada burung:

Mulut / paruh → Kerongkongan → Tembolok → Lambung kelenjar →
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka.

  1. SISTEM PENCERNAAN PADA MAMALIA

Sistem pencernaan makanan pada mamalia terdiri dari beberapa organ, berturut turut dimulai dari Rongga Mulut, Esofagus, Lambung, Usus Halus, Usus Besar, Rektum, Anus.

Gambar. Sistem Pencernaan

Rongga Mulut

Mulut merupakan saluran pertama yang dilaluimakanan. Pada rongga mulut, dilengkapi alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untukmembantu pencernaan makanan. Pada Mulut terdapat:

a. Gigi

Ciri-ciri:

– Tersusun dalam 2 lengkung

– Terletak pada maxilla dan mandibula

– Masing-masing gigi terdiri atas bvagian yang menonjol di atas ginggiva (atau gum)

yaitu mahkota dan di bawah ginggiva yaitu akar (mempertahankan gigi dalam lekuktulang atau alveolus). Tempat peralihan mahkota ke akar sampai leher.

Tiap gigi mempunyai rongga sentral, rongga pulpa

Terdiri dari bagian nonmineral: pulpa, dan 3 bagian bermineral: email, dentin,

ementum.

· Gb gigi-2Dentin

Dentin merupakan jaringan kalsifikasi yang mirip tulang, tetapi lebih keras karena mengandung banyak garam-garam kalsium. Dentin terutama terdiri atas serabut-serabut kolagen, glikosaminoglikans, dan garam-garam kalsium (80%) berat kering dalam bentuk kristal-kristal hidroksiapatit. Dentin peka terhadap banyak rangsngan seperti panas, dingin, asam, trauma dan memberi respon terhadap semua rangsang sakit. Matriks organiknya disintesis oleh sel-sel odontoblas.

· Email

Email meripakan struktur paling keras dari tubuh dan banyak mengandung kalsium. Terdiri atas 97% garam-garam kalsium dan 3% zat organic. Berasal dari epitel ectoderm, sedangkan struktur lain gigi berasal dari mesoderm. Matriks amail disekresi oleh sel-sel (ameloblas). Email terdiri atas struktur batang yang berbentuk prisma atau toraks heksagonal, prisma email yang berikatan satu sama lain dengan zat interprismatis.

· Pulpa

Pulpa gigi terdiri dari jaringan pnyambung jarang. Unsur-unsur utamanyaadalah serabut-serabut kolagen halus yang tersusun asimetris dan substansia dasar yang mengandung glikosaminoglikans. Pulpa merupakan jaringan yang sangat banyak mengandung persyarafan dan pembuluh darah, serta banyak terhadap fibroblast.

– Struktur-struktur pertahanan gigi dalam lekuk tulang maxilla dan mandibula terdiri atas sementum, membranaperidentalis, tulang alveolar dan ginggiva.

Mamalia, mempunyai gigi difiodonti (gigi berganti 2 kali), yaitu gigi susu dan gigi

permanent.

Gigi melekat pada tulang rahang dengan jaringan ikat fibrosa. Cara pelekatan gigi terdiri

dari 3 cara, yaitu:

a. Akrodonti : melekat di puncak tulang rahang, misalnya terdapat pada Teleoster

b. Pleurodonti : melekat pada sisi dalam tulang rahang, misalnya terdapat pada katak,

necturus, dan kadal

c. Teledonti : akar gigi tertanam dalam alveoli (sokel) tulang rahang, misalnya pada

buaya, burung bergigi, mamalia dan beberapa ikan.

– Morfologi gigi, terdiri dari:

a. Homodonti : gigi yang bentuknya serupa, misalnya pada vertebrata, mamalia

b. Heterodonti: gigi yang bentuknya beda misal, mamalia yang mempunayi morfologi

gigi sebagai berikut:

1. Gigi seri (insisivus)

2. gigi taring (kaninus)

3. gigi geraham depan (premolar)

4. gigi geraham belakang (molar)

a. Jumlah gigi manusia 32 buah.

2-1-2-3 ½ belahan rahang atas

2-1-2-3 ½ belahan rahang bawah

I K P M

b. Gigi kelinci

3-1-3-1

3-1-2-1

c. Kucing

2-0-3-3

1-0-2-3

– Histologi gigi

Pada mamalia tiap gigi terdiri dari 3 bagian, yaitu:

a. Mahkota (korana) dilapisi email

b. Leher (serviks)

c. Akar (radiks)

Kelenjar-kelenjar Pencernaan di luar Saluran Pencernaan

lidah khemoreseptorb. Lidah

Lidah merupakan massa jaringan pengikat dsan otot lurik yang diliputi oleh membrane mukosa. Membran mukosa melekat erat pada otot karena jaringan penyamb
ung lamina propia menembus ke dalam ruang-ruang antar berkas-berkas otot. Pada bagian bawah lidah membran mukosanya halus

Fungsi lidah:

– untuk mengaduk makanan yang dikunyah

– menelan makanan

– mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata

Permukaan atas lidah mengandung banyak tonjolan-tonjolan epitel mulut dan lamina propia (yang disebut papilla). Terdapat empat jenis papilla:

a. Filiformis

– terdapat di bagian posterior

– bebtuk penonjolan konis, sangat banyak diseluruh permukaan lidah

– epitel tidak mengandung putting pengecap

– epitel berambut

b. Fungiformis

– di bagian anterior dan diantara filiformis

– menyerupai jamur karena menpunyai tangkai sempit dan permukaan yang halus, bagian

atas melebar

– mengandung putting kecap, tersebar di permukaan atas

– epitel berlapis pipih tak menanduk

c. Foliatel

– pada pangkal lidah bvagian lateral, terdapat beberapa tonjolan-tonjolan padat

– bentuk: sirkumvalata

– banyak putting kecap

d. Circumfalate

– papillae yang sangat besar dengan permukaannya yang pipih meluas di atas papillae

lain, susunan seperti parit

– tersebar di daerah “V” bagian posterior lidah

– banyak kelenjar mukosa dan serosin

– banyak putting kecap yang terdapat di sepanjang sisi papilla

c. Kelenjar Ludah

Ada 3 kelenjar ludah pada rongga mulut Kelenjar ludah terbentuk dari jaringan epitel dan menghasilkan secret.

Ciri-ciri:

– sel glandularis

– duktus interkalaris

– saluran bercolak

– menghasilakan mucus dan enzim amylase

<!–[if gte vml 1]>

Gambar  SEQ Gambar * ARABIC 1. Kelenjar Ludah

<![endif]–>Text Box: Gambar 1. Kelenjar Ludah

Kelenjar ludah terdiri dari unit unit morfologik dan fungsional, yang disebut abdonomer. Suatu unit adenomer terdiri dari sel sel glandularis saluran penyalur, duktus interkalaris dan saluran bercorak. Dekat duktus interkalaris dan bagian basal sel sekretoris tersusun atas sel sel mioepitel.Macam-macam kelenjar ludah :

1. Kelenjar ludah utama / mayor / besar-besar

Kelenjar-kelenjar ludah besar terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya disalurkan melalui duktusnya kedalam rongga mulut. Kelenjar saliva mayor terdiri dari :

· Kelenjar Parotis

v Kelenjar parotis merupakan kelenjar ludah terbesar yang terletak antara prossesus mastoideus dan ramus mandibula.

v Duktus kelenjar ini bermuara pada vestibulus oris pada lipatan antara mukosa pipi dan gusi dihadapan molar 2 atas.

v Kelenjar parotis dibungkus oleh jaringan ikat padat

v Mengandung sejumlah besar enzim antara lain amilase lisozim, fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase.

v Jaringan ikat masuk kedalam parenkim dan membagi organ menjadi beberapa lobus dan lobulus

v Secara morfologis kelenjar parotis merupakan kelenjar tubuloasinus (tubulo-alveolar) bercbang-cabang (compound tubulo alveolar gland)

v Asinus-asinus murni serus kebanyakan mempunyai bentuk agak memanjang dan kadang-kadang memperlihatkan percabangan-percabangan

v Antara sel-sel asinus membran basal terdapat sel-sel basket

v Saluran keluar utama ( duktus interlobaris) disebut duktus stenon (stenson) terdiri dari epitel berlapis semu.

v Kearah dalam organ duktus ini bercabang-cabang menjadi duktus interlobularis dengan sel-sel epitel berlapis silindris

v Duktus interlobularis tadi kemudian bercabang-cabang menjadi duktus intralobularis. Kebanyakan duktus intralobularis merupakan duktus Pfluger yang mempunyai epitel selapis silindris yang bersifat acidophil dan menunjukkan garis-garis basal

v Duktus Boll pada umumnya panjang-panjang dan menunjukkan percabangan

v Duktus Pfluger agak pendek

v Sel-selnya pipih dan memanjang

v Pada jaringan ikat interlobaris dan interlobularis terlihat banyak lemak yang berhubungan dengan “kumpulan lemak bichat” (Fat depat of bichat). Juga pada jaringan tersebut terlihat cabang-cabang dari Nervus Facialis dan pembuluh darah

· Kelenjar submandibularis (submaksilaris)

v Kelenjar ini terletak disebelah dalam korpus mandibula dan mempunyai duktus ekskretoris (Duktus Wharton) yang bermuara pada dasar rongga mulut pada frenulum lidah , dibelakang gigi seri bawah.

v Merupakan kelenjar yang memproduksi air liur terbanyak

v Seperti juga kelenjar parotis, kelenjar ini diliputi kapsel yang terdiri dari jaringan ikat padat yang juga masuk ke dalam organ dan membagi organ tersebut menjadi beberapa lobulus

v Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar tubuloalveolar / tubuloacinus bercabang-cabang (compound tubulo alveolar gland)

v Percabangan duktusnya sama dengan glandula parotis demikian pula sel-selnya

v Bentuk sinus kebanyakan memanjang

v Antara sel-sel asinus membran basal terdapat sel-sel basket

v Duktus Boll : pendek, sempit sehingga sukar dicari dalam preparat bila dibandingkan glandula parotis. Selnya pipih dan memanjang

v Duktus Pfluger : lebih panjang daripada duktus pfluger kelenjar parotis dan menunjukkan banyak percabangan sehingga dalam preparat lebih mudah dicari

· Kelenjar sublingualis

v Merupakan kelenjar terkecil dari kelenjar-kelenjar ludah besar

v Terletak pada dasar rongga mulut, dibawah mukosa dan mempunyai saluran keluar (duktus ekskretorius) yang disebut Duktus Rivinus

v Bermuara pada dasar rongga mulut dibelakang muara duktus Wharton pada frenulum lidah

v Glandula sublingualis tidak memiliki kapsel yang jelas tetapi memiliki septa-septa jaringan ikat yang jelas/tebal

v Secara morfologis kelenjar ini merupakan kelenjar tubuloalvioler bercabang-cabang (compound tubuloalveolar gland)

v Merupakan kelenjar tercampur dimana bagian besar asinusnya adalah mukus murni

v Duktus ekskretoris sama dengan glandula parotis

v Duktus Pfluger sangat pendek

v Duktus Boll sangat pendek dan bentuknya sudah tidak khas sehingga dalam preparat sukar ditemukan

v Pada jaringan ikat interlobularis tidak terdapat lemak sebagai glandula parotis

Kelenjar ludah besar sangat memegang peranan penting dalam proses mengolah makanan.

2. Kelenjar Ludah Tambahan / minor / kecil-kecil

Kebanyakan kelenjar ludah merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di dalam mukosa atau submukosa (hanya menyumbangkan 5% dari pengeluaran ludah dalam 24 jam) yang diberi nama lokasinya atau nama pakar yang menemukannya. Semua kelenjar ludah mengeluarkan sekretny
a kedalam rongga mulut.

v Kelenjar labial (glandula labialis) terdapat pada bibir atas dan bibir bawah dengan asinus-asinus seromukus

v Kelenjar bukal (glandula bukalis) terdapat pada mukosa pipi, dengan asinus-asinus seromukus

v Kelenjar Bladin-Nuhn ( Glandula lingualis anterior) terletak pada bagian bawah ujung lidah disebelah menyebelah garis, median, dengan asinus-asinus seromukus

v Kelenjar Von Ebner (Gustatory Gland = albuminous gland) terletak pada pangkal lidah, dnegan asinus-asinus murni serus

v Kelenjar Weber yang juga terdapat pada pangkal lidah dengan asinus-asinus mukus .

Kelenjar Von Ebner dan Weber disebut juga glandula lingualis posterior

v Kelenjar-kelenjar pada pallatum dengan asinus mukus .

Kelenjar ludah berfungsi untuk menghasilkan air liur yang berfungsi untuk :

· Membasahi makanan kering untuk membantu menelan

· Menyediakan media untuk dibubarkan dan ditunda bahan makanan yang secara kimia merangsang selera

· Buffering dari isi rongga mulut melalui konsentrasi tinggi dari ion bikarbonat

· Pencernaan karbohidrat oleh enzim alfa-amilase pencernaan

· Mengontrol bakteri flora karena kehadiran enzim lisozim antibakteri

· Sumber kalsium dan ion fosfat penting untuk pemeliharaan gigi normal

d. Esofagus (Kerongkongan)

Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut dengan lambung. Pada ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat daerah yang disebut faring. Pada faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang mengatur makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Fungsi esophagus adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjalan sepanjang esophagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung.

Gbr. Proses penelanan makanan

e. Lambung

Lambung adalah kelanjutan dari esophagus, berbentuk seperti kantung. Lambung dapat menampung makanan 1 liter hingga mencapai 2 liter. Dinding lambung disusun oleh otot-otot polos yang berfungsi menggerus makanan secara mekanik melalui kontraksi otot-otot tersebut.

Ada 3 jenis otot polos yang menyusun lambung yaitu otot memanjang, otot melingkar, dan otot menyerong. Selain pencernaan mekanik, pada lambung terjadi pencernaan kimiawi dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan lambung. Hasil penggerusan makanan di lambung secara mekanik dan kimiawi akan menjadikan makanan menjadi bubur yang disebut bubur kim.

Gbr. Lambung

f. Usus Halus

Usus halus merupakan kelanjutan dari lambung. Usushalus memiliki panjang sekitar 6-8 meter. Usus halusterbagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum (± 25 cm),jejunum (± 2,5 m), serta ileum (±3,6 m). Pada usushalus hanya terjadi pencernaan secara kimiawi saja,dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan olehusus halus serta senyawa kimia dari kelenjar pankreasyang dilepaskan ke usus halus.

PROSES PENCERNAAN MAKANAN

Pencernaan makanan secara kimiawi pada usus halus terjadi pada suasana basa.

Prosesnya sebagai berikut :

a. Makanan yang berasal dari lambung dan bersuasana asam akan dinetralkan oleh bikarbonat dari pankreas.

b. Makanan yang kini berada di usus halus kemudian dicerna sesuai kandungan zatnya. Makanan dari kelompok karbohidrat akan dicerna oleh amylase pankreas menjadi disakarida. Disakarida kemudian diuraikan oleh disakaridase menjadi monosakarida, yaitu glukosa. Glukaosa hasil pencernaan kemudian diserap usus halus, dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah.

c. Makanan dari kelompok protein setelah dilambung dicerna menjadi pepton, maka pepton akan diuraikan oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan erepsin menjadi asam amino. Asam amino kemudian diserap usus dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah.

d. Makanan dari kelompok lemak, pertama-tama akan dilarutkan (diemulsifikasi oleh cairan empedu yang dihasilkan hati menjadi butiran-butiran lema (droplet lemak). Droplet lema kemudian diuraikan oleh enzim lipase menjad asam lemak dan gliserol. Asam lemak dan gliserol kemudian diserap usus dan diedarkan menuju jantung oleh pembuluh limfe.

g. Usus Besar (Kolon)

Merupakan usus yang memiliki diameter lebih besar dari usus halus. Memiliki panjang 1,5 meter, dan berbentuk seperti huruf U terbalik. Usus besar dibagi menjadi 3 daerah, yaitu : Kolon asenden, Kolon Transversum, dan Kolon desenden.

Fungsi kolon adalah :

a. Menyerap air selama proses pencernaan.

b. Tempat dihasilkannya vitamin K, dan vitamin H (Biotin) sebagai hasil

simbiosis dengan bakteri usus, misalnya E.coli.

c. Membentuk massa feses

d. Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh.

Pengeluaran feses dari tubuh ddefekasi.

h. Rektum dan Anus

Merupakan lubang tempat pembuangan feses dari tubuh. Sebelum dibuang lewat

anus, feses ditampung terlebih dahulu pada bagian rectum. Apabila feses sudah siap

dibuang maka otot spinkter rectum mengatur pembukaan dan penutupan anus. Otot

FG20_27spinkter yang menyusun rektum ada 2, yaitu otot polos dan otot lurik.

i. Hati (hepar)

Hepar merupakan kelenjar terbesar pada tubuh yang berbentuk baji yang dibungkus oleh jaringan ikat (Glisson’s Capsule) dari kapsula tersebut membentuk septa septa sehingga membagi hati menjadi lobules lobules, Sel sel hati atau hepatoksit merupakan sruktural utama hati.Hepaktoksit berwarna oesinofilik karena kandungan mitokondrianya yang banyak. Berat Hepar sekitar 1500 gram (1200-1600 gram dan menerima darah 1500 ml permenit). Hepar terletak di rongga abdomen di bawah diafragma. Kandungan darah dalam jaringan ini sekitar 70% yang berasal dari vena porta. Fungsi hepar diantara lain dapat memproduksi dan sekresi empedu, yang berperan dalam metabolisme karbohidrat, sintesis lemak dan protein, serta berperan dalam filtrasi darah, mengeliminasi bakteri dan benda asing yang masuk peredaran darah dari saluran pencernaan, dektofsifikasi zat zat beracun , tempat deaminasi urea dan penyimpanan sekunder dari vitamin dan hormon penghasil empedu yang kemudian disalurkan ke kantung empedu. Hepar merupakan satu-satunya organ yang bisa meregenerasi sendiri, jika salah satu bagian diangkat maka sisanya dapat tumbuh kembali besar dan bentuk semula. Hepar mempunyai dua facies (permukaan) yaitu ;

1. Facies diaphragmatika

2. Facies visceralis (inferior)

1. Facies diaphragmatica

Facies diaphragmatica berbentuk konveks, menempel dipermukaan bawah diaphragma dan dibagi lagi menjadi facies anterior, superior, posterior dan dekstra yang batasan satu sama lainnya tidak jelas, kecuali dimana margo inferior yang tajam terbentuk. Facies visceralis agak datar dan melandai kebawah, kedepan dan ke sebelah kanan dari facies posterior tanpa batas yang jelas. Perbatasan facies anterior dan viseral membentuk margo inferior yang tajam, menyusuri lengkung arkus aortae melintasi epigastrium. Umumnya pembuluh darah besar dan duktus masuk keluar porta hepatis yang terletak di facies visceralis, kecuali v. hepatika yang muncul dari facies posterior. Dari facies diaphragmatica dan visceralis, lipatan peritoneum menyeberang berturut-turut ke diaphragma lalu turun ke lambung, hal ini menetap dari mesogastrium ventralis dimana bakal hepar berasal dan berkembang.Sebagian besar facies diaphragma terbungkus oleh peritoneum. Facies anterior dilihat dari depan berbentuk segitiga serta berhubunga dengan diaphragma, paru-paru dan pleura kanan dengan batas :

Superior : diaphragma

Inferior : kartilago kosta ke 6-10 pada sisi kanan dan 6-7 pada sisi kiri.Sebagian facies ini berada dibelakang angulus kosta dan ditutupi oleh dinding abdomen anterior daerah epigastrium.
Facies superior berbatasan dengan diaphragma bawah jantung dan perikardium pada bagian tengahnya dan bawah pleura dan paru pada sisi-sisinya. Pada lengkung anterior, ligamentum falsiformis terikat pada hepar bagian tengah menuju pada titik dimana ligamentum teres terletak di tepi bebasnya. Titik ini terdapat di sebelah kiri fundus vesika felea. Perlekatan di bagian atas ligamentum falsiformis berjalan kekiri sepanjang permukaan superior sebagai ligamentum triangularis. Lembar ligamentum falsiformis yang kanan berjalan didepan vena kava inferior, dan akan menjadi lapisan atas ligamentum koronarius yang tidak akan terlihat dari depan.
Facies dekstra meluas dari iga ke -7 ke iga ke-11 dengan struktur sebagai berikut

– Sepertiga bawah berbatasan dengan iga dan diaphragma
– Sepertiga tengah dengan iga, pleura dan diaphragma
– Sepertiga atas dengan iga, pleura dan diaphragma.

Facies posterior merupakan kelanjutan permukaan konveksitas superior dan dekstra, yang berlanjut kebawah menjadi facies viseralis
atau facies inferior. Struktur yang terdapat pada permukaan ini adalah area nuda, impresio supra renal kanan, alur v. kava inferior, lobus caudatus dan prosesus kaudatus, fisura lig. Venosum, impresio esophagus dan bagian atas gaster, serta tuber omentalis pankreas.

2. Facies Viseralis

Gambaran utamanya adalah struktur-struktur yang tersusun membentuk huruf H.
Pada bagian tengahnya terletak porta hepatis (hilus hepar). Sebelah kanannya terdapat v. kava inferior dan vesika fellea. Sebelah kiri porta hepatis terbentuk dari kelanjutan fissura untuk ligamentum venosum dan ligamentum teres. Vena kava terletak dalam sulkus yang dalam atau kadang-kadang dalam canalis pada bagian cembung facies superior. Di bagian v. kava terdapat area nuda yang berbentuk segitiga dengan v. kava sebagai dasarnya dan sisi-sisinya terbentuk oleh lig. Koronarius bagian atas dan bawah. Puncak segitiga ini (pertemuan lapisan atas dan bawah lig. Koronarium), membentuk lig. Triangularis dekstra. Lapisan bawah ligamentum koronarius terdapat pada batas tumpul antara permukaan difragmatika dan viseral. Disini sebuah llapisan peritoneum menyelimuti kebawah diatas hepatorenal pouch dan ruang paracollic gutter kanan. Bila diikuti terus kekiri perlekatan, lapisan bawah lig. Koronarius akan bertemu dengan lig. Falsiformis. Pertemuan ini ke posterior melalui celah membentuk lig. Venosum. Ligamen-ligamen tersebut membatasi lobus kaudatus hepar. Lobus kaudatus hepar merupakan bagian yang berada pada bursa omentum. Lobus ini melalui diaphragma di sebelah depan aorta thoracalis, disebelah kiri v. kava inferior dan sebelah kanan esophagus.

Porta hepatis adalah hilus hepar dan dilengkapi oleh kedua lapisan omentum minus yang pada sebelah kirinya terikat dengan ligamentum venosum. Porta ini ditempati oleh duktus hepatika dekstra dan sinistra, a. hepatika dekstra dan sinistra serta v. porta. Susunannya dari belakang ke depan adalah vena-arteri-duktus.

Duktus cystikus terletak pada sebelah kanan porta hepatis dan pada tempat ini terdapat beberapa nodus limftikus. Nodus limfatikus ini bersama saraf menempel diantara tepi bebas omentum minus. Di sebelah kanan porta terdapat vesika fellea yang terletak dalam fossa. Leher vesika ini terletak dalam tempat yang lebih tinggi dari fundusnya. Struktur yang ada pada permukaan viseral adalah: porta hepatis, omentum minus yang berlanjut hingga fissura lig. Venosum, impresio ginjal kanan dan glandula supra renal, bagian kedua duodenum, fleksura kolli dekstra, vesika fellea, lobus kuadratus, fissura ligamentum teres dan impresio gaster.

Stabilitas Hepar

Hepar dipertahankan pada tempatnya oleh :

Vena hepatica dan vena cava inferior. Seluruh vena hepatica terletak intra hepatika terletak intra hepatik dan masuk kedalam vena cava inferior ketika melewati sulkus di facies posterior hepar.

Perlekatan lig. Triangularis kiri dan lig. Teres.
3. Organ visera dibawahnya (gaster dan fleksura hepatika kolon).
Hepar dihubungkan dengan dinding abdomen dan diaphragma oleh 5 ligamen yaitu :
Lig. Falsiformis
Lig. Koronarius
Lig. Triangularis kanan dan kiri
Lig. Fibrosa (terbentuk dari embriogenik vena umbilikalis)

Proyeksi Permukaan Hepar

Hepar diproyeksikan pada dinding anterior abdomen setinggi xiphisternum. Batas superior kiri adalah sic V, 7-8 cm dari linea med
iana dan kekana pada sic V melengkung ke bawah membentuk batas kanan , dari iga 7 hingga 11 pada linea midaksilaris.


Lobus Lobus Hepar

Lobus-lobus hepar adalah lobus sinistra, kaudatus, kuadratus dan dekstra. Secara anatomis, pada sisi anterosuperior oleh lig. Falsiformis dibagi menjadi lobus dekstra dan sinistra. Pada sisi posterior, lobus kaudatus terletak diantara v . cava inferior dan fissura lig. Venosum . Lobus ini memiliki prosessus kaudatus ( berupa ismus jaringan hepar ) yang menghubungkannya dengan lobus dekstra. Lobus kuadratus terletak antara fossa vesika fellea dan fissura lig. Teres.
Secara fungsional, lobus kaudatus dan lobus kuadratus termasuk lobus sinistra karena pendarahannya berasal dari cabang – cabang a. hepatika sinistra dan v. porta serta menyalurkan empedu ke duktus hepatikus sinistra.


Segmen Segmen Hepar

Berdasarkan pendarahannya dan drainase empedu, hepar dibagi lagi menjadi kiri medial, kiri lateral, kanan anterior dan kanan posterior. Bagian kanan dan kiri dipisahakan oleh v. kava inferior dan fossa vesika fellea pada facies posterior dan oleh sisi kanan lig. Falsimorfis pada permukaan anterior.

Segmen kiri lateral adalah lobus sinistra dengan segmen kiri medial adalah lobus kaudatus dan sebagian besar kuadratus dengan fisura lig. Venosum dan lig. Teres membatasi lobus satu dengan yang lainnya.

Batas kanan anterior dan kanan posterior merupakan garis yang berjalan oblik dari permukaan anterior lobus dekstra ke sulkus v. kava. Berdasarkan perdarahan dan drainase empedu, hepar dibagi menjadi kiri medial, kiri lateral, kanan anterior dan kanan posterior. Bagian kanan dan kiri dipisahkan lagi oleh v. kava inferior da fossa vesika fellea pada facies posterior dan oleh sisi kanan lig. Falsiformis pada permukaan anterior. Segmen kiri lateral adalah lobus sinistra dengan segmen kiri medial adalah lobus kaudatus dan sebagian besar kuadratus dengan fisura lig. Venosum dan lig. Teres membatasi lobus satu dengan yang lainnya. Batas kanan anterior dan kanan posterior merupakan garis yang berjalan oblik dari permukaan anterior lobus dekstra ke sulkus v. kava.


Perdarahan

Aliran darah dari seluruh traktus gastrointestinal dibawa menuju ke hepar oleh v. porta hepatis. Cabang dari vena ini berjalan diantara lobulus dan berakhir di sinusoid. Oksigenasi darah disuplai oleh arteri hepatica. Darah meninggalkan hepar melalui v. sentralis dari setiap lobulus yang mengalir melalui v. hepatica.

Vena hepatika,

Satu dari beberapa vena pendek yang berasal dari lobus hepar sebagai cabang kecil. Vena ini mengarah langsung menuju v. kava inferior, mengalirkan darah dari hepar.

Vena cava inferior

Terbentuk dari bersatunya v. iliaka komunis kanan dan kiri, mengumpulkan darah dari bagian tubuh dibawah diaphragma dan mengalir menuju atrium kanan jantung
Arteri hepatica

Arteri ini merupakan cabang dari truncus coeliacus (berasal dari aorta abdminalis) dan mensuplai 20 % darah hepar.

Vena porta hepatis

Pembuluh darah yang mengalirkan darah yang berasal dari seluruh traktus gastrointestinal. Pembuluh ini mensuplai 80 % darah hepar.

Hepar menerima darah dari dua sumber : arterial dan vena. Perdarahan arterial dilakukan oleh a. hepatika yang bercabang menjadi kiri dan kanan dalam porta hepatis (berbentuk Y). Cabang kanan melintas di posterior duktus hepatis dan dihepar menjadi segmen anterior dan posterior. Cabang kiri menjadi medial dan lateral. Kadang-kadang a. hepatika komunis muncul dari a. mesenterika superior atau a. gastrika sinistra disebut a. hepatika abberans. Mereka ini dapat menggantikan cabang-cabang normal atau merupakan tambahan. Yang paling umum dijumpai adalah a. hepatika sinistra dari a. gastrika sinistra

Darah vena dibawa ke hepar oleh v. porta yang didalam porta hepatis terbagi menjadi cabang kanan dan kiri. Vena ini mengandung darah yang berisi produk-produk digestif dan dimetabolisme oleh sel hepar. Hepar sebelah kiri dan kanan tidak mempunyai hubungan arterial. Jika terpaksa dilakukan ligasi pada salah satu cabang a. hepar, maka suplai darah dialkukan oleh anastomosis afienicus yang cukup memberikan kolateralisasi. Dari v. porta darah memasuki sinusoid-sinusoid hati lalu menuju ke lobulus-lobulus hepar untuk mencapai sentralnya. Darah arteri dan vena bergabung dalam sinusoid dan masuk kedalam vena sentral dan berakhir pada v. hepatika. Terdapat tiga vena utama yaitu: medial (terbesar), dekstra dan sinistra.


Drainase limfatik

FG20_19 Aliran limfatik hepar menuju nodus yang terletak pada porta hepatis (nodus hepatika). Jumlahnya sebanyak 3-4 buah. Nodi ini juga menerima aliran limfe dari vesika fellea. Dari nodus hepatika, limpe dialirkan (sesuai perjalanan arteri) ke nodus retropylorika dan nodus seliakus. Pada kasus karsinoma pylorus dapat terjadi metastasis retrograd ke nodus hepatika. Area nuda hepar berhubungan dengan nodus limfatius ekstra peritoneal yang mengalir ke mediastinum.

Gbr. Hati

A. Kelenjar Pankreas

<!–[if gte vml 1]>

Gambar  SEQ Gambar * ARABIC 2. Pankreas

<![endif]–>Text Box: Gambar 2. PankreasPankreas merupakan kelenjar majemuk yang terdiri dari jaringan eksokrin dan endokrin. Kerja jaringan eksokrin pada pankreas berada pada kelenjar acier yang bercabang majemuk dan melibatkan sintesis dan sekresi cairan pankreas. Sedangkan kerja jaringan endokrin berada dalam pulau-pulau seluler (pulau Langerhans) yang berbentuk bulat terbenam yang tersebar dalam jaringan eksorin pangkreas yang tertanam antara unit eksokrin pankreas. Tiap pulau terdiri atassel sel polygonal atau built yang dipisahkan oleh jala jala kapiler darah yang menyerupai sinusoid.Jumlah pulau pulai Langerhans ini sekitar 1,5% dari volume total pancreas. Sel-sel beta dari pulau-pulau Langerhans mensekresikan insulin, yang membantu mengendalikan metabolisme karbohidrat, dengan proses memasukan glukosa dan ion kalsum Proinsulin kemudian melepaskan insulin beta glanula lalu melekatkan granula pada mikrotubulus eksositosis. Sel alpha dari pulau Langerhans mensekresikan glukagon yang counter aksi insulin dengan proses antaralain, peptida rantai tunggal, mw 3450 (29 aa), terminalnya membentuk konfirmasi helix yang penting untuk pengikatan glukagon terhadap membran reseptor kemudian disimpan dalam bentuk konfirmasi helix lalu disintesis dalam bentuk proglukagon dan jadilah glucagon.

• Prinsip kerja : manaikkan glukosa darah.

Pada manusia, pankreas adalah organ kekuningan sekitar 7 inci (17,8 cm) panjang dan 1,5 inci. (3,8 cm) lebar. Bagian luar pancreas di selubungi oleh kapsula, yang membentuk percabangan menembus ke dalam kelenjar, sehingga kelenjar ini terbagi mnjadi lobuli pancreas. Pada bagian apacial terdapat granula zimogen yang merupakan proenzim dari beberapa enzim antara lain tripsinogen, pepsinogen, amylase, lipase dan lalin lain. Granula zimogen tersebut disekresikan karena rangsangan horman sekretin dan CCK yang berasal dari dinding duodenum . Proenzim tersebut kemudian di tamping dalam pembuluh interkalar dan berlanjut interbular, kemudian menuju lumenduodenum melaui duktus pankreatikus (salutran Wirsung). Pankreas menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti:

  • insulin yang dihasilkan sel beta
  • GHS yang dihasilkan sel epsilon.
  • GHIH yang dihasilkan sel delta

Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). Beberapa fungsi dari pankreas adalah :

  • Mengatur kadar gula dalam darah melalui pengeluaran glucagon, yang menambah kadar gula dalam darah dengan mempercepat tingkat pelepasan dari hati.
  • Pengurangan kadar gula dalam darah dengan mengeluarkan insulin yang mana mempercepat aliran glukosa ke dalam sel pada tubuh, terutama otot. Insulin juga merangsang hati untuk merubah glukosa menjadi glikogen dan menyimpannya di dalam sel-selnya.

D. Pencernaan Makanan Pada Reptil

Pencernaan_reptil.jpgSystem pencernaan pada reptile terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Reptile pada umumnya terdiri atas saluran pencernaan dan kelnejar pencernaan. Pada umumnya reptile adalah karnivora (pemakan daging). Saluran pencernaannya terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar pencernaannya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan hati.

1. Rongga Mulut. Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah. Pada masing-masing rahang terdapat gigi-gigi yang berbentuk kerucut. Gigi menempel pada gusi dan sedikit melengkung kea rah rongga mulut. Dan khusus pada ular berbisa akan tumbuh gigi yang dapat menghasilkan racun yang terdapat pada rongga mulut. Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali pergantian. Pada umumnya reptil tidak mengunyah makanannya jadi g
iginya berfungsi sebagai penangkap mangsa.
Pada rongga mulut terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua. Pada reptilian pemakan insekta memiliki lidah yang dapat dijulurkan, sedangkan pada buaya dan kura-kura lidahnya relative kecil dan tidak dapat dijulurkan. Lidah ular berbentuk pembuluh yang terbungkus oleh selaput dan terletak di bagian rahang bawah. Memiliki kelenjar mukoid yang sekretnya berfungsi agar rongga mulut tetap basah dan dapat dengan mudah menelan mangsanya.Pada ular Kelenjar labia bermodifikasi menjadi kelenjar poison yang bermuara di kantung yang terletak di daerah gigi taring dan dikeluarkan melalui gigi tersebut.

2. Kerongkongan (esophagus) merupakan saluran di belakang rongga mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak terjadi proses pencernaan

3. Lambung (ventrikulus) merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus. Disini makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagian fundus pylorus makanan dicerna secara mekanik dan kimia.

4. Intestinum terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk dibuang. Ukuran usus disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

5. Kelenjar pencernaan, terdiri atas hati dan pancreas. Empedu yang dihasilkan oleh hati ditampung di dalam kantong yang disebut vesica fellea. Hati tediri dari dua lobus yaitu sinister dan dexter yang berwarna coklat kemerahan. Kantong empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati. Pancreas pada reptile terletak diantara lambung dan duodenum. Pancreas berbentuk pipih dan berwarna kekuning-kuningan.

E. Sistem Pencernaan Pada Hewan Invertebrata

Hewan Invertebrata

Hewan Invertebrata adalah yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan invertebrata.

Sistem pencernaan pada hewan invertebrata umumnya dilakukan secara intrasel,

seperti pada protozoa, porifera, dan Coelenterata. Pencernaan dilakukan dalam alat khusus berupa vakuola makanan, sel koanosit dan

rongga gastrovaskuler.

a. Platyhelminthes

Mempunyai organ sederhana dan system gastrovaskuleryaitu hanya satu muara keluar yang berfungsi baik sebagi mulut maupun anus.

Contoh: Planaria

Sistem pencernaannya: mangsa ditangkap oleh farink dengan cara ditonjolkan keluar dan setelah mangsanya ditangkap segera ditarik masuk ke dalam rongga mulut bersama-sam mangsanya. Sel-sel tertentu pada ephitelium usus dapat membentuk pseudopodia dan mencerna mangsanya kemudian membentuk vakuola makanan dan tejadi pencernaan. Sari-sari makanan diabsorpsi dan secara difusi masuk ke dalam jaringan-jaringan tubuh. Sisa-sisa yang tidak dapat dicerna dikeluarkan melalui lubang mulut

b. Nemathelminthes

Contoh
: cacing gilig (Ascaris lumbricoides)

Alat pencernaan berupa:

– Mulut yang sangat kecil dan kadang tidak jelas

– Pharynk yang merupakan bagian anterior tractus digestivus dan bagian ujung posteriornya membesar

– Intestinum, yang merupakan saluran yang sederhna, terletk bebas dalam pseudocela dan bermuara keluar melalui lubang pelepasan yang identik dengan procoeum

Proses pencernaan

Sedikit, jika ada, pencernaan intracellular terjadi. Detail dari proses pencernaan tidak diketahui baik. Ungkapan Microvilli thickly permukaan dalam usus Ascaris, dan tonjolan secretory dapat terlihat pada phillum carnivorous, didiskusikan lebih jauh. Beberapa nematoda adalah tumbuhan parasit dan lainnya phytophagus. Proses makan pada Ascaris biasanya sangat cepat, dan material tertahan pada usus selama beberapa menit. Tidak mungkin pencernaan terjadi pada sistem pencernaan sendiri, dan terlihat jelas bahwa sejumlah besar makanan yang tidak tercerna tidak terserap. Makanan tersimpan dalam dinding usus.

c. Annelida

Contoh: cacing Tanah (Lumbriscus terretris)

Makanan cacing tanah terdiri dari sisa-sisa hewan dan tanaman yang diambil mellui mulutnya. Makanan di dalam esophagus tercampur dari cairan hasil sekresi kelenjar kapur yang terdapat pada dinding esophagus. Dari esophagus makanan masuk ke dalam proventriculus yang merupakan tempat penyimpanan makanan sementara, kemudian masuk ke dalam ventrikulus dan dicerna menjadi partikel-partiklel halus dan selanjutnya masuk ke instetinum

d. Arthropoda

Contoh: Udang

Proses pencernaannya

Makanannya berupa bangkai atau tumbuhan dan hewan lain. Namun ada juga yang bersifat parasit pada organisme lain. Alat pencernaannya terdiri atas tiga bagian, yaitu :

a. Tembolok

b. Lambung otot

c. Lambung kelenjar

Di dalam perut Arthropoda terdapat gigi-gigi kalsium yang teratur berderet secara longitudinal. Selain gigi kalsium ini terdapat pula batu-batu kalsium gastrolik yang berfungsi mengeraskan eksoskeleton (rangka luar) setelah terjadi eksdisis (penegelupasan kulit). Urutan pencernaan makanannya dimulai dari mulut, kerongkongan (esofagus), lambung (ventrikulus), usus dan anus. Hati (hepar) terletak di dekat lambung. Sisa-sisa metabolisme tubuh diekskresikan lewat kelenjar hijau.

e. Moluscca

Contoh: siput darat

Alat pencernaannya meliputi:

Rongga mulut, esophagus, inguives, ventrikulus, intestinum, rectum dan anus. Makanan masuk mellaui mulut diatur oleh radula (sejenis lidah). Dari rongga mulut masuk ke esophagus yang sempit kemudian melebar disebut ingluives yang menghasilkan lendir berair yang berisi enzim-enzim diastase yang menguraikan hidrit arang. Glandula digestoria terdiri dari kumpulan tubuli yang bercabang-cabang dan berakhir buntu pada germbn sel-sel yaitu:

– Sel-sel yang menghasilkan enzim untuk pencernaan ekstraseluler

– Sel-sel yang menyerap partikel-partikel makanan dan mencerna intraseluler, juga menyerap hasil-hasil Pencernaan di luar sel

– Sel-sel yang menghasilkan kalsium karbonat, lanjutan ventikulus ialah intestinum yang berkelok-kelok dan berakhir pada rectum yang bermuara keluar melalui anus

f. Echinodermata

Contoh: asterias sp

Proses pencernaannya:

Makanan masuk melalui mulut yang berbentuk pentagonal yang disebut ctinostoma, kemudian tractus digestivus terdiri atas periostma, esophagus, ventrikulus, intestinum dan berakhir di anus. Esophagus berbentuk pipa pendek

g. Protozoa

contoh : amoeba

merupakan hewan bersel satu segala aktivitas hidupnya terjadi di dalam sel itu sendiri. Demikian juga pencernaan makanan terjadi di dalam sel, disebut pencernaan indra sel.

Proses Pencernaannya:

Pada waktu amoeba mendapatkan makanan segera amoeba membentuk kaki semu yang mengarah kepada makanan selanjutnya dikelilingi kaki semu kemudian makanan tersebut dibawa ke protoplasma. Dalam protoplasma yang mengandung makanan yang menghasilkan enzim pencernaan. Dalam rongga makanan tersebut terjadi pencernaan makanan. Makanan yang telah dicerna yang berupa sari makanan diserap dari sisa-sisa makanan dan dikeluarkan dari dalam tubuh.

h. Coelenterate

Contoh : Hydra (Hydra Oligactis)

Proses pencernaan :

Pada sebagian besar Coelenterata, makanan ditangkap dengan tentacle, sengatan dengan cnidocyte, kemudian dipindahkan ke mulut dan rongga gastrovascular dalam awal pencernaan extracellular. Ini diikuti dengan pencernaan intracellular sebagai molekul dan partikel makanan disalurkan oleh arus ciliary pada rongga gastrovascular kemudian pembelahan dalam dengan sel-sel gastrodermal. Makanan yang tidak tercerna terexocytos ke rongga gastrovascularkemudian dibuang melalui mulut, yang juga merupakan anus. Pembentukan kembali deretan cnidocyte pada tentacle.

i. Phorifera

Contoh : Sponges (Scypha)

Sistem pencernaan :

Pencernaan terjadi pada vakuola makanan dan makanan diserap di membran vakuola, seperti pada protozoa. Namun, dalam sebagian besar spons sel-sel yang menelan makanan tidak mencernanya. Choanocytes mengambil makanan di tapi menyebarkannya langsung amoebocytes untuk pencernaan. Kemampuan untuk melewatkan makanan dari sel ke sel yang tidak unik dalam spons, namun luar biasa penting di dalam fisiologi mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *