Tulang

Secara umum tulang manusia dikelompokkan menjadi dua, yaitu tulang-tulang aksial (sumbu tubuh) dan tulang-tulang apendikular. Tulang-tulang aksial terdiri atas cranium (tengkorak), columna vertebral (ruas-ruas tulang belakang), costae (iga) dan sternum (tulang dada). (Persaud, 2003).

Susunan rangka berkembang dari lapisan benih mesoderm yang nampak selama perkembangan minggu ketiga. Ia membentuk suatu rangkaian kelompok jaringan mesodermal, yaitu somit, di setiap sisi tabung saraf. Segera setelah pembentukannya, setiap somit berdiferensiasi menjadi suatu bagian ventromedial yaitu sklerotom dan suatu bagian dorsolateral yaitu dermomiotom. Pada akhir minggu keempat, sel sklerotom menjadi polimorf dan membentuk jaringan-jaringan yang dikenal sebagai mesenkim atau jaringan penyambung mudigah. Sangatlah khas bagi sel mesenkim untuk berpindah dan berdiferensiasi melalui berbagai cara yang berlainan. Sel-sel mesenkim ini dapat menjadi fibroblast, kondroblast atau osteoblast.

Kemampuan mesenkim untuk membentuk tulang tidak terbatas dari sel sklerotom saja, tetapi terjadi juga pada lapisan mesoderm somatic dinding tubuh dimana costae terbentuk. Telah diperlihatkan juga bahwa sel-sel krista neuralis di daerah kepala berdiferensiasi menjadi mesenkim dan turut mengambil bagian pada pembentukan tulang-tulang muka. Pada beberapa tulang, seperti tulang pipih tengkorak, mesenkim secara langsung berdiferensiasi menjadi tulang, suatu proses yang dikenal sebagai pertulangan membranosa (membranous ossification). Akan tetapi, pada sebagian besar tulang, sel mesenkim pertama-tama membentuk model tulang rawan hialin, yang kemudian mengalami penulangan endokondral. (Sadler, 1993).

Tulang merupakan komponen utama dalam rangka tubuh yang dari sudut pandang teknologi merupakan penggabungan ketegaran dan kekuatan dengan berat terkecil yang memberi ciri yang unik. Sifatnya keras dan kaku, tulang mempunyai sifat elastis tertentu; ada tiga sifat yang bersama-sama membuat tulang sangat cocok dengan fungsinya sebagai rangka. Tulang membantu rangka tubuh dengan kekuatan yang penting untuk fungsinya sebagai tempat perlekatan dan pengungkit otot dan tegar serta menyokong tubuh melawan gravitasi. Rangka tubuh mempunyai fungsi pelindung penting, sebab melindungi otak dan medula spinalis, dan mengelilingi sebagian organ-organ pelvis dan toraks sebagai baju pelindung (Geneser, 1993).

Unsur- unsur jaringan penyambung yang sebenarnya yang ada terdiri atas sel-sel dan serat-serat yang tertanam dalam bahan dasar pekat dan cairan jaringan. Dalam jaringan-jaringan penunjang seperti tulang rawan dan tulang, sifat matriksnya bervariasi. Dalam tulang rawan bahan dasarnya setengah rapuh dan mengandung suatu kompleks protein-karbohidrat yang dikenal sebagai kondromukoid (Bevalender, 1988).

Tulang atau jaringan osteosa adalah sejenis jaringan ikat kaku yang menyusun sebagian besar kerangka dewasa. Matriksnya mengandung unsur anorganik, terutama kalsium fosfat, yang merupakan kurang lebih dua per tiga berat tulang. Secara makroskopik, tulang terbentuk spongiosa atau kompak (Lesson et al., 1990).

Tulang dapat dibentuk dengan dua cara, yaitu melalui mineralisasi langsung pada matriks yang disekresi oleh osteobla (osifikasi intra membranosa) atau melalui penimbunan matriks tulang pada matriks tulang rawan sebelumnya (osifikasi endokondral). Pada kedua proses tersebut, jaringan tulang yang pertama kali dibentuk adalah primer atau muda. Tulang primer adalah jaringan yang bersifat sementara dan tidak lama kemudian diganti oleh jenis tulang berlamel yang tetap, yang kemudian disebut tulang sekunder (Junqueira, 1995).

Tulang sebagai unsur utama kerangka tubuh, menyokong struktur berdaging, melindungi organ-organ vital, mengandung sumsum tulang. Berbeda dengan matriks rawan, matriks tulang keras karena mengalami kalsifikasi. Tulang juga terdiri dari elemen seluler dan interseluler.

a) Elemen seluler terdiri dari :

Osteoblast

Osteoblast mensintesis komponen organik metriks tulang (kolagen dan glikoprotein). Matriks yang baru dibentuk belum mengalami kalsifikasi dan terletak di dekat osteoblast. Sel-sel osteoblast terletak di permukaan jaringan tulang secara berdampingan. Osteoblast juga mempunyai mempunyai prosesus sitoplasmik yang memungkinkan berhubungan dengan osteoblast di sekelilingnya. Bila telah berada di dalam matriks yang baru disintesis, osteoblast tersebut dikenal sebagai osteosit.

Osteosit

Osteosit adalah sel matur yang ditemukan terbungkus di dalam lapisan-lapisan matriks tulang yang telah mengalami mineralisasi. Berbeda dengan sel rawan yang tidak pernah mempunyai uluran sitoplasma, maka pada sel-sel tulang mempunyai uluran sitoplasma yang berhubungan satu sama lain. Dalam matriks tulang, osteosit terdapat dalam rongga-rongga lakuna, sedangkan ulur
an sitoplasma terdapat dalam saluran-saluran halus yang disebut kanalikuli.

Osteoclast

Mempunyai fungsi merubah tulang yang sudah jadi. Selnya besar oleh karena itu sering disebut “giant cell”, berinti banyak (3 – 6 buah), imotil (dapat bergerak) dan sangat bercabang-cabang. Osteoblast berasal dari sel osteoprogenitor. Sitoplasma bersifat asidofilik, mempunyai banyak lisosom dan sebagai akibatnya memberikan reaksi histokimia positif untuk fosfatase asam. Peranan pasti osteoblast dalam reasorbsi tulang belum jelas. Mereka mensekresikan kolagenase dan enzim proteolitik lain yang menyerang metriks tulang dan melepaskan zat dasar yang mengalami kalsifikasi.

b) Matriks tulang (substansi interseluler)

Bahan organik sekitar 50 % berat kering tulang. Kalsium dan fosfor sangat banyak, tetapi bikarbonat, sitrat, magnesium, kalium dan natrium juga ditemukan. Bahan organik terdiri dari serabut kolagen dan zat dasar amorf yang mengandung glikosaminoglikans.

Gambar 3.11. Struktur tulang

Secara histologis ada 2 macam jaringan tulang, yaitu : 1) tulang immatur, primer atau woven dan 2) tulang matur, sekunder atau lamelar.

a. Jaringan tulang primer / immatur

Jaringan tulang primer bersifat :

temporer, pada orang dewasa digantikan oleh jaringan tulang sekunder

susunan serabut kolagennya tidak teratur

kandungan mineralnya sedikit

persentase osteositnya lebih tinggi bila dibandingkan dengan jaringan tulang sekunder

b. Jaringan tulang sekunder / matur

Biasa ditemukan pada orang dewasa. Jaringan tulang sekunder bersifat:

serabut-serabut kolagen tersusun dalam lamela-lamela 3 – 7 μm yan
g sejajar satu sama lain

atau tersusun secara konsentris di sekitar saluran vaskuler.

Berdasarkan bentuk, tulang rangka dibagi dalam tiga bentuk utama, yaitu tulang pipa, tulang pendek, dan tulang pipih. Setiap tulang tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Tulang pipa

Tulang pipa adalah tulang yang memiliki bentuk seperti pipa. Mengapa disebut tulang pipa?
Karena tulang ini memiliki bentuk utama seperti tabung dan berongga. Rongga pada tulang pipa berisi sumsum kuning. Sumsum kuning ini banyak mengandung lemak. Sumsum kuning dapat berfungsi sebagai cadangan makanan. Pada ujung-ujung tulang pipa yang mengembung, di dalamnya terdapat rongga-rongga kecil yang berisi sumsum merah.
Sumsum merah ini berfungsi sebagai pembentuk sel-sel darah.

http://3.bp.blogspot.com/_qi9P6IsGvaE/SqE8NmUtG-I/AAAAAAAAAIE/8_5w2gE-wFM/s320/ss.JPG
Gambar Tulang Pipa

Tulang Pendek


Mengapa disebut tulang pendek? Tulang ini memiliki ukuran tulang yang pendek. Di dalamnya hanya terdapat rongga-rongga kecil berisi sumsum merah. Tulang-tulang yang termasuk tulang pendek antara lain tulang belakang, tulang pergelangan tangan, dan tulang pergelangan kaki.
Tulang ini berbentuk pipih. Sama halnya dengan tulang pendek, tulang pipih berfungsi sebagatempat pembentukan sel-sel darah. Hal ini disebabkan dalam tulang pipih terdapat rongga-rongga kecil yang berisi sumsum merah. Tulang yang termasuk ke dalam tulang pipih, antara lain tulang rusuk, tulang dada, dan tulang tengkorak kepala.

http://2.bp.blogspot.com/_qi9P6IsGvaE/SqE8NMGeN2I/AAAAAAAAAH8/0rks62-uIRU/s320/dd.JPG
Gambar Tulang Pendek

Tulang Pipih

Tulang ini berbentuk pipih. Sama halnya dengan tulang pendek, tulang pipih berfungsi sebagai tempat pembentukan sel-sel darah. Hal ini disebabkan dalam tulang pipih terdapat rongga-rongga kecil yang berisi sumsum merah. Tulang yang termasuk ke dalam tulang pipih, antara lain tulang rusuk, tulang dada, dan tulang tengkorak kepala.

http://2.bp.blogspot.com/_qi9P6IsGvaE/SqE8M3EX4cI/AAAAAAAAAH0/8J3Z1yazghA/s320/cc.JPG
Gambar Tulang Pipih

2.2 Rangka Vertebrae

Tulang vertebrae terdri dari 33 tulang: 7 buah tulang servikal, 12 buah tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral. Tulang servikal, torakal dan lumbal masih tetap dibedakan sampai usia berapapun, tetapi tulang sacral dan koksigeus satu sama lain menyatu membentuk dua tulang yaitu tulang sakrum dan koksigeus. Diskus intervertebrale merupkan penghubung antara dua korpus vertebrae. Sistem otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas vertebrae. (CAILLIET 1981).

Fungsi kolumna vertebralis adalah menopang tubuh manusia dalam posisi tegak, yang secara mekanik sebenarnya melawan pengaruh gaya gravitasi agar tubuh secara seimbang tetap tegak. (CAILLIET 1981).

Vertebra servikal, torakal, lumbal bila diperhatikan satu dengan yang lainnya ada perbedaan dalam ukuran dan bentuk, tetapi bila ditinjau lebih lanjut tulang tersebut mempunyai bentuk yang sama. Korpus vertebrae merupakan struktur yang terbesar karena mengingat fungsinya sebagai penyangga berat badan. Prosesus transverses terletak pada ke dua sisi korpus vertebra, merupakan tempat melekatnya otot-otot punggung. Sedikit ke arah atas dan bawah dari prosesus transverses terdapat fasies artikularis vertebrae dengan ve
rtebrae yang lainnya. Arah permukaan facet joint mencegah/membatasi gerakan yang berlawanan arah dengan permukaan facet joint. Pada daerah lumbal facet letak pada bidang vertical sagital memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi ke arah anterior dan posterior. Pada sikap lordosis lumbalis (hiperekstensi lubal) kedua facet saling mendekat sehingga gerakan kalateral, obique dan berputar terhambat, tetapi pada posisi sedikit fleksi kedepan (lordosis dikurangi) kedua facet saling menjauh sehingga memungkinkan gerakan ke lateral berputar.

Bagian lain dari vertebrae, adalah “lamina” dan “predikel” yang membentuk arkus tulang vertebra, yang berfungsi melindungi foramen spinalis. Prosesus spinosus merupakan bagian posterior dan vertebra yang bila diraba terasa sebagai tonjolan, berfungsi tempat melekatnya otot-otot punggung. Diantara dua buah buah tulang vertebrae terdapat diskusi intervertebralis yang berfungsi sebagai bentalan atau “shock absorbers” bila vertebra bergerak.

2.3. Cranium

Merupakan salah satu endoskelet yang terdapat di daerah kepala.

Tersusun oleh bagian-bagian tulang yang bermacam-macam yang menjadi satu kesatuan yang komplek.

Pada kranium terdapat :

Neurocranium

Bagian cranium ynag merupakan kotak tempat otak disimpan. Chondrocranium, bila seluruhnya dibangun oleh rawan.

Splanchnocranium (viscerocranium)

Skelet atau tulang yang mengelilingi mulut, pharynk dan insang.

Dermatocranium

Seluruh skelet cranium yang berasal dari penulangan dermal, baik neuro maupun Sphlancnocranium.

Nerocranium

Penulangan yang terjadi pada neurocranium menghasilakn 5 kelompok tulang yaitu :

a. Orbitoshenethmoid

Pada Dipnoi, Telestoi, Eutheria, berupa tulang mesethmoid yang berbentuk kepig tipis terletak vertikal berasal dari penulangan trabeculae communis.

b. Sphenoid posterior

Meliputi :

basisphenoid, terletak medial dan meliputi fenestra Hypophyse

laterosphenoid, terletak di sebelah kiri-kanan basis phenoid.

c. Occipital

Meliputi :

Exooccipital, sebelah kiri-kanan Foramen magnum.

Basioccipital, membatasi bagian ventral Foramen magnum.

Supraoccipital, membatasi bagian dorsale Foramen magnum.

Condylooccipital, merupakan penonjolan dari pada tulang occipital, untuk persendian dengan atlas.

d. Nasal (kapsula olfaktori)

Terdiri dari :

Tulang turbinalia, terdapat lateral dari rongga hidung, gunanya untuk menperluas permukaan selaput lendir dari pada alat pencium, terutama pada hewan-hewan yang berpenciuman tajam.

Ethhmoturbinal

Nasoturbinal

Maxilloturbinal

e. Tulang-tulang kapsula optik

Kapsula optik yang tidak pernah mengalami fusi dengan neurocranium, sebenarnya dibangun oleh jaringan ikat yang sangat kukuh membentuk seludang sekeliling bola mata, yang dikenal sebagai seludang sclera. Dalam seludang ini dapat terjadi penulangan berupa keping-keping tulang yang tersusun di sekeliling bola mata, disebut keping tulang scleroid.

Kelompok tulang kapsula optik :

Prootik pada mamalia disebut petrosa

Opishotik atau Mastoid disebelah posterior

Epiotik

Splanchnocranium (Skeleton visceral)

Tersusun atas suatu rangkaian archi yang mengelilingi bagian anterior tructus digestivus

1. Pada Elasmobranchii

Archi tersusun atas cartilago yang berpasangan dan cartilago medialis.

Arcus anterior (arcus mandibularis) tersusun atas cartilago palatoquadratum (maxilla) dan cartilago meckeli (mandibula).

2. Pada Vertebrata

Tulang-tulang membraneus dan cartilagoneus terbentuk di sekeliling dan di dalam cartilago yang berpasangan, membentuk tulang-tulang rahang.

Pada Burung

Di bawah articulatio rahang bawah (mandibula) terdapat antara os articulare dan os quadratum.

Pada Mamalia

Suatu articulatio baru terbentuk diantara os dentale (mandibula) dan os squamosum (maxilla).

Os articulare dan os quadratum menjadi malleus dan incus yang terdapat di dalam telinga tengah.

Pada Elasmobranchii

Arcus hyoideus tersusun atas sepasang cartilago hyomandibulare dorsale dan cartilago ceratohyale laterale.

Satu cartilago basihyale ventrale di bagian medial.

Pada Telestoi

Terdapat serangkaian tulang membraneus os operculare yang terbentuk di sepanjang tepi posterior arcus tersebut.

Pada Amfibia

Sebagian cartilago hyomandibulare mengalami ossifikasi, membentuk columella.

Pada Mamalia

Ossifikasi dari cartilago hyomandibulare akan membentuk stapes pada telinga tengah.

Ossifikasi pada bagian-bagian lain arcus tersebut akan membentuk suatu rangkaian os hyoideus yang menyokong lidah.

Arcus branchiale tersusun atas berbagai cartilago yang menyokong branchia pada vertebrata akuatik.

Bagian-bagian dari cartilago ini ada yang masih dapat ditemukan pada mamalia sebagai cartilago pada larynx dan trachea.

Dermatocranium

Dermatocranium adalah tulang-tulang dermal yang melindungi neurocranium dan juga komponen yang berperan dalam pelekatan gigi. Elemen-elemen dari tulang dermal dibentuk langsung dari mesenkim atau jaringan ikat, jadi tidak pernah didahului oleh rawan.

Ada beberapa tulang dermal berdasarkan lokasinya :

· Tulang dermal daerah neurocranium

· Pasangan tulang nasal, frontal dan perietal. Pada mamalia tulang postparietal dan interparietal bersatu dalam tulang supraoccipetal.

· Tulang dermal sekeliling orbital

· Tulang lakrimal, mempunyai foramen magnum (lubang) naso-lacrimal yang menghubungkan orbita dengan rongga hidung.

· Tulang squamasal, terdapat di belakang tengkorak di bawah parietal, di atas orbital.

· Tulang intertemporal, terdapat di sepanjang tepi tulang parietal.

· Tulang dermal pada rahang atas, tersusun oleh :

· Premaxilla, maxilla, jugal, dan quadratojugal, kesemuanya membentuk lengkung maxillar.

· Pada mamalia, lengkung zygomatik terdiri dari tonjolan maxilla, jugal dan squamosal.

· Tulang-tulang palatal atau tulang langit-langit

· Langit-langit primer, dibangun oleh tulang-tulang dermal yang merupakan alas tengkorak atau atap rongga mulut, mampunyai nares interna (choane) yang menghubungkan rongga nasal dengan rongga mulut, terletak di belakang premaxilla.

· Di bagian posterior terdapat tulang-tulang vomer, pterygoid, parasphenoid, di bagian tepi, terdapat tulang-tulang palatum.

· Tulang-tulang dermal dari rahang bawah

Dibangun oleh tulang-tulang dentale, splenial, postsplenial, angular, suprangular.

Dalam pejalanan evolusi akan mereduksi, sehingga pada mamalia tinggal 1 tulang yaitu dentale (Gambar 6.1).

Gambar 6.1 : Tulang-tulang pada Cranium

Perkembangan Cranium vertebrata

Cranium vertebrata terbentuk pertama kali sebagai serangkaian cartilago yang berpasangan :

1. Trabeculae pada bagian depan chorda dorsalis

3. Capsula olfactorius disekeliling organ olfactoris

4. Capsula auditorius (capsula opticus) disekeliling telinga

Bangunan-bangunan tersebut bertambah besar, akhirnya bersatu sama lain, kecuali pada capsula opticus. Sisi-sisi marginal lateral selanjutnya tumbuh ke arah dorsal dan kemudian ke arah medial membentuk suatu kotak cartilago yang mengelilingi otak, contohnya pada Elasmobranchii.

Pada ikan bertulang sejati, ada 2 macam tulang, yaitu :

Tulang membraneus yang berkembang di dalam kulit dan tulang cartilagoneus yang terbentuk dari pusat-pusat ossificatio di dalam cartilago. Kedua tulang tersebut lambat laun bersatu.

Pada Amfibia

Cranium melebar dan pipih mempunyai 2 condylus occipitalis.

Pada Reptilia

Cranium lebih banyak tersusun atas unsur tulang, mempunyai 1 condylus occipitalis. Bagian temporal cranium terdapat lubang-lubang atau fossae yang besar.

Pada Burung

Jumlah tulang sama dengan reptilia, mempunyai 1 condylus occipitalis. Cranium tersusun atas tulang-tulang yang sangat tipis dan ringan, yang bersatu satu sama lain.

Pada Mamalia

Cranium relatif lebar dan dalam, sedikit tulang, mempunyai 2 condylus occipitalis.

Cranium secara umum dibagi menjadi 2 yaitu meskipun mereka tidak terpisah total secara embriologi., yaitu (a) neurocranium, yaitu tulang-tulang yang melindungi otak, berbentuk kubah besar, berhubungan dengan system saraf pusat dan indera dan (b) viscerocranium, yaitu tulang-tulang yang membentuk wajah, berhubungan dengan alimentary dan respirasi. (Falkner, 1978).

Neurocranium membranosa
Penulangan intramembran yang terjadi pada mesenkim pada sisi lateral dan kap otak membentuk calvaria (atap tengkorak). Sisi dan atap tengkorak berkembang dari mesenkim yang mengelilingi otak dan mengalami penulangan membranosa yang ditandai dengan terdapatnya spikula tulang berbentuk seperti jarum. Spikula ini secara progresif memancar dari pusat penulangan primer ke arah tepi. Dengan berlanjutnya pertumbuhan selama kehidupan janin dan setelah kelahiran, tulang membranosa membesar melalui peletakan lapisan-lapisan baru di atas permukaan luar dan melalui penyerapan osteoklastik yang berturut-turut dari arah dalam.

Neurocranium Kartilaginosa/ Kondrocranium

Bagian tengkorak ini pada permulaan terdiri dari sejumlah tulang (kartilago) yang terpisah-pisah. Bila kartilago ini menyatu dan menulang oleh pertulangan endokondral, maka terbentuk dasar tengkorak. Dasar tulang occipitale dibentuk oleh kartilago parakondral dan badan ketiga sklerotom occipital. Ke arah mulut dari lempeng dasar occipitale ditemukan kartilago hipofisis dan trabecula cranii. Kartilago hipofisis membentuk daerah sekitar hipofisis atau glandula pituitary, ia juga menyatu untuk membentuk corpus os sphenoidale. Trabeculae cranii berfusi dan membentuk os ethmoidale yang meluas dari daerah hidung hingga batas depan foramen magnum.

Sejumlah pemadatan mesenkim lainnya timbul di kanan dan kiri lempeng tengah. Paling ujung ke arah mulut, ala orbitalis, membentuk sayap kecil (ala parva) os sphenoidale. Ke caudal, ia diikuti oleh ala temporalis yang membentuk sayap besar (ala magna) os sphenoidale. Unsur ketiga sampai perotik, membentuk pars petrosa dan pars mastoidea os temporale. Ketiga unsur ini kemudian menyatu dengan lempeng tengah dan satu dengan yang lainnya, kecuali pada pembukaan dimana saraf otak meninggalkan tengkorak (foramen opticum). (Sadler, 1993). Kapsul otic (otic capsules) muncul di sekitar telinga dalam yang sedang berkembang atau otic vesicles dan membentuk pars petrosa dan pars mastoidea os temporale. Kapsul nasal (nasal capsule) berkembang di sekitar cavum nasal dan berperan dalam membentuk os ethmoidale. (Moore & Al Azzindani, 1982).

Dasar Tengkorak (Cranial Base)


Dasar tengkorak secara garis besar tersusun oleh pembentukan tulang melalui penulangan precursor kartilago. Dasar tengkorak terbentuk dari pars basilaris os occipitale, os sphenoidale, pars petrosa os temporale dan os ethmoidale. Mekanisme pertumbuhan postnatal terutama ditemukan pada region yan
g mengalami osifikasi endokondral. Misalnya pada sphenooccipitale synchondrosis yang aktif hingga usia 12-15 tahun dan bergabung pada usia 17-20 tahun. Penggantian kartilago pada tempat ini berhubungan dengan pertumbuhan ke depan pada seluruh segmen anterior cranium. Gerakan ke anterior dengan cara ini menyebabkan kenaikan dimensi anteroposterior nasofaring dan membawa tulang-tulang wajah bagian atas untuk maju. Pada saat yang sama, fossa mandibula (tempat bersendi dengan processus condyloideus) menjadi lebih kea rah posterior dan inferior. lalu, pertumbuhan anteroposterior mandibula harus lebih besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan maxilla, jika pertumbuhan gigi dan oklusi benar.


http://1.bp.blogspot.com/_9MTK5JQmGDA/SynYU6b6gGI/AAAAAAAAAWg/0MnGUJYDJJo/s400/basis+cranium.jpg

2.4 Vertebrae

Sebuah tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang terdiri dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari arcus vertebrae. Arcus vertebrae dibentuk oleh dua “kaki” atau pediculus dan dua lamina, serta didukung oleh penonjolan atau procesus yakni procesus articularis, procesus transversus, dan procesus spinosus. Procesus tersebut membentuk lubang yang disebut foramen vertebrale. Ketika tulang punggung disusun, foramen ini akan membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Di antara dua tulang punggung dapat ditemui celah yang disebut foramen intervertebrale.

Vertebra atau yang lebih di kenal dengan tulang belakang merupakan tulang yang membentuk posture dan menyangga berat badan serta melindungi saraf tulang belakang, vertebra terdiri dari ruas – ruas tulang, masing masing ruas memiliki dua bagian yang di sebut badan vertebra atau corpus vertebra yang terletak pada bagian depan dan lengkung vertebra atau arcus vertebra yang terdiri dari tiga taju terletak di bagian belakang.

Ruas Vertebra berjumlah 33 ruas, secara berurutan dari tulang dasar tengkorak sampai dengan tulang ekor, 7 ruas vertebra cervicalis, 12 ruas vertebra thorakalis, 5 ruas vertebra lumbalis, 5 ruas vertebra sacralis, 3 ruas vertebra cocsygis, masing- masing ruas pada vertebra di hubungkan oleh sebuah bantalan yang disebut diskus intervertebralis.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d2/Gray90.png/300px-Gray90.pngDiskus intervertebralis terdiri dari annulus fibrosus merupakan jaringan kolagen fibril yang berfungsi untuk mendistribusikan gaya atau beban tekanan hidrolik keseluruh ruas, di dalam annulus fibrosus terdapat inti yang di sebut nucleus pulposus. Setiap ruas vertebra apabila di susun akan membentuk sebuah lubang tempat berjalannya saraf tulang belakang yang di sebut foramen intervertebralis. Pada suatu keadaan annulus fibrosus ini menjadi lemah sehingga nukleus pulposus menonjol keluar kadaan ini di sebut dengan HNP ( hernia nucleus pulposus ) sehingga diperlukan alat penguat tubuh yang biasa di sebut korset.

Diferensiasi vertebrae di dalam tubuh dibedakan menjadi vertebrae cervicalis, thorachalis, vertebrae lumbalis, vertebrae sacralis dan vertebrae caudalis.

Tulang punggung cervical

Secara umum memiliki bentuk tulang yang kecil dengan spina atau procesus spinosus (bagian seperti sayap pada belakang tulang) yang pendek, kecuali tulang ke-2 dan 7 yang procesus spinosusnya pendek. Setiap mamalia memiliki 7 tulang punggung leher, seberapapun panjang lehernya.

Tulang punggung thorax

Procesus spinosusnya akan berhubungan dengan tulang rusuk. Beberapa gerakan memutar dapat terjadi. Bagian ini dikenal juga sebagai ‘tulang punggung dorsal’ dalam konteks manusia.

Tulang punggung lumbal

Bagian ini merupakan bagian paling tegap konstruksinya dan menanggung beban terberat dari yang lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi tubuh, dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.

Tulang punggung sacral

Terdapat 5 tulang di bagian ini. Tulang-tulang bergabung dan tidak memiliki celah atau diskus intervertebralis satu sama lainnya.

Tulang punggung coccygeal

Terdapat 3 hingga 5 tulang yang saling bergabung dan tanpa celah. Beberapa hewan memiliki tulang coccyx atau tulang ekor yang banyak, maka dari itu disebut tulang punggung kaudal (kaudal berarti ekor).

2.5. Skeleton pada Avertebrata

Pada avertebrata, skeleton berada dalam beberapa bentuk

· Protozoa (Sarcodina dan Mastigophora)

Mensekresikan skeleton yang bersifat kalkareus, siliceus atau organik.

· Porifera

Adanya spikula

· Echinodermata, Mollusca

Skeleton terdiri atas bahan kapur (CaCO3), tumbuh pada bagian marginal dan makin menebal sejalan dengan bertambahnya umur.

· Artropoda (Crustacea, Insecta)

Eksoskeleton bersendi-sendi terdiri atas material organik yang mengandung khitin.

2.6 Skeleton pada Vertebrata

Sistem skeleton dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

  • Skeleton aksial
  • Skeleton apendikular
  • Skeleton splanknik /visera

Skeleton aksial

Skeleton yang terletak di bagian median badan. Tulang-tulang skeleton ini terdiri dari tengkorak (skull), tulang rusuk (rib), tulang vertebra dan tulang sternum. Tulang-t
ulang skeleton ini tidak berpasangan kecuali tulang rusuk (tulang-tulang tengkorak ada yang berpasangan dan ada yang tidak).

Skeleton apendikular

Skeleton yang bersambung dengan skeleton aksial (melalui dua struktur tulang i.e: tulang bahu dan tulang pelvik). Tulang-tulang skeleton ini terdiri dari tulang-tulang apendej atau tulang-tulang kaki.

Dibangun oleh

a. Gelang pectoral, padanya melekat ekstremitas depan yang dapat berupa rawan atau tulang.

b. Gelang pelvic, padanya melekat ekstremitas belakang juga dapat berupa rawan atau tulang.

Biasanya gelang pelvic lebih besar dah kukuh terutama pada hewan-hewan bipedal. Gelang pelvic berhubungan dengan columna vertebralis melalui vertebrae sacral dan dianggap berasal dari sepasang pterygophore basal (Hymen). Pterygophore adalah metameric primitif yang banyak dalam sirip sepanjang metameric myotonic. Masing-masing pterygophore terdiri dari beberapa potongan kecil, yaitu basale dan radiale (Gambar 6.5).

Pada Ikan

Dapat ditemukan 12 tipe ekstremitas yaitu pinnae yang berpasangan dan yang medial.

Pinnea medialis disokong oleh batang-batang tulang atau cartilago yang disebut pterygophora

Pada Elasmobranchii, gelang pectoral, pelvis dan sirip

Pada Osteicthyes, tulang-tulang dermal dan unsur-unsur yang menulang endochondral

Pada Reptil, gelang pelvic rudimenter

Pada Aves

Tulang clavicula menjadi furcula

Vertebrae sacral (synsacrum) bersatu dengan tulang ilium.

Pada Manusia, simphisis p
ubis

Pada Tetrapoda, terdapat tambahan tulang-tulang interclavicula atau episternum, sedangakan pada Amfibia dan Reptilia yang primitif menyerupai bangsa ikan.

Pada Mamalia

Coracoid dan interclavicula hanya terdapat pada Monotremata, sedangakn pada banyak hewan, clavicula juga tidak terdapat.

Pada scapula terdapat tonjolan yang disebut acromion dengan,

fossa infraspinosum di sebelah bawah

fossa supraspinosum di sebelah atas

Gelang pectoral dibangun oleh unsur dermal dan endochondral.

Gelang pelvic hanya dibangun oleh elemen endochondral saja, yaitu :

1) Tulang ilium, yang berhubungan dengan sacrum

2) Tulang pubis dan tulang ischium, salah satu atau keduanya dapat membentuk symphysis.

Ketiga tulang tersebut membantuk lengkung acetabulum

Pada Monotremata dan Marsupialium

Dimuka pubis terdapat epipubis yang menyokong marsupialium (kantong)

Skeleton visera

Terdiri dari tulang yang terbina dari tisu visera atau organ lembut. Contoh: Os penis anjing, Os cordis lembu (tulang dalam jantung) dan gelang skelera dalam mata burung.

2.7 Skeleton pada Aves

Morfologi Aves

Tubuh aves dapat dibedakan atas :

1. Caput (kepala).

Pada caput terdapat alat-alat berikut :

· Rostrum (paruh), terbentuk dari maxilla pada ruang atas dan mandibula pada ruang bawah. Bagian dalam paruh dilapisi oleh lapisan yang disebut cera, sedangkan sebelah luar dilapisi oleh pembungkus selaput zat tanduk.

· Nares (lubang hidung), terdapat dibagian lateral dari paruh bagian atas, nares interna pada sebelah dalam dan nares eksterna pada sebeleh luar.

· Cera, merupakan suatu tonjolan kulit yang lemah dan terdapat pada rostum bagian atas.

· Organon visus (alat penglihat), pada ayam relatif besar dan terletak sebelah lateral pada kepala dengan kelopak mata yang berbulu. Iris berwarna kuning atau jingga kemerah-merahan, sedangkan pupil jika dibandingkan dengan besarnya mata relatif besar. Pada sudut medila mata terdapat membrana nictitans yang dapat ditarik untuk menutupi mata.

· Porus acusticus externus (lubang telinga luar), terletak di sebeleh dorso-caudal mata, sedangkan membrana tymphani yang terdapat disebelah dalamnya untuk menangkap getaran suara.

2. Cervix (leher).

Pada ayam, leher ini biasanya panjang.

3. Truncus (badan).

Truncus pada ayam dibungkus oleh kulit yang seolah-olah tak melekat pada otot. Dari kulit akan muncul bulu dari hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan, fleksibel dan berguna sebagai pembungkus tubuh yang sangat resisten.

Pada uropygium berpangkal bulu-bulu ekor, sedangkan pada facies dorsalis uropygium ada papilla yang mempunyai lubang sebagai muara kelenjar minyak, minyak ini berguna untuk meminyaki bulu-bulunya dan kelenjar minyak disebut glandula uropyglalis.

4. Caudal (ekor).

Aves mempunyai bulu-bulu ekor yang berpangkal di uropygium.

5. Extremitas / membran liberi.

· Extremitas anterior.

Berupa ala (sayap) yang skeletonnya terdiri atas humerus (lengan atas), radius (tulang pengumpil), ulna (tulang hasta) dan ossa carpalia (tulang pergelangan tangan). Pada aves tinggal 2 buah, yaitu os scaphoideum yang menempel pada radius dan os cunieforme menempel pada ulna.

Persatuan antara ossa carpalia (tulang pergelangan tangan) dengan ossa metacarpalia (tulang telapak tangan) sebagai tempat melekatnya digiti yang ada 3 yaitu jari I, II, III yang nomor-nomornya sesuai dengan banyaknya ruas jari (phalanges) yang ada.

· Extremitas posterior.

Terdiri atas femur, patella, crus yang terdiri fibula yang pendek dan tibio-tarsus yang merupakan persatuan dari tulang tibia dan tarsalia. Pes (tulang cakar) terdiri atas meta-tarsus dan digiti yang mempunyai ruas phalanx (jari-jari). Pada ujung jari terdapat falcula yaitu kuku untuk mencakar, 4 jari itu ada 3 yang mengarah ke muka dan 1 yang mengarah ke belakang.

2. Cavum oris (rongga mulut).

· Maxilla (rahang atas).

Di sini tidak ada gigi, nares posteriors (yang menghubungkan rongga mulut dengan rongga hidung), fissura choanae secundaria, ostium pharyngeum tuba auditiva eustachii, tunggal dan letaknya di medial. Pada palatum terdapat lipatan-lipatan crista marginalis dan plica palatini.

· Mandibula (rahang bawah).

Terdapat aditus laryngis, lingua yang sempit, panjang dan dilapisi oleh lapisan tanduk.

Kekuatan kerangka seekor burung lebih dari layak, meskipun tulangnya memiliki rongga. Sebagai contoh, seekor burung kutilang berparuh besar dan berleher pendek (Coccothraustes coccothraustes) sepanjang 7 inci (18 cm) melakukan tekanan sekitar 151 lbs (68,5 kg) untuk memecahkan suatu biji zaitun. Karena lebih “teratur” dibandingkan hewan menyusui, tulang bahu, panggul, dan dada pada burung bergabung bersama. Rancangan ini memperbaiki kekuatan bentuk burung. Sifat lain dari kerangka burung, sebagaimana telah disebutkan, adalah lebih ringan daripada rangka hewan menyusui.

2.8 Skeleton pada Pisces

Berdasarkan strukturnya, rangka ikan ada 2 macam :
a. Rangka tulang rawan, pada ikan-ikan Elasmobranchii (cucut dll)
b. Rangka tulang benar, pada ikan-ikan Teleostei (pada umumnya ikan-ikan)

Berdasarkan letaknya :
– tulang tengkorak
– tulang punggung
– tulang rusuk
– tulang penyokong insang (disebut rangka VISCERAL)
– tulang penyokong sirip (disebut rangka APPENDICULAR)

Tulang-tulang penutup insang :
– operculum
– sub operculum di bawah
– pre operculum di depan
– interculum diantara

2.9 Skeleton pada Mamalia

Tengkorak

Tengkorak adalah struktur tulang pada binatang yang merupakan rangka kepala. Binatang yang memiliki tengkorak dinamai Craniata. Tengkorak menunjang struktur wajah dan melindungi kepala dari luka. Selain melindungi otak, tengkorak juga memberi jarak yang cukup antara kedua mata untuk pandangan stereoskopis, dan menetapkan posisi telinga sehingga otak dapat memperkirakan arah dan jarak suara. Dalam beberapa binatang, tengkorak juga dapat memiliki tanduk yang penting untuk membela diri. Pada manusia, tengkorak dewasa biasanya terdiri dari 22 tulang.

Columna Spinalis

Bagian dari skeleton axial yang melindungi corda spinalis. Mamalia mempunyai 5 daerah vertebrata yang terdiferensiasi dgn baik. Ciri- cirinya :

Pada kebanyakan chordata, tersusun oleh struktur skeletal bersegmen yaitu, vertebrae.

Merupakan kesatuan antara spinal atau vertebral dan columna.

Perluasan dasar tulang-tulang tengkorak ke arah posterior sampai ke arah ekor.

Columna vertebralis memberikan bentuk yang keras atau kaku pada tubuh, selanjutnya sebagai tempat perlekatan secara langsung maupun tidak langsung pada beberapa otot.

Columna vertebral terdiri dari :

1. VERTEBRATA CERVICAL

Terdapat foramen vertebrata arterial, tempat lalunya pembuluh darah arteri

2. VERTEBRATA THORAX

Terdapat tonjolan diaphophysis dan parapophysis yang mengalami pertumbuhan dengan baik, untuk persendian tuberkulum dan kapitulum dari rusuk.

3. VERTEBRATA LUMBAR

Relatif lebih besar dan kokoh, terdapat proccesus transversus, metapophysis, dan anapophysis yang baik pertumbuhannya.

4. VERTEBRATA SACRAL

Bersatu membentuk sacrum.

5. VERTEBRATA CAUDAL

Makin ke posterior makin tereduksi taju-tajunya, sehingga tinggal centrumnya saja. Pada primata vertebrata caudal mengalami fusi menjadi coocy atau urostyle.

Pada Mamalia

Mamalia mempunyai 5 daerah (regio) vertebrata yang berdiferensiasi dengan baik :

1. Vertebra cervical

Terdapat foramen vertebrata arterial, tempat lalunya pembuluh darah arteri.

2. Vertebra thorax

Terdapat tonjolan diaphophysis dan parapophysis yang mengalami pertumbuhan dengan baik, untuk persendian tuberkulum dan kapitulum dari rusuk.

3. Vertebra lumbar

Relatif lebih besar dan kokoh, terdapat proccesus tranversus, metapophysis, dan anapophysis yang baik pertumbuhannya.

4. Vertebra sacral

Bersatu membentuk sacrum.

5. Vertebra caudal

Makin ke posterior makin tereduksi taju-tajunya sehingga tinggal centrumnya saja. Pada primata vertebrata caudal mengalami fusi menjadi coocy atau urostyle.

Vertebrae

Pada Cyclostomata

Dalam bentuk processus cartilagineus yang kecil pada sisi medula spinalis.

Pada Elasmobranchii

Processus cartilagineus ini saling bertemu di dorsal medula spinalis membentuk arcus neuralis yang lengkap yang masih terdiri atas cartilagonya.

Pada daerah caudal terbentuk arcus hemalis.

Pada bagian ventral, chorda dorsalis mengelilingi pembuluh darah caudal.

Pada Teleostei

Cartilago lambat laun digantikan oleh tulang sehingga vertebrae merupakan struktur bertulang.

Vertebrae caudal pada bangsa Ikan

Susunan vertebrae caudal pada ikan akan menjadi bentuk dasar pada tipe ekor. Dapat dibedakan menjadi :

1. Protocerk

Simetri bilateral baik eksternal maupun internal, terdapat pada ikan primitif seperti Cyclostomata, larva.

2. Heterocerk

Asimetri baik eksternal maupun internal, karakteristik pada ikan Elasmobranchii (Hiu, Pari). Taju hemal dan lengkung hemal melebar disebut hupiralia dan sebelah dorsal disebut epuralia.

3. Diphicerk

Simetri bilateral baik eksternal maupun internal. Dulunya heterocerk, karena itu disebut juga heterocerk sekunder. Misalnya pada Dipnoi, Crossopterygii, dan Latimera.

4. Homocerk

Asimetri interna, simetri bilaterla eksternal. Urostyl merupakan fusi dari beberapa centra vertebrae caudal, contohnya Teleostei.

Vertebrae terdiri dari :

Corpus atau centrum

1. Arcus neuralis

Arcus neuralis adalah lengkung yang mengelilingi medula spinalis. Spina neuralis pada bagian dorsal arcus hemalis. Lengkung yang disebut arcus antara lain ;

· lengkung neural

· lengkung haemal (diisi oleh arteri dan vena caudalis)

2. Processus tranversus (processus lateralis)

Processus adalah tonjolan, yang berfungsi untuk persedian dengan vertebrae tetangganya.

· Prezygapophysis ; permukaannya menghadap ke anterior

· Postzygapophysisi ; permukaannya menghadap ke posterior

Tempat perlekatan rusuk-rusuk

· Diapophysis, persendian dengan tuberkulum dari rusuk

· Parapophysis, persendian dengan kapitulum dari rusuk

· Pleurapophysis atau processus tranversus, yaitu processus dari suatu vertebrae dengan rusuk vestigial/rudiment. Tempat perlekatan urat atau tendon

· Hypophysis, terdapat medioventtral dari centrum

· Metapophysis, dekat prezygapophysis

· Anapophysis, pertumbuhannya pada vertebrae lumbar

3. Procesus spinosus (merupakan bagian posterior dan vertebra yang bila diraba terasa sebagai

tonjolan, berfungsi tempat melekatnya otot-otot punggung).

· Procesus tersebut membentuk lubang yang disebut foramen vertebrale.

· Ketika tulang punggung disusun, foramen ini akan membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis.

4. Processus articularis (zygopophaphysis) yang merupakan permukaan articulatio bagi vertebrae di dekatnya.

Gambar 6.2 : Tulang-tulang vertebrae

Corpus atau centrum

Merupakan tempat atau serangkaian tulang bagian medioventral thorax. Pada vertebrata rendah, sternum seluruhnya cartilagineus. Pada vertebrata tinggi hampir seluruhnya terdiri atas tulang.

Pada burung-burung yang aktif terbang sternum dilengkapi dengan carina sterni yang berfungsi untuk perlekatan otot-otot pectoral yang kuat (musculus pectoralis major dan musculus pectoralis minor).

Centrum dari vertebrae mempunyai bentuk-bentuk khusus :

1. Tipe Amphicoelus

Bentuk yang paling primitif.

Kedua ujungnya bikonkaf.

Misalnya pada ikan dan urodela tertentu seperti Gecko dan Sphenodon.

2. Tipe Procoelus

Bagian anterior konkaf, posterior konveks atau datar.

Terdapat pada Reptilia dan Amfibia.

3. Tipe Opisthocoel

Kebalikan dari procoel. Bagian posterior konkaf dan anterior datar atau konveks.

Misalnya pada vertabrae leher (cervical) ungulata.

4. Tipe Acoel

Karakteristik untuk vertebrae mamalia

Antara dua vertebrae terdapat keping tualng yang kadang-kadang tetap berupa rawan disebut keping rawan atau keping invertebral.

5. Tipe Heterocoel

Permukaan depan dan belakang berbentuk pelana. Terdapat pada vertebrae cervix dan thoraks.

Costae (rusuk)

Dalam anatomi, tulang rusuk atau iga (Latin: costae adalah tulang panjang yang melengkung dan membentuk rongga rusuk.) Tulang rusuk melindungi dada (Latin: thorax), paru-paru, jantung, hati, dan organ dalam lainnya di rongga dada.

Pada mamalia, tulang rusuk terdapat hanya di bagian dada. Namun pada reptil, tulang rusuk terkadang terdapat dari bagian leher hingga sacrum. Manusia (baik pria dan wanita) memiliki 24 tulang rusuk (12 pasang). Hal ini pertama kali dikemukakan oleh Vesalius pada 1543 untuk menyelesaikan kontroversi yang terjadi pada saat itu.

http://realmodernman.com/blog/wp-content/uploads/2009/09/Sternum1.jpg

Gambar: costae pada manusia

Pada ikan

Rusuk dorsal, di daerah septum horizontal

Rusuk ventral, di daerah ventrolateral

Pada Tetrapoda

Satu pasang rusuk untuk setiap vertebrae

Rusuk umumnya bicipital terdapat pada tuberkulum dan kapitulum

Gambar 6.3 : Tulang costae

Sternum (Apparatus sternal)

Sternum (Sterna atau sternums, dari bahasa Yunani, sternon, “dada” atau tulang dada) adalah tulang datar yang panjang (atau, dalam beberapa kasus, set tiga tulang) berbentuk seperti huruf ‘T’ yang terletak di tengah-tengah toraks (dada). Menghubungkan ke tulang rusuk dari tulang rawan, membentuk bagian anterior tulang rusuk dengan mereka, dan dengan demikian membantu melindungi paru-paru, jantung dan pembuluh darah utama dari trauma fisik. Kadang-kadang sternum dibelah (sternotomy median) untuk mendapatkan akses ke isi dada kardiotoraks saat melakukan operasi.

Sternum adalah panjang, rata tulang, membentuk bagian tengah dinding anterior toraks. Ujung atasnya mendukung klavikula (collar tulang), dan margin mengartikulasikan dengan kartilago pertama tujuh pasang tulang rusuk. Atasnya juga terhubung ke sternokleidomastoid otot.

Ini terdiri dari tiga bagian, dari atas ke bawah:
• manubrium
• Badan sternum (gladiol)
• proses Xiphoid

Dalam posisi alami, kecenderungan dari tulang miring dari atas, ke bawah dan ke depan. Hal ini sedikit cembung cekung di depan dan belakang; luas di atas, berbentuk seperti “T”, menjadi menyempit pada titik di mana bergabung manubrium tubuh, setelah itu kembali melebar sedikit ke bawah tengah tubuh, dan kemudian menyempit ke ujung yang lebih rendah. Panjang rata-rata pada orang dewasa adalah sekitar 17 cm, dan agak lebih lama pada pria dibandingkan pada wanita. Dalam kehidupan awal tubuhnya dibagi dalam tiga segmen, yang disebut sternebrœ (tunggal: sternebra).

Struktur sternum terdiri dari jaringan vaskular, ditutupi oleh lapisan tipis tulang kompak yang tebal di manubrium antara permukaan artikular untuk klavikula. Mengartikulasikan sternum di kedua sisi dengan klavikula dan atas tujuh kartilago kosta.

Fraktur sternum agak jarang. Mereka mungkin akibat dari trauma, seperti ketika dada pengemudi dipaksa ke kolom kemudi mobil dalam kecelakaan mobil. Fraktur sternum biasanya merupakan comminuted fraktur. Situs yang paling umum dari fraktur sternal adalah di sudut sternal. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pukulan berulang-ulang atau terus-menerus pemukulan, kadang-kadang disebut “pukulan tulang dada”, untuk daerah sternum juga menyebabkan patah ste
rnums. Mereka yang diketahui telah terjadi kontak olahraga seperti rugby dan sepak bola. Fraktur sternum sering dikaitkan dengan cedera yang mendasari seperti memar paru, atau memar jaringan paru-paru.

Pada Tetrapoda letaknya medioventral dan berhubungan dengan gelang pectoral

Pada Rana, tidak berhubungan dengan rusuk

Posisi sternum terhadap gelang pectoral :

Prezonal, sternum terletak di anterior dari gelang pectoral

Postzonal, sternum terletak di posterior dari gelang pectoral

2.10 Skeleton pada Manusia

a. 7 tulang cervical/ servikal (leher),
Secara umum memiliki bentuk tulang yang kecil dengan spina atau procesus spinosus (bagian seperti sayap pada belakang tulang) yang pendek, kecuali tulang ke-2 dan 7 yang procesus spinosusnya pendek.
Diberi nomor sesuai dengan urutannya dari C1-C7 (C dari cervical), namun beberapa memiliki sebutan khusus seperti C1 atau atlas, C2 atau aksis/axis.
Setiap mamalia memiliki 7 tulang punggung leher, seberapapun panjang lehernya.

b. 12 tulang thorax (thoraks/ torakal/ dada)

Procesus spinosusnya akan berhubungan dengan tulang rusuk. Beberapa gerakan memutar (rotation dan lateral flexion) dapat terjadi. Bagian ini dikenal juga sebagai ‘tulang punggung dorsal’ dalam konteks manusia. Bagian ini diberi nomor T1 hingga T12.

c. 5 tulang lumbal/ lumbar.
Bagian ini (L1-L5) merupakan bagian paling tegap konstruksinya dan menanggung beban terberat dari yang lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi tubuh, dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.

Struktur tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni :

· Bagian anterior yang terdiri dari badan tulang atau corpus vertebrae (struktur yang terbesar karena mengingat fungsinya sebagai penyangga berat badan), dan

· Bagian posterior yang terdiri dari arcus vertebrae.

Arcus vertebrae dibentuk oleh
– dua “kaki” atau pediculus/ predikel dan
– dua lamina (berfungsi melindungi foramen spinalis), serta
– didukung oleh penonjolan atau procesus yakni

2.11 Kelainan pada tulang

Manusia memiliki tulang dan sendi (sistem gerak) yang memiliki banyak fungsi untuk menunjang kehidupan manusia. Tanpa kondisi fit tulang dan sendi, manusia akan ke
sulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Berikut ini adalah beberaa bentuk kelainan / gangguan tulang dan sendi pada orang dari organisasi.org.

A. Kelainan / Gangguan Pada Tulang Belakang / Spinal Manusia

1. Kiposis / Kyphosis

Kiposis adalah suatu gangguan pada tulang belakang di mana tulang belakang melengkung ke depan yang mengakibatkan penderita menjadi terlihat bongkok

2. Lordosis

Lordosis adalah suatu gangguan pada tulang belakang di mana tulang belakang melengkung ke belakang yang mengakibatkan penderita menjadi terlihat bongkok ke belakang.

3. Skoliosis / Scoliosis / Skeliosis

Skoliosis adalah suatu gangguan pada tulang belakang di mana tulang belakang melengkung ke samping baik kiri atau kanan yang membuat penderita bungkuk ke samping.

4. Sublubrikasi

Sublubrikasi adalah kelainan pada tulang belakang pada bagian leher yang menyebabkan kepala penderita gangguan tersebut berubah arah ke kiri atau ke kanan.

B. Kelainan / Gangguan Pada Sendi Manusia

1. Keseleo / Terkilir / Sprained

Terkilir atau keseleo adalah gangguan sendi akibat gerakan pada sendi yang tidak biasa, dipaksakan atau bergerak secara tiba-tiba. Umumnya kesleo bisa menyebabkan rasa yang sangat sakit dan bengkak pada bagian yang keseleo.

2. Dislokasi / Dislocation

Dislokasi adalah gangguan pada sendi seseorang di mana terjadi pergeseran dari kedudukan awal.

3. Artritis / Arthritis

Artritis adalah radang sendi yang memberikan rasa sakit dan terkadang terjadi perubahan posisi tulang. Salah satu contoh artritis yang terkenal adalah rematik.

4. Ankilosis / Ankylosis

Ankilosis adalah gangguan pada sendi di menyababkan sendi tidak dapat digerakkan di mana ujung-ujung antar tulang serasa bersatu.

C. Kelainan/Gangguan Retak Tulang / Patah Tulang / Fraktura / Fracture

Fraktura tulang adalah ratak tulang atau patah tulang yang umumnya terjadi akibat benturan, kelebihan beban, tekanan, dan lain sebagainya. Fraktura tulang sederhana yaitu keretakan tulang yang tidak melukai organ-organ yang ada di sekelilingnya. Fraktura kompleks adalah keretakan tulang yang menyebabkan luka pada organ di sekitarnya.

D. Kelainan / Gangguan Fisiologik

1. Mikrosefalus / Microcephalus

Mikrosefalus adalah kelainan pertumbuhan terkorak kepala yang menyebabkan kepala penderita terlihat lebih kecil dari normal.

2. Osteoporosis

Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang rapuh. keropos dan mudah patah. Umumnya osteoporisis disebabkan oleh hormon jantan / betina yang kurang sempurna atau akibat kekurangan asupan kalsium untuk tulang.

3. Rakitis / Rachitis / Rakhitis

Rakitis adalah penyakit tulang yang terjadi akibat kurang vitamin D sehingga umumnya menyebabkan bentuk tulang kaki bengkok membentuk huruf O atau X.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan:

Skeleton pada Vertebrata dibagi 3 bagian yaitu :

  • Skeleton aksial
  • Skeleton apendiku
    lar
  • Skeleton splanknik /visera

Skeleton aksial

Skeleton yang terletak di bagian median badan. Tulang-tulang skeleton ini terdiri dari tengkorak (skull), tulang rusuk (rib), tulang vertebra dan tulang sternum. Tulang-tulang skeleton ini tidak berpasangan kecuali tulang rusuk (tulang-tulang tengkorak ada yang berpasangan dan ada yang tidak).

Skeleton apendikular

Skeleton yang bersambung dengan skeleton aksial (melalui dua struktur tulang i.e: tulang bahu dan tulang pelvik). Tulang-tulang skeleton ini terdiri dari tulang-tulang apendej atau tulang-tulang kaki.

Dibangun oleh

c. Gelang pectoral, padanya melekat ekstremitas depan yang dapat berupa rawan atau tulang.

d. Gelang pelvic, padanya melekat ekstremitas belakang juga dapat berupa rawan atau tulang.

Biasanya gelang pelvic lebih besar dah kukuh terutama pada hewan-hewan bipedal. Gelang pelvic

berhubungan dengan columna vertebralis melalui vertebrae sacral dan dianggap berasal dari

sepasang pterygophore basal (Hymen). Pterygophore adalah metameric primitif yang banyak dalam

sirip sepanjang metameric myotonic. Masing-masing pterygophore terdiri dari beberapa potongan

kecil, yaitu basale dan radiale.

DAFTAR PUSTAKA

alizarin-red.html (diakses pada 23 Maret 2010)

Jasin M. , 1992. Zoologi Vertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya

Nurhayati, Awik P. D., 2004. Diktat Struktur Hewan. Biologi FMIPA ITS, Surabaya.

Radiopoetro. 1986. Zoologi. Erlangga, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *