Dalam suatu komunitas yang tersusun atas banyak spesies, beberapa di antaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota lain dari komunitas itu. Seringkali dua atau lebih spesies berinteraksi. Suatu interaksi dapat terdiri atas beberapa bentuk yang merupakan hubungan/interaksi positif yang menguntungkan sampai interaksi negatif yang merugikan.

A. AMENSALISME

Amensalisme adalah interaksi yang menekan satu organisme, sedangkan yang lain tetap stabil. Amensalisme juga disebut sebagai suatu interaksi bersifat negatif, dimana salah satu anggotanya terhambat dan yang lain tidak terpengaruh. Salah satu contoh amensalisme adalah interaksi alelokemis, yaitu penghambatan satu organisme oleh organisme lain melalui pelepasan produk metabolit ke lingkungan .

Bagian interaksi alelokemis yang melibatkan hanya tumbuhan saja disebut alelopati. Senyawa-senyawa kimia yang mempunyai potensi alelopati dapat ditemukan di semua organ tumbuhan termasuk daun, batang, akar rizoma, bunga, buah dan biji. Senyawa alalopati dilepaskan melalui organ tanaman dengan berbagai cara melalui penguapan, eksudat akar, pencucian dan pembusukan bagian organ yang mati.

Jadi allelopati adalah suatu peristiwa dimana suatu individu tumbuhan menghasilkan zat kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan individu lain. Pada prinsipnya allelopati adalah:

  1. Pengaruh yang bersifat merusak, menghambat, merugikan dan dalam kondisi tertentu kemungkinan menguntungkan.
  2. Pengaruh ini terjadi pada perkecambahan, pertumbuhan maupun metabolisme tanaman.
  3. Pengaruh ini disebabkan karena adanya senyawa kimia yang dilepaskan oleh suatu tanaman ke tanaman lainnya.

Menurut Soerianegara dan Indrawan (1984)1, allelopati dapat berupa:

  1. Keluarnya zat dari akar untuk menghambat pertumbuhan dari tanaman sejenis
    atau tanaman lain
  2. Tanaman mengeluarkan zat pada daun yang kemudian tercuci air hujan, zat ini
    dapat menghambat pertumbuhan dari tanaman lain.
  3. Tanaman mengandung suatu zat yang pada waktu hidup tidak bereaksi apapun tetapi bila tanaman mati, zat tersebut akan lepas, terurai di dalam tanah secara kimiawi atau dengan miktoorganisme.

Zat yang lepas ini dapat mempengaruhi kehidupan tanaman sejenis dan tanaman lainnya. Allelopati terjadi karena adanya senyawa yang bersifat mengahambat. Senyawa tersebut tergolong senyawa sekunder karena timbulnya secara sporadis dan tidak berperan dalam metabolisme primer organisme. Senyawa-senyawa yang bersifat menghambat tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelompok utama, seperti fenis, propian, asetogenin, terpenoid, dan alkoloid (Whittaker dan Fenny,1971).

Hambatan dan gangguan allelopati dapat terjadi pada perbandingan dan perpanjangan sel, aktivitas geberelin dan IAA, penyerapan hara mineral, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan stomata, sistem protein, dan aktivitas enzim tanaman. Adanya asam virulat dan asam kumurat dapat menghambat pembentukan dan transportasi asam amino (Rice, 1974).

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya daya hambat senyawa kimia penyebab allelopati dari tanaman, antara lain: macam tanaman yang menghasilkan, macam tanaman yang dipengaruhi, keadaan pada waktu sisa tanaman mengalami perombakan, dan sebagainya.

Beberapa jenis tumbuhan yang diketahui mempunyai efek allelopati adalah: Pinus merkusii, Imperata cylindrica, Musa spp. dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *