Akuakultur merupakan sektor yang cukup produktif saat ini dan terus berkembang, dan produktivitasnya mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan pangan manusia. Komoditas akuakultur yang menjanjikan saat ini adalah udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Udang vannamei memiliki beberapa nama, seperti whiteleg shrimp (Inggris), crevette pattes blances (Perancis), dan camaron patiblanco (Spanyol).

Udang vannamei ini berasal dari perairan Amerika dan mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2001. Sampai saat ini komoditas ini sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia dan dikembangkan oleh para petani dan pemerintah melalui suatu balai penelitian mengenai bagaimana cara budidaya tentang udang vannamei.

Permintaan udang jenis ini sangat besar baik pasar lokal maupun internasional, karena memiliki keunggulan nilai gizi yang sangat tinggi serta memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi menyebabkan pesatnya budidaya udang vannamei.

Udang Vannamei

Taksonomi Udang Vannamei

Udang vannamei digolongkan ke dalam genus Penaeid pada filum Arthropoda. Ada ribuan spesies di filum ini. Namun, yang mendominasi perairan berasal dari subfilum Crustacea. Ciri-ciri subfilum Crustacea yaitu memiliki 3 pasang kaki berjalan yang berfungsi untuk mencapit, terutama dari ordo Decapoda, seperti Litopenaeus chinensis, L. indicus, L. japonicus, L. monodon, L. stylirostris, dan Litopenaeus vannamei.

Berikut tata nama udang vannamei menurut ilmu taksonomi.

  • Kingdom : Animalia
  • Subkingdom : Metazoa
  • Filum : Arthropoda
  • Subfilum : Crustacea
  • Classis : Malacostraca
  • Subclassis : Eumalacostraca
  • Superordo : Eucarida
  • Ordo : Decapoda
  • Subordo : Dendrobrachiata
  • Familia : Penaeidae
  • Genus : Litopenaeus
  • Spesies : Litopenaeus vannamei

Morfologi

Tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vannamei sudah mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut .

  1. Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).
  2. Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.
  3. Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.

Berikut ini adalah bagian-bagian dari tubuh udang vannamei

vannamei 4

1. Kepala (thorax)

Kepala udang vannamei terdiri dari antena, antenula, mandibula, dan 2 pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada chepalothorax yang dihubungkan oleh coxa. Bentuk perioda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara coxa dan dactylus, terdapat ruang yang berturut-turut disebut basis, ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies Pennaeid dalam taksonomi.

2. Perut (abdomen)

Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson.

C. Moulting

Genus Pennaeid mengalami pergantian kulit (moulting) secara periodik untuk tumbuh, termasuk udang vannamei. Proses moulting berlangsung dalam 5 tahap yang bersifat kompleks, yaitu postmoulting awal, postmoulting lanjutan, intermoult, persiapan moulting (premoult), dan moulting (ecdysis) (Tabel 1). Proses moulting diakhiri dengan pelepasan kulit luar dari tubuh udang. Proses moulting sangat menentukan waktu ablasi (pengangkatan) induk udang di hatchery dan waktu panen yang tepat.

Tabel 1. Fase Moulting Udang Vannamei Dewasa

Fase

Lama

Ciri-ciri

Postmoulting awal

6 – 9 jam

Kulit luar licin, lunak, dan membentuk semacam membran yang tipis dan transparan.

Udang berada di dasar tambak dan diam. Lapisan kulit luar hanya terdiri dari epikutikula dan eksokutikula.
Endoskutikula belum terbentuk

Postmoulting lanjutan

1- 1,5 hari

Epidermis mulai mensekresi endoskutikula. Kulit luar, mulut, dan bagian tubuh lain tampak mulai mengeras. Udang mulai mau makan.

Intermoult

4 – 5 hari

Kulit luar mengeras permanen. Udang sangat aktiv dan nafsu makan kembali normal.

Persiapan (Moulting Premoult)

8 – 10 hari

Kulit luar lama mulai memisah dengan lapisan epidermis dan terbentuk kulit luar baru, yaitu epitelkutikula dan eksokutikula baru dibawah lapisan kulit luar yang lama. Sel-sel epidermis membesar. Pada tahap akhir, kulit luar mengembang seiring peningkatan volume cairan tubuh udang (haemolymp) karena menyerap air.

Moulting ( ecdysis)

30 – 40 detik

Terjadi pelepasan atau ganti kulit luar dan tubuh udang. Kulit udang yang lepas disebut exuviae

1. Proses Moulting

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan moulting tergantung jenis dan umur udang. Saat udang masih kecil (fase tebar atau PL 12), proses moulting terjadi setiap hari. Dengan bertambahnya umur, siklus moulting semakin lama, antara 7 – 20 hari sekali.

Nafsu makan udang mulai menurun pada 1 – 2 hari sebelum moulting dan aktivita
s makannya berhenti total sesaat akan moulting. Persiapan yang dilakukan udang vannamei sebelum mengalami moulting yaitu dengan menyimpan cadangan makanan berupa lemak di dalam kelenjar pencernaan (hepatopankreas).

Umumnya, moulting berlangsung pada malam hari. Bila akan moulting, udang vannamei sering muncul ke permukaan air sambil meloncat-loncat. Gerakan ini bertujuan membantu melonggarkan kulit luar udang dari tubuhnya. Pada saat moulting berlangsung, otot perut melentur, kepala membengkak, dan kulit luar bagian perut melunak. Dengan sekali hentakan, kulit luar udang terlepas.

Gerakan tersebut merupakan salah satu cara mempertahankan diri karena cairan moulting (semacam lendir) yang dihasilkan dapat merangsang udang lain untuk mendekat dan memangsa (kanibalisme). Udang vannamei akan tampak lemas dan berbaring di dasar perairan selama 3 – 4 jam setelah proses moulting selesai.

2. Faktor – faktor Moulting

Moulting akan terjadi secara teratur pada udang yang sehat. Bobot badan udang akan berambah setiap kali mengalami moulting (Tabel 2). Faktor-faktor yang mempengaruhi moulting massal yaitu kondisi lingkungan, kejala pasang, dan terjadi penurunan volume air atau surut.

Tabel 2. Interval Moulting dan Penambahan Bobot Badan

Bobot (gr)

Moulting (hari)

2 – 5

7 – 8

6 – 9

8 – 9

10 – 15

9 – 12

16 – 22

12 – 13

23 – 40

14 – 16

Sumber : Chanratcakool, 1995

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya moulting

Air pasang dan surut

Air pasang yang disebabkan oleh bulan purnama bisa merangsang proses moulting pada udang vannamei. Hal ini terutama banyak terjadi pada udang vannamei yang dipelihara di tambak tradisional. Di alam, moulting biasanya terjadi berbarengan dengan saat bulan purnama. Saat itu, air laut mengalami pasang tertinggi sehingga perubahan lingkungan tersebut sudah cukup merangsang udang untuk melakukan moulting. Oleh karena itu, di tambak tradisional tampak jelas karena air di tambak hanya mengandalkan pergantian air dari pasang surut air laut. Penambahan volume air pada saat bulan purnama dapat menyebabkan udang melakukan moulting. Penurunan volume air tambak saat persiapan panen juga dapat menyebabkan moulting. Moulting sebelum panen bisa menyebabkan persentase udang yang lembek (soft shell) meningkat.

Kondisi lingkungan

Proses moulting akan dipercepat bila kondisi lingkungan mengalami perubahan. Namun demikian, perubahan lingkungan secara drastis dan disengaja justru akan menimbulkan trauma pada udang. Beberapa tindakan tersebut diantaranya terlalu sering mengganti air tambak, tidak hati-hati saat menyipon (membersihkan tambak), dan pemberian saponin yang berlebihan.

Kegagalan Moulting dan Pencegahannya

Proses moulting dapat berjalan tidak sempurna atau gagal bila kondisi fisioligis udang tidak normal. Kegagalan tersebut menyebabkan udang menjadi lemah karena tidak mempunyai cukup energi untuk melepas kulit lama menjadi kulit baru. Udang yang tidak melakukan moulting dalam waktu lama menunjukkan gejala kulit luar ditumbuhi lumut dan protozoa. Usaha pencegahan kegagalan bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti lebih sering mengganti air tambak.

Tingkah Laku Makan

Udang termasuk golongan omnivora atau pemakan segala. Beberapa sumber pakan udang antara lain udang kecil (rebon), phytoplankton, copepoda, polychaeta, larva kerang, dan lumut.

Udang vannamei mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yan terdiri dari bulu-bulu halus (setae). Organ sensor ini terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antena, dan maxilliped. Dengan bantuan sinyal kimiawi yang ditangkap, udang akan merespon untuk mendekati atau menjauhi sumber pakan. Bila pakan mengandung senyawa organik, seperti protein, asam amino, dan asam lemak maka udang akan merespon dengan cara mendekati sumber pakan tersebut.

Untuk mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang memiliki capit. Pakan langsung dijepit menggunakan capit kaki jalan, kemudian dimasukkan kedalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk kedalam kerongkongan dan oesophagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara kimiawi terlebih dahulu oleh maxilliped di dalam mulut.

Pigmentasi

Pigmentasi atau perubahan warna kulit berhubungan dengan kesehatan udang. Warna kulit juga bisa digunakan sebagai acuan kualitas udang yang akan dipanen, seperti nilai gizi, kesegaran dan rasa. Warna udang dipengaruhi chromatophore yang terdapat pada sel-sel epidermis di dalam tubuh. Pigmen utama pada udang vannamei yaitu karotenoid yang dominan terdapat di eksoskeleton. Kadar karotenoid semakin berkurang seiring pertumbuhan udang akibat proses moulting. Namun demikian, kehilangan pigmen pada udang yang dibudidayakan dapat diganti dengan sumber karotenoid yang berasal dari pakan alam atau pakan pabrik.

Karotenoid udang menimbulkan warna merah, kehijauan, kecokelatan, dan kebiruan. Warna-warna tersebut dipengaruhi oleh lingkungan budidaya. Udang yang dibudidayakan dalam dengan tingkat kecarahan yang sangat tinggi dalam waktu yang lama akan berwarna kusam. Sebaliknya, udang yang dipelihara dalam air yang banyak mengandung lumut usus (enteromorpha) akan berwarna kehijauan. Kekurangan karotenoid pada udang vannamei bisa menyebabkab eksoskeleton tampak kusam dan pudar.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa karotenoid merupakan provitamin A yang membentuk jaringan epidermis dan mukosa sehingga udang lebih tahan terhadap serangan bakteri dan jamur. Selain itu, karotenoid juga berfungsi untuk menjaga permeabilitas membran sel dan meningkatkan daya tahan tubuh (imunologi).

Siklus Hidup Penaeus vannamei

Udang biasa kawin di daerah lepas pantai yang dangkal. Proses kawin udang meliputi emindahan spermatophore dari udang jantan ke udang betina. Peneluran bertempat pada daerah lepas pantai yang lebih dalam. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang disebut nauplii/ nauplius (Perry, 2011). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea. Tahap kedua ini memakan alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis mulai terlihat seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Di habitat alaminya,  postlarva akan migrasi menuju estuarin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan akan kembali ke laut terbuka saat dewasa. Udang dewasa adalah hewan bentik yang hidup di dasar laut (Anonim 2, 2011).

siklus hidup vanamei.png
(Stewart, 2005)

Reproduksi Udang

Sistem reproduksi Penaeus vannamei betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif dari udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan menjadi dikelilingi oleh sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk melalui sel-sel folikel (Wyban et al., 1991).  

Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apendiks maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang berdiferensiasi dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah chitinous spermatophore (Wyban et al., 1991). Leung-Trujillo (1990) menemukan bahwa jumlah spermatozoa berhubungan langsung dengan ukuran tubuh jantan. 

Kawin dan Bertelur

Perilaku kawin pada Penaeus vannamei pada tangki maturasi dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti temperatur air, kedalaman, intensitas cahaya, fotoperiodisme, dan beberapa faktor biologis seperti densitas aerial dan rasio kelamin (Yano et al., 1988). Menurut Dunham (1978) dalam Yano, et al (1988), bahwa adanya perilaku kawin pada krustasea disebabkan adanya feromon. Udang jantan hanya akan kawin dengan udang betina yang memiliki ovarium yang sudah matang.  Kontak antena yang dilakukan oleh udang jantan pada udang betina dimaksudkan untuk pengenalan reseptor seksual pada udang (Burkenroad, 1974, Atema et al., 1979, Berg and Sandfer, 1984 dalam Yano, et al., 1988).

Proses kawin alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari (Berry, 1970, McKoy, 1979 dalam Yano, 1988). Tetapi, udang Penaeus vannamei paling aktif kawin pada saat matahari tenggelam. Spesies Penaeus vannamei memiliki tipe thelycum tertutup sehingga udang tersebut kawin saat udang betina pada tahap intermolt atau setelah maturasi ovarium selesai, dan udang akan bertelur dalam satu atau dua jam setelah kawin (Wyban et al., 2005).

Peneluran terjadi saat udang betina mengeluarkan telurnya yang sudah matang. Proses tersebut berlangsung kurang lebih selama dua menit.  Penaeus vannamei  biasa bertelur di malam hari atau beberapa jam setelah kawin. Udang betina tersebut harus dikondisikan sendirian agar perilaku kawin alami muncul (Wyban et al., 1991).  

DAFTAR PUSTAKA

ADIYODI, K. G. AND R. G. ADIYODI, 1970. Endocrine control of reproduction in decapod crustacea. Biol. Rev. 45: 121-165

ANONIM 1, 2007. Penaeus vannamei. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Penaeus_vannamei (Tanggal akses: 22 Juli 2007)

ANONIM 2, 2011.  Shrimp Farm. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Shrimp _farm (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

AQUACOP, 1975. Maturation and spawning in captivity of penaeid shrimp: Penaeus merguiensis (de Man), P. japonicus (Bate), P. aztecus (Ives), Metapenaeusensis (de Haan) and P. semisulcatus (deHaan). Proc. World Marine culture. Soc. 6: 123- 132

ARCE, STEVE M., M. M. SHAUN, ARGUE, BRAD J., 2011. Artificial insemination and spawning of pacific white shrimp litopenaeus vannamei: implications for a selective breeding program. Diperoleh dari: http://www. lib. noaa. gov/japan/aquaculture/proceedings/report28/Arce. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

ARNSTEIN, D. R. AND T. W. BEARD. 1975. Induced maturation of prawn Penaeus orientalis (Kishinouyi) in the laboratory by means of eyestalk removal. Aquaculture. 5: 411-412

CAILLOUET, C. W., 1972. Ovarian maturation induced by eyestalk ablation in pink shrimp, Penaeus duorarum (Burkenroad). Proc. World Marine culture. Soc. 3: 205-225

CHEN, J. C. AND T. S. CHIN, 1988. Aquaculture. 69: 253-262. COURTLAND, SAM, 1999. Recirculating System Technology For Shrimp Maturation. Diperoleh dari: http://aquaneering. com/article. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

DURONSLET, M., A. I. YUDIN, R. S. WHELLER AND W. H. CLARK, JR. 1975. Light and fine structural studies of natural and artificially induced egg growth of penaeid shrimp. Proc. World Marine culture. Soc. 6: 105-122

HAMEED, A. K. AND S. N. DWIVEDI, 1977.  Acceleration of prawn growth by cauterization of eye stalks and using Actes indicus as supplementary feed. J. India Fish. Assoc. Bombay, 3-4 (1-2): 136-138

LEUNG-TRUJILLO, J. R., 1990. Male reproduction in penaeid shrimp: sperm quality and spermatophore production in wild and captive populations. M. S. thesis, Dept. of Wildlife and Fisheries Sciences, Texas A&M Univ., College Station, TX. p. 91

PERRY, HARRIET M., 2011,  Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diperoleh dari: http://www. dmr. state. ms. us/dmr. css (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

STEWART, ROBERT, 2005. Invertebrates: The Other Food Source. Diperoleh dari: http://oceanworld. tamu. edu/resources/oceanography-book/invertebrates. htm (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

TREECE, G. D. AND J. M. FOX, 1993. Design, Operation and Training Manual for an Intensive Culture Shrimp Hatchery, with Emphasis on P. monodon and P. vannamei. Texas A&M Univ., Sea Grant College Program, Bryan, Texas, Pub. 93-505. p. 187

WEAR, R. G. AND A. SANTIAGO, JR., 1976. Crustaceana. 31(2): 218-220 WYBAN, JAMES A., SWEENEY, JAMES N., 1991.  Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawaii

YANO, I., R. A. KANNA, R. N. OYAMA, and J. A. WYBAN. 1988. Mating Behavior in the Penaeid Shrimp Penaeus vannamei. Marine Biology. 97:171-175

YANO, I., B. TSUKIMURA, J. N. SWEENEY AND J. A. WYBAN, 1988.  Induced ovarian maturation of Penaeus vannamei by implantation of lobster ganglion. Journal of the World Aquaculture Society. 19(4): 204- 209.

1 Komentar pada “Udang Vannamei”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *