Dalam meningkatkan produksi pada usaha budidaya udang Vannamei untuk memenuhi syarat gizi diperlukan pakan buatan. Yang dimaksud pakan buatan ialah pakan yang diramu dari berbagai macam bahan. Pakan harus mengandung nutrisi yang lengkap dan seimbang bagi kebutuhan ikan atau udang. Karena nutrisi merupakan salah satu aspek yang sangat penting, jika makanan yang diberikan pada ikan mempunyai nilai nutrisi yang cukup tinggi, maka tidak saja memberikan kehidupan pada ikan tetapi juga akan mempercepat pertumbuhan. Seperti halnya hewan lainnya, udang juga memerlukan nutrien tertentu dalam jumlah tertentu pula untuk pertumbuhan, pemeliharaan tubuh dan pertahanan diri terhadap penyakit. Nutrien ini meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.

a. Protein

Kebutuhan udang akan protein akan lebih besar dibandingkan dengan organisme Lainnya. Fungsi protein di dalam tubuh udang antara lain untuk :

  • Pemeliharaan jaringan
  • Pembentukan jaringan
  • Mengganti jaringan yang rusak
  • Pertumbuhan

Umumnya protein yang dibutuhkan oleh udang dalam prosentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya. Protein merupakan nutrien yang paling berperan dalam menentukan laju pertumbuhan udang. Kebutuhan udang akan protein berbeda-beda untuk setiap stadia hidupnya, pada stadis larva kebutuhan protein lebih tinggi dibandingkan setelah dewasa. Hal ini disebakan pada stadia larva pertumbuha udang lebih pesat dibanding yang dewasa. Disamping itu sumber protein yang didapatkan oleh udang juga berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan kebiasaan makan dari udang dimana pada stadia larva mereka cenderung bersifat karnivora. Makanan yang baik bagi udang Vannamei adalah yang mengandung protein paling bagus minimal 30% serta kestabilan pakan dalam air minimal bertahan selama 3-4 jam setelah ditebar.

b. Lemak

Lemak mengandung kalori hampir dua kali lebih banyak dibandingkan dengan protein maupun karbohidrat, karena perannya sebagai sumber energi sangat besar meskipun kadarnya dalam makanannya relatif kecil. Fungsi lemak dalam tubuh udang antara lain:

  • Sumber energi
  • Membantu penyerapan kalsium dan vitamin A dari makanan
  • Asam lemak penting bagi udang adalah asam linolenat, asam lemak ini banyak terdapat pada bagian kepala udang, didalam tubuh udang kelebihan lemak disimpan dalam bentuk trigliserida.

Disamping asam lemak essensial udang juga membutuhkan klesterol dalam makanannya, sebab udang tak mampu mensintesa nutrien itu dalam tubuh udang. Kolesterol berperan dalam proses moulting. Penambahan kolesterol di dalam tubuh udang melalui makanan akan sangat berpengaruh pada kadar kolesterol, kebutuhan kolesterol diperkirakan sebanyak 0,5%.

c. Karbohidrat

Berbeda dengan hewan lainnya karbohidrat dalam tubuh udang tidak digunakan sebagai sumber energi utama. Kebutuhan udang akan karbohidrat relatif sedikit. Pendayagunaan akan karbohidrat di dalam tubuh udang tergantung dari jenis karbohidrat dan jenis udangnya. Secara umum peranan karbohidrat di dalam tubuh udang adalah :

  • Di dalam siklus krebs Penyimpanan glikogen
  • Pembentukan zat kitin
  • Pembentukan steroid dan asam lemak

Kadar karbohidrat di dalam tubuh udang akan mempengaruhi kandungan lemak dan protein tetapi tidak mempengaruhi kandungan kolesterol di dalam tubuh. Kandungan karbohibrat untuk makanan larva udang diperkirakan lebih rendah 20%.

d. Vitamin

Kebutuhan udang akan vitamin relatif lebih sedikit, tetapi kekurangan salah satu vitamin dapat menghambat pertumbuhan. Tiap-tiap jenis vitamin mempunyai fungsi yang berbeda-beda, secara umum kegunaan vitamin bagi udang adalah untuk :

  • Pigmentasi, peranan dari vitamin A (karoten)
  • Laju pertumbuhan pertumbuhan peranan dari vitamin C
  • Kelebihan vitamin akan bersifat racun atau antagonis terhadap fungsi fisiologis udang.

e. Mineral

Sumber mineral utama bagi udang adalah air laut. Mineral dalam tubuh udang berperan dalam pembentukan jaringan, proses metabolisme, pigmentasi dan untuk mempertahankan keseimbangan osmisis cairan tubuh dengan lingkungannya. Kebutuhan udang akan unsur Ca dan P yang optimum bagi udang diperkirakan 1,2 : 1,0. Kelebihan mineral dalam tubuh akan dapat menurunkan laju pertumbuhan dan mengganggu pigmentasi udang).

DAFTAR PUSTAKA

ADIYODI, K. G. AND R. G. ADIYODI, 1970. Endocrine control of reproduction in decapod crustacea. Biol. Rev. 45: 121-165

ANONIM 1, 2007. Penaeus vannamei. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Penaeus_vannamei (Tanggal akses: 22 Juli 2007)

ANONIM 2, 2011.  Shrimp Farm. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Shrimp _farm (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

AQUACOP, 1975. Maturation and spawning in captivity of penaeid shrimp: Penaeus merguiensis (de Man), P. japonicus (Bate), P. aztecus (Ives), Metapenaeusensis (de Haan) and P. semisulcatus (deHaan). Proc. World Marine culture. Soc. 6: 123- 132

ARCE, STEVE M., M. M. SHAUN, ARGUE, BRAD J., 2011. Artificial insemination and spawning of pacific white shrimp litopenaeus vannamei: implications for a selective breeding program. Diperoleh dari: http://www. lib. noaa. gov/japan/aquaculture/proceedings/report28/Arce. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

ARNSTEIN, D. R. AND T. W. BEARD. 1975. Induced maturation of prawn Penaeus orientalis (Kishinouyi) in the laboratory by means of eyestalk removal. Aquaculture. 5: 411-412

CAILLOUET, C. W., 1972. Ovarian maturation induced by eyestalk ablation in pink shrimp, Penaeus duorarum (Burkenroad). Proc. World Marine culture. Soc. 3: 205-225

CHEN, J. C. AND T. S. CHIN, 1988. Aquaculture. 69: 253-262. COURTLAND, SAM, 1999. Recirculating System Technology For Shrimp Maturation. Diperoleh dari: http://aquaneering. com/article. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

DURONSLET, M., A. I. YUDIN, R. S. WHELLER AND W. H. CLARK, JR. 1975. Light and fine structural studies of natural and artificially induced egg growth of penaeid shrimp. Proc. World Marine culture. Soc. 6: 105-122

HAMEED, A. K. AND S. N. DWIVEDI, 1977.  Acceleration of prawn growth by cauterization of eye stalks and using Actes indicus as supplementary feed. J. India Fish. Assoc. Bombay, 3-4 (1-2): 136-138

LEUNG-TRUJILLO, J. R., 1990. Male reproduction in penaeid shrimp: sperm quality and spermatophore production in wild and captive populations. M. S. thesis, Dept. of Wildlife and Fisheries Sciences, Texas A&M Univ., College Station, TX. p. 91

PERRY, HARRIET M., 2011,  Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diperoleh dari: http://www. dmr. state. ms. us/dmr. css (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

STEWART, ROBERT, 2005. Invertebrates: The Other Food Source. Diperoleh dari: http://oceanworld. tamu. edu/resources/oceanography-book/invertebrates. htm (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

TREECE, G. D. AND J. M. FOX, 1993. Design, Operation and Training Manual for an Intensive Culture Shrimp Hatchery, with Emphasis on P. monodon and P. vannamei. Texas A&M Univ., Sea Grant College Program, Bryan, Texas, Pub. 93-505. p. 187

WEAR, R. G. AND A. SANTIAGO, JR., 1976. Crustaceana. 31(2): 218-220 WYBAN, JAMES A., SWEENEY, JAMES N., 1991.  Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawaii

YANO, I., R. A. KANNA, R. N. OYAMA, and J. A. WYBAN. 1988. Mating Behavior in the Penaeid Shrimp Penaeus vannamei. Marine Biology. 97:171-175

YANO, I., B. TSUKIMURA, J. N. SWEENEY AND J. A. WYBAN, 1988.  Induced ovarian maturation of Penaeus vannamei by implantation of lobster ganglion. Journal of the World Aquaculture Society. 19(4): 204- 209.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *