Klasifikasi

  • Regnum      : Plantae (Tumbuhan)
  • Divisio         : Magnoliophyta
  • Classis         : Magnoliopsida
  • Ordo           : Lamiales
  • Familia       : Acanthaceae
  • Genus         : Avicennia
  • Species       : Avicennia marina

(Linnaeus, 1759)

Sinonim : Avicennia intermedia Griffith; Avicennia mindanaense Elmer; Avicennia sphaerocarpa Stapf ex Ridley.

Nama Daerah :

Nama daerah atau nama lokal dari mangrove ini adalah Api-api putih, api-api abang, sia-sia putih, sie-sie, pejapi, nyapi, hajusia, pai.

Gambaran Umum

Avicennia marina merupakan pelopor dari spesies mangrove, yang mungkin paling luas dari semua mangrove, mulai luas di seluruh indo-pasifik bagian Barat. berupa belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar,  dengan ketinggian pohon mencapai 30 meter dan tumbuh di atas lumpur berpasir, pada bagian tepi menjorok ke laut. Ada yang unik dari populasi  ini, dimana lebih toleran terhadap dingin (di daerah Australia misalnya) (Duke, 2006).

Avicennia marina memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus), akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning, tidak berbulu (Duke, 2006).

DESKRIPSI TUMBUHAN

Daun

Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah pada bagian tubuh tumbuhan yang lainnya. Bagian batang tempat duduknya atau melekatnya daun dinamakan buku-buku (nodus) batang, dan tempat di atas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya berwarna hijau dan menyebabkan tumbuhan atau daerah-daerah yang ditempati tumbuh-tumbuhan nampak hijau pula. Bagian tubuh tumbuhan ini memiliki umur yang terbatas, yang pada akhirnya akan runtuh dan meninggalkan batang. Pada waktu akan runtuh warna daun akan berubah menjadi kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi kecoklatan. Perbedaan ini juga terlihat pada daun yang masih muda dan daun yang telah dewasa. Daun yang muda biasanya berwarna keputih-putihan, ungu, ataupun kemerahan, sedangkan daun dewasa warnanya hijau sesungguhnya (Tjitrosoepomo, 2007).

Daun-daun tunggal, bertangkai, berhadapan, bertepi rata, berujung runcing atau membulat; helai daun seperti kulit, hijau mengkilap di atas, abu-abu atau keputihan di sisi bawahnya, sering dengan kristal garam yang terasa asin (Ini adalah kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut); pertulangan daun umumnya tak begitu jelas terlihat. Kuncup daun terletak pada lekuk pasangan tangkai daun teratas. Bentuk daun elliptical-lanceolata atau ovate-elliptica pj= 7 cm, l=4 cm (Wijayanti, 2008).

Batang

Batang dari Avicennia marina mempunyai cabang-cabang horizontal  yang menunjukkan pertumbuhan yang terus-menerus. Kulit batang halus berwarna keputihan sampai dengan abu-abu kecoklatan dan retak-retak. Ranting dengan buku-buku bekas daun yang menonjol serupa sendi-sendi tulang dengan permukaan licin hingga pecah-pecah vertikal, biasanya seperti serpihan, diameter batang bisa mencapai 40 cm lebih (Wijayanti, 2008).

Akar

Avicennia marina memiliki akar berupa akar nafas (pneumatofora). Pada Avicennia pneumatofora merupakan cabang tegak dari akar horizontal yang tumbuh di bawah tanah. Pada tumbuhan ini bentuknya seperti pensil atau pasak dan umumnya hanya tumbuh setinggi 30 cm, yang muncul dari substrat serupa paku yang panjang dan rapat dan muncul ke atas lumpur di sekililing pangkal batangnya. Di teluk Botany, Sidney dapat dijumpai Avicennia marina dengan pneumatofora setinggi lebih dari 28 m, meskipun kebanyakan tingginya hanya sekitar 4 m (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

Bunga

Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul diujung tandan, bau menyengat dan banyak nectar. Terletak di ujung tangkai atau di  ketiak daun dekat ujung. Bunga-bunga duduk (sessile), membulat ketika kuncup, berukuran kecil antara 0,3-1,3 cm, berkelamin dua, kelopak 5 helai, mahkota kebanyakan 4 (jarang 5 atau 6) helai, kebanyakan kuning atau jingga kekuningan dengan bau samar-samar, benang sari kebanyakan 4, terletak berseling dengan mahkota bunga (Noor, 2006).

Buah dan Biji

  • Buah: berupa kapsul yang memecah (dehiscent) menjadi dua, 1-4 cm panjangnya, hijau abu-abu, berbulu halus di luarnya;
  • Vivipar, dimana biji berkecambah saat buahnya belum gugur, masih melekat di rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera tumbuh sebegitu terjatuh atau tersangkut di lumpur.

(Kartawinata, 1979).

HABITUS DAN HABITAT

Habitat :

Terletak pada zona paling luar atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur, agak lembek, dangkal, dengan kadar garam agak tinggi. (Wijayanti dkk, 2005).

Habitus :

Berupa Pohon kecil atau besar, tinggi hingga 30 m, dengan tajuk yang agak renggang (Anonim, 1997).

Persebaran Sebaran :

Avicennia marina tumbuh tersebar di sepanjang pantai Afrika Timur dan Madagaskar hingga menuju India, Indo-Cina, Cina Selatan, Taiwan, Thailand, seluruh kawasan Malesia, Kepulauan Solomon,  New Caledonia, Australia dan bagian utara New Zealand.  (Anonim, 1997)

DIAGRAM DAUN

Jika kita perhatikan daun berbagai jenis tumbuhan, akan terlihat, bahwa ada diantaranya yang:

  • Pada tangkainya hanya terdapat satu helaian daun saja. Daun yang demikian dinamakan daun tungga (folium simplex),
  • Tangkainya bercabang-cabang, dan baru pada cabang tangkai ini terdapat helaian daunnya, sehingga di sini pada satu tangkai terdapat lebih dari satu helaian daun. Daun dengan susunan yang demikian disebut daun majemuk (folium compositum) (Tjitrosoepomo, 1993).

Avicennia marina memiliki daun-daun tunggal, bertangkai, berhadapan, bertepi rata, berujung runcing atau membulat; helai daun seperti kulit, hijau mengkilap di atas, abu-abu atau keputihan di sisi bawahnya, sering dengan kristal garam yang terasa asin (Ini adalah kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut); pertulangan daun umumnya tak begitu jelas terlihat. Kuncup daun terletak pada lekuk pasangan tangkai daun teratas.  Bentuk daun elliptical-lanceolata atau ovate-elliptica pj= 7 cm, l=4 cm( anonym, 2012).

Tumbuhan mangrove mengembangkan berbagai cara untuk mengatasi kehilangan air melalui daun. Mereka dapat mengatur pembukaan stomata dan orientasi daun, sehingga mengurangi serapan sinar matahari dan evaporasi. Sebagian tumbuhan mangrove memiliki daun keras, tebal, berlilin atau berbulu rapat untuk mereduksi hilangnya air. Beberapa daun bersifat sukulen untuk menyimpan air dalam jaringan (Setyawan dkk, 2002).

Tumbuhan mangrove merupakan lumbung sejumlah besar daun yang kaya nutrien yang akan diuraikan oleh fungi dan bakteri atau langsung dimakan kepiting yang hidup di lantai hutan. Garam yang tetap terserap ke dalam tubuh dengan cepat diekskresikan oleh kelenjar garam di daun, sehingga daun tampak seperti ditaburi Kristal garam dan terasa asin (Setyawan dkk, 2002 ).

Diagram tata letak daun atau disingkat diagram daun

Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada setiap lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya dan di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5 lingkaran, jadi setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetikya dalam diagram daun akan merupakan suatu garis spiral yang putarannya semakin keatas digambar semakin sempit (Sudarsono, 2005: 67).

Untuk Avicennia marina ini menurut perhitungan diagram tata letak daun menurut rumus  2/5 .

Rumus daun 2/5, angka 2 menunjukkan banyaknya putaran dan angka 5 banyaknya daun yang dilalui yang dihitung mulai dari nol. Sehingga dapat dihitung sudut dirvergensinya 2/5 x 3600 = 1440. Sudut Divergensi: sudut yang terbentuk antara bidang tegak melalui sehelai daun dengan bidang tegak melalui helai daun berikutnya. Besarnya sudut divergensi antara daun yang berurutan tidak menghalangi jalannya sinar matahari bagi daun yang lain.

MANFAAT TUMBUHAN

Avicenia kayunya dapat dipakai untuk bangunan rumah (pilar, atap dll.), selain itu juga digunakan untuk membuat mebel, perahu. Kayunya juga digunakan untuk membuat kayu bakar, dan juga pulp. Kayunya yang keras sangat tahan terhadap serangan rayap. Pohon Avicennia marina mempunyai kemampuan mengakumulasi logam berat yang tinggi. Pohon ini memiliki system penanggulangan materi toksik dengan cara melamahkan efek racun melalui pengenceran (dilusi) yaitu dengan menyimpan banyak air untuk mengencerkan konsentrasi logam berat dalam jaringan tubuhnya sehingga mengurangi toksisitas logam tersebut (Dahuri, 1996).

Daun api-api (Avicennia marina) merupakan salah satu tumbuhan  yang dimanfaatkan sebagaibahan pakan ternak dan dipakai sebagai obat anti fertilitas tradisional oleh masyarakat pantai. Ekstrak dari tumbuhan ini berpotensi sebagai obat anti fertilitas. Hampir seluruh bagian tumbuhan ini dapat dimanfaatkan seperti akar, kulit, batang, daun, bunga atau biji, bahkan eksudat tanamannya (zat nabati yang secara spontan keluar, dikeluarkan, atau diekstrak dari jaringan seltanaman). Daun api-api mengandung senyawa aktif glikosida triterpena yang mempunyai struktur siklik yang relatif komplek dan sebagian besar merupakan senyawa alkohol, aldehid atau asam karboksilat (Wijayanti, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Aluri, R.J. 1990. Observations on the floral biology of certain mangroves. Proceedings of the Indian National Science Academy, Part B, Biological Sciences, 56 (4) : 367‐374

Anonim. 1997. National Strategy for Mangrove Management in Indonesia. Volume 1: Strategy and Action Plan. Volume 2: Mangrove in Indonesia Current Status. Jakarta: Office of the Minister of Environment, Departement of Forestry, Indonesian Institute of Science, Department of Home Affairs, and The Mangrove Foundation

Birkeland, C. 1983. Influences of Topography of Nearby Land Masses in Combination with Local Water Movement Patterns on the nature of Nearshore Marine Communities, Productivity and Processes in Island Marine Ecosystem. Dunedine: UNESCO Report in Marine Science No. 27

Blasco, F. 1992. Outlines of ecology, botany and forestry of the mangals of the Indian subcontinent. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier

Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Liechtenstein J.Cramer Verlag

Clarke, P.J. and Myerscough, P.J. 1991. Floral biology and reproductive phenology of Avicennia marina in south‐eastern Australia. Australian Journal of Botany, 39: 283‐293

Dahuri R, J. Rais, S.P.Ginting dan M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: P.T. Saptodadi

Duke, N.C. 2006. Australia’s Mangroves: The authoritative guide to Australia’s mangrove plants. Brisbane: University of Queensland

FAO. 1985. Mangrove Management in Thailand, Malaysia and Indonesia. Rome: FAO Environment Paper 3

FAO. 1982. Managenet and Utilization of Mangrove in Asia and the Pacific. Rome: FAO Environment Paper 3

Field, C. 1996. Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International Tropical Timber Organization and International Society for Mangrove Ecosystems

Giesen, W. 1991. Checklist of Indonesian Fresh Water Aquatic Herbs. PHPA/AWB Sumatra Wetland Project Report No. 27. Jakarta: Asian Wetland Bureau-Indonesia

Goldman, R.C. and Horne, 1983. Lymnology. New York: McGraw Hill International Book Company

Hill, C.J. 1992. Temporal changes in abundance of two lycaenid butterflies (Lycaenidae) in relation to adult food resources. Journal of the Lepidopteristsʹ Society, 46 (3) : 173‐181

Hockey, M.J. and de Baar, M. (1991). Some records of moths (Lepidoptera) from mangroves in southern Queensland. Australian Entomological Magazine, 18 (2) : 57‐60

Jayatissa, L.P., F. Dahdouh-Guebas, and N. Koedam. 2002. A revi-ew of the floral composition and distribution of mangroves in Sri Lanka. Botanical Journal of the Linnean Society 138: 29-43

Kairo, J.G., F Dahdouh-Guebas, J. Bosire, and N. Koedam. 2001. Restoration and management of mangrove systems — a lesson for and from the East African region. South African Journal of Botany 67: 383-389

Kartawinata, K. 1979. Status pengetahuan hutan bakau di Indonesia. Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Jakarta: MAP LON LIPI

Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia; Bal & Lombok. Denpasar: The Development of Sustainable Mangrove Management Project, Ministry of Forest Indonesia and Japan International Cooperation Agency

La Rue, C.D. and T.J. Muzik. 1954. Does mangrove really plant its seedling. Nature 114: 661-662

Lovelock, C. 1993. Field Guide to the Mangroves of Queensland. Queensland: Australian Institute of Marine Science. www.aims.gov.au

Lugo A.E. and S.C. Snedaker. 1974. The ecology of mangroves. Annual Review of Ecology and Systematics 5: 39-63

MacNae, W. 1968. A general account of the fauna and flora of mangrove swamps and forests in the Indo-West-Pacific region. Advances in Marine Biology 6: 73-270

Ng, P.K.L. and N. Sivasothi (ed.). 2001. A Guide to Mangroves of Singapore. Volume 1: The Ecosystem and Plant Diversity and Volume 2: Animal Diversity. Singapore: The Singapore Science Centre

Noor, Rusila Yus. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor : PHKA/WI-IP, Bogor

Noske, R.A. 1993. Bruguiera hainesii: Another bird‐pollinated mangrove? Biotropica, 25 (4) : 481‐483

Noske, R.A. 1995. The ecology of mangrove forest birds in Peninsular Malaysia. Biotropica, 137 (2) : 250‐263

Nybakken, J.W. 1993. Marine Biology, An Ecological Approach. Third edition. New York: Harper Collins College Publishers

Ong, J.E. 2002. The hidden costs of mangrove services: use of mangroves for shrimp aquaculture. International Science Round Table for the Media, Bali Indonesia, 4 June 2002. Joint event of ICSU, IGBP, IHDP, WCRP, DIVERSITAS and START

Rabinowitz, D. 1978. Early growth of mangrove seedlings in Panama, and hypothesis concerning the relationship of dispersal and zonation. Journal of Biogeography 5: 113-133

Soemodihardjo, S. and L. Sumardjani. 1994. Re-afforestation of mangrove forests in Indonesia. Proceeding of the Workshop on ITTO Project. Bangkok, 18-20 April 1994

Spalding, M., F. Blasco, and C. Field. 1997. World Mangrove Atlas. Okinawa: International Society for Mangrove Ecosystems

Steenis, C.G.G..J. van. 1958. Ecology of mangroves. In Flora Malesiana. Djakarta: Noordhoff-Kollf

Tomlinson, C.B. 1986. The Botany of Mangroves. Cambridge: Cambridge University Press

Walsh, G.E. 1974. Mangroves: a review. In Reimold, R.J., and W.H. Queen (ed.). Ecology of Halophytes. New York: Academic Press

Widodo, H. 1987. Mangrove hilang ekosistem terancam. Suara Alam 49: 11-15

Wijayanti, E.D. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Api-api (Avicennia marina) Terhadap Resorpsi Embrio, Berat Badan dan Panjang Badan Janin Mencit (Mus Musculus). Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Vol. 1 – No. 1 / January-2008

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *