Pencemaran sungai di Surabaya dan sekitarnya sudah demikian parah. Bahkan, yang ditemukan di sepanjang Kali Brantas, termasuk Kali Surabaya, sangat mengejutkan, yaitu mulai dari berkurangnya jenis ikan, ikan bibir sumbing hingga perubahan jenis kelamin gara-gara tercemar pil KB (keluarga berencana). Setelah dilakukan sensus, populasi ikan berjenis kelamin betina mendominasi hasil sensus ini. Artinya, semakin banyak manusia yang membuang kotoran ke Kali Surabaya, maka populasi ikan jenis betina semakin besar. “Sebab kotoran manusia membawa hormon reproduksi, bisa membuat ikan berubah jenis kelamin. Maksudnya, ikan yang seharusnya jantan malah tumbuh menjadi betina,” ujar Andreas (Surya.co.id, 2010).

Menurut berbagai penelitian, perubahan ini salah satunya disebabkan karena pil KB yang diminum perempuan. Ia menjelaskan, air seni akseptor KB pil mengandung hormon esterogen sintetis yang merupakan komponen utama pil itu. Ketika air seni itu dibuang di Kali Surabaya, maka air kali itu tercemar hormon esterogen sintetis tersebut. Pencemaran itulah yang diduga kuat oleh Andreas telah menyebabkan ikan jantan menjadi betina (Surya.co.id, 2010).

Jenis kelamin suatu organisme ditentukan oleh beberapa faktor seperti faktor lingkungan dan kondisi genetic. Secara genetis, kromosom memegang peranan penting dalam menentukan jenis kelamin (kromosom seks atau gonosom) . Untuk mendapatkan jenis kelamin ikan sesuai dengan yang diinginkan dapat dilakukan beberapa cara yatiu perlakuan dengan hormon, manipulasi kromosom, dan kombinasi keduanya serta melalui proses hibridisasi, ginogenesis, androgenesis (Arifin, 2005).

Sex reversal adalah suatu metode untuk mengubah jenis kelamin ikan secara buatan dari betina menjadi jantan atau sebaliknya. Perubahan jenis kelamin dimungkinkan karena pada fase pertumbuhan gonad belum terjadi diferensiasi kelamin dan belum ada pembentukan steroid sehingga pembentukan kelamin dapat diarahkan dengan menggunakan hormon steroid sintesis. Hormon mengatur beberapa fenomena reproduksi misalnya proses diferensiasi gonad, pembentukan gamet, ovulasi, perubahan morfologis atau fisiologis pada musim pemijahan atau produksi feromon. Diferensiasi gonad terjadi lebih dahulu diikuti fenomena lain (Arifin, 2005).

Steroid seks yang berfungsi mengubah jenis kelamin adalah androgen (testosterone, metltestoteron dll) yang memberikan efek maskulinitas dan estrogen (estron, estrodiol dll) yang memiliki pengaruh feminitas (Arifin, 2005).

Pengaruh hormon terhadap spesies ikan telah teliti Gurrero (1974) dalam Rustidja (1998) yang menyatakan bahwa pemberian methiltestosteron pada Tilapia zillii setelah berumur 4 minggu tidak mempengaruhi perubahan dan perkembangan kelamin. Hal ini berbeda dengan yang dikutip Yamazaki (1983) dalam Rustidja (1998) bahwa perendaman telur-telur yang sudah ada bintik mata dan larva ikan coho salmon dalam larutan methiltestosteron dengan konsentrasi 25 µg/l berhasil mengubah kelamin jantan mencapai 100%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa perlakuan dosis hormon harus tepat dan pada umur ikan yang tepat, serta dosis bersifat spesifik bagi setiap spesies ikan.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dominasi ikan betina yang ada pada Kali Brantas disebabkan oleh hormon estrogen sintetis yang dibawa oleh kotoran manusia sehingga mempengaruhi perkembangan jenis kelamin ikan pada masa embrio. Hal ini dimungkinkan bahwa limbah kotoran manusia yang bercampur hormon estrogen telah mencapai ambang batas. Karena populasi penduduk yang semakin padat dan semakin banyaknya limbah yang dibuang ke sungai. Sehingga pencemaran pun terjadi dan menyebabkan ketidakseimbangan ekologis pada spesies tertentu.

 

RUJUKAN:

Arifin, T.M. dan Handajani, H. 2005. Optimalisasi Dosis Hormon Metiltestosteron dan Lama Perendaman Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Terhadap Keberhasilan Kelamin Jantan. Laporan Penelitian. FPP-UMM. Malang

Surya.co.id, 2011. Sensus Ikan Ecoton-Jasa Tirta – Minum Pil KB, Ikan Jantan Jadi Betina. Terbit Rabu, 13 Juli 2011 | 07:09 WIB

Rustidja, 1998. Sex Reversal Ikan Nila. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *