Proses Pembenihan Secara Konvensional

Proses pembenihan yang biasa dilakukan pada kebanyakan pembenuran (hatchery) udang komersial adalah dengan cara perkawinan alami untuk menghasilkan larva. Keuntungan perkawinan alami dibandingkan dengan inseminasi buatan adalah jumlah nauplii yang dihasilkan tiap udang betina sekali bertelur lebih banyak dibandingkan nauplii yang dihasilkan dengan metode inseminasi buatan (Yano et al., 1988).

Induk udang Penaeus vannamei dikumpulkan dan dipelihara dalam kondisi normal untuk maturasi dan kawin secara alami. Setiap sore dilakukan pemeriksaan untuk melihat udang betina yang sudah kawin lalu dipindah ke tangki peneluran (spawning tank). Betina yang sudah kawin akan memperlihatkan adanya spermatophore yang melekat. Saat pagi hari, betina yang ada di dalam tangki peneluran dipindahkan lagi ke dalam tangki maturasi (maturation tank). Dalam waktu 12-16 jam, telur-telur dalam tangki peneluran akan berkembang menjadi larva tidak bersegmen atau nauplii (Wyban et al., 1991).

Menurut Caillouet (1972), Aquacop (1975), dan Duronslet et al.,  (1975), ovum pada udang betina biasanya mengalami reabsorbsi tanpa adanya peneluran lagi. Masalah tersebut dapat dikurangi dengan cara ablasi salah satu tangkai mata yang menyediakan hormon yang berfungsi sebagai stimulus untuk reabsorbsi ovum (Arnstein dan Beard, 1975; Wear dan Santiago, 1977). Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa ablasi juga dapat meningkatkan pertumbuhan udang (Hameed dan Dwivedi, 1977). Ablasi dilakukan dengan cara membakar, mengeluarkan isi dari salah satu batang mata keluar melalui bola mata, dan melukai batang mata dengan gunting (Wyban et al., 2005).

Udang yang akan diablasi dipersiapkan untuk memasuki puncak reproduktif. Jika ablasi dilakukan saat tahap premolting maka akan menyebabkan molting, ablasi segera setelah udang molting dapat menyebabkan kematian, dan ablasi selama intermolt menyebabkan perkembangan ovum (Adiyodi dan Adiyodi, 1970).

Sistem Maturasi

Gedung Maturasi

Induk udang membutuhkan suasana lingkungan yang tenang untuk maturasi yang baik. Oleh karena itu, fasilitas maturasi harus dibagi menjadi tiga ruangan yang terpisah, yaitu ruang tangki maturasi, ruang tangki peneluran (spawning tanks), dan ruang untuk persiapan makanan (Wyban et al., 1991).

Ruang Tangki Maturasi (Maturation Tanks) Setiap tangki maturasi difasilitasi oleh pipa untuk penyediaan air laut. Flownwater digunakan pada tiap jalur suplai untuk mengontrol pertukaran air. Saluran udara yang terletak di tengah tangki menyediakan udara menuju tangki. Saluran udara tersebut juga digunakan untuk menjaga kedalam air dalam tangki tetap pada 18 inchi (Wyban et al., 1991).

Kotak lampu 75 watt digantungkan diatas tangki. Plastik diffuser pada kotak lampu berfungsi untuk menyebarkan cahaya, dan mencegah cahaya yang berlebihan masuk dalam tangki dibawahnya. Mesin “sunrise/sunset” (lampu yang dikontrol oleh waktu dan rheostat) mengontrol fotoperiodisme dalam masing-masing tangki dan meningkatkan cahaya secara bertahap dari keadaan gelap gulita menjadi cahaya penuh pada pertengahan hari (Wyban et al., 1991). Tangki maturasi dicat hitam agar menciptakan suasana remang-remang. Ruang tangki maturasi ini juga dijaga pada temperatur 27oC untuk membuat kondisi lingkungan menyerupai lingkungan alami udang Penaeid.

Ruang Tangki Peneluran (Spawning Tanks)

Spawning tanks memiliki dasar yang rata. Masing-masing tangki berisi air laut dan saluran udara di tengah tangki. Kaca fiber ditambahkan dalam tangki sehingga enam ekor udang yang sudah kawin dapat bertelur dengan segera (Wyban et al. 1991).

pembenihan1
Tangki Maturasi (Courtland, 1999)

Sistem Air

Kualitas air harus diatur dan dipelihara pada kondisi menyerupai lingkungan alami udang Penaeid. Air laut yang dimasukkan ke dalam tangki maturasi dan spawning tanks harus mengalami beberapa perlakuan dahulu, antara lain penghilangan materi organik yang terlarut dengan cara filtrasi dan pengendapan, ozonisasi untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme, dan pendinginan air (25oC-28oC) agar didapat suhu yang menyerupai habitat asli udang Penaeid. Thermostat diatur pada suhu 27oC dan fluktuasi temperatur harian diatur agar kurang dari 0, 5oC (Wyban et al., 1991).

Alarm

Sistem alarm mengawasi beberapa parameter yang penting dalam sistem maturasi. Satu alarm terhubung pada kedalaman air dalam reservoir. Jika air turun sebanyak 15 cm dalam tangki, alarm akan berbunyi. Sistem alarm lain terhubung pada suplai udara (Wyban et al., 1991).

Manajemen Sistem Maturasi

Stocking

Setiap tangki maturasi ditempati oleh udang jantan yang lebih banyak dari pada jumlah udang betina (5-6 udang/m2). Udang jantan seharusnya memiliki berat 40 gram atau lebih. Karena pertumbuhan udang jantan yang lambat, berat udang dibawah 40 gram biasanya menyebabkan udang tersebut kuran produktif. Udang jantan dengan melanisasi yang parah pada petasma atau spermatophore tidak dimasukkan ke dalam tangki maturasi. . Berat udang betina seharusnya mencapai 48 gram atau lebih (Wyban et al., 1991).

Penandaan (Tagging)

Setiap induk harus ditandai sehingga tiap individu dapat dihitung dan diidentifikasi. Penanda diselipkan pada batang mata. Sistem ini juga berfungsi untuk mencari beberapa hewan untuk dieliminasi (Wyban et al., 1991).

Ablasi

Setelah satu minggu dalam tangki maturasi, udang induk betina dilakukan ablasi pada batang mata. Pemotongan batang mata menggunakan pisau atau gunting yang dibakar sebelumnya agar steril. Saat udang betina sudah ditandai dan diablasi, sistem operasi menuju ke aktivitas rutin harian (Wyban et al., 1991).

Pengembalian Udang Betina yang Kawin

Udang betina yang kawin pada malam sebelumnya dipindahkan dari spawning tanks ke dalam tangki maturasi (Wyban et al., 1991).

Pembersihan Tangki

Tangki maturasi dibersihkan sebelum pemberian pakan pertama dengan cara siphoning. Tangki dibersihkan dari sisa molting, makanan sisa, feses dan udang mati. Aliran udara di non aktifkan selama siphoning untuk mengumpulkan semua kotoran yang ada dalam tangki untuk meningkatkan visibilitas (Wyban et al., 1991).

Pemberian Pakan

Kemampuan bertelur induk dapat ditingkatkan dengan cara pemberian makan berupa hewan laut segar atau beku, seperti tiram, cumi, atau poliseta. Udang induk yang diberi makan oleh organisme tersebut memiliki kemampuan reproduksi yang lebih tinggi daripada udang yang diberi makan pakan kering. Nutrisi yang baik dapat meningkatkan reproduksi udang dengan meningkatkan sintesis hormon steroid, kuning telur, dan transportasi kuning telur dari hepatopankreas menuju ovarium. Selama masa reproduksi, udang membutuhkan lebih banyak vitamin C yang memainkan peranan penting dalam perubahan kolesterol menjadi steroid (Wyban et al., 1991).

Pakan diberikan empat kali sehari dengan alternatif pakan berupa cumi dan cacing darah. Cacing darah dibuat menjadi semi cair dan dipotong-potong menjadi sepertiga panjangnya, sedangkan cumi dipotong kotak-kotak. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi turbiditas air (Wyban, et al.,  1991).

Pemantauan Kualitas Air

Oksigen terlarut atau DO dan temperatur diukur setiap hari menggunakan DO meter. pH air juga diukur (Wyban et al.,  1991). Selain itu salinitas, konsentrasi amonium, dan nitrit juga dipantau setiap hari. Menurut Treece dan Fox (1993), air laut memiliki rata-rata konsentrasi NH4-N sebesar 0. 02-0. 04 mg/L (ppm), konsentrasi NO2-N (nitrit) sebesar 0. 01-0. 01 mg/L (ppm), dan konsentrasi NO3-N (nitrat) sebesar 0. 1-0. 2 mg/L (ppm). Menurut Chen dan Chin (1988) bahwa konsentrasi nitrit 0. 1 m/L (ppm) atau lebih dapat merusak reproduksi.

Penghitungan Telur dan Nauplii

Telur dan nauplii dalam tiap spawning tanks dihitung dengan mengambil lima sampel (masing-masing 100 ml) lalu dihitung dengan menggunakan bantuan lampu meja. Jumlah telur dan nauplii pada tiap sampel dihitung dan rata-rata dari lima sampel dikalkulasi lalu diekstrapolasi dengan volume air dalam spawning tanks untuk menentukan jumlah total telur dan nauplii (Wyban et al., 1991).

Panen Nauplii

Pemanenan nauplii dilakukan dengan membuka pipa saluran yang berada di tengah tangki. Lampu di atas pipa tersebut dinyalakan untuk menarik nauplii yang bersifat fototaksis positif sehingga nauplii berenang ke arah pipa tersebut. Nauplii dipanen dan dimasukkan ke dalam kantung plastik (Wyban et al., 1991).

Persiapan Spawning Tanks

Setelah nauplii dipanen dan dihitung,  spawning tanks diberi perlakuan klorinasi untuk membersihkan tangki tersebut lalu dikeringkan. Setelah itu, tanki dibilas dengan air dan dicuci dengan sabun atau deterjen. Pipa saluran udara juga dibersihkan seluruhnya. Kemudian, spawning tanks diisi lag dengan 200 liter air laut dan diaerasi. Tiga ppm EDTA ditambahkan ke dalam masing-masing spawning tanks. Treflan ditambahkan ke dalam spawning tanks dengan konsentrasi 0, 1 ppm untuk mencegah tumbuhnya fungus epizootik (Wyban et al., 1991).

Pengontrolan Suplai Air

Pertukaran air total setiap hari sekitar 200% dari volume tangki. Masalah turbiditas dapat terjadi saat pertukaran air lebih rendah dari 200% volume tangki (Wyban et al., 1991).

Pengawasan Tingkat Intensitas Cahaya

Fotoperiodisme dalam ruang maturasi adalah 13 jam terang dan 11 jam gelap. Udang jantan akan mulai kawin kurang lebih satu jam setelah lampu dipadamkan. Perubahan pencahayaan secara bertahap bertujuan agar udang tidak mengalami stres (Wyban et al., 1991).

Pencarian Udang Betina yang Sudah Kawin

Saat proses ini berlangsung, saluran udara di nonaktifkan untuk visibilitas maksimum. Udang betina dengan ovarium yang berkembang akan terlihat menyendiri. Penyeleksian udang betina dilakukan dengan menggunakan jaring. Spermatophore dapat hilang dengan mudah jadi pengambilan induk betina yang sudah kawin harus cepat dan hati-hati (Wyban et al., 1991).

Jika spermatophore terlihat pada udang betina, maka udang betina tersebut dipindahkan ke salah satu spawning tanks. Warna penanda, jumlah, waktu, nomer spawning tank, warna ovarium, dan kondisi spermatophore tiap udang betina yang kawin dicatat (Wyban et al., 1991).  Setelah semua udang betina dengan ovarium yang berkembang diperiksa dan dipindahkan, betina yang belum kawin dilepaskan dan saluran udara diaktifkan lagi. Pemeriksaan betina tiap hari berguna untuk mendeteksi pola perkembangan ovarium (Wyban et al., 1991).

Pemeriksaan Akhir

Setiap hari, pemeriksaan akhir harus dilakukan pada sistem aerasi, aliran air, pakan, timers, dan pembersihan umum. Semua itu dilakukan untuk meyakinkan bahwa semua sistem berjalan dengan baik (Wyban et al., 1991).

Pembenihan Dengan Cara Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan biasa dilakukan oleh penyedia induk udang yang bersifat unggul, seperti udang dengan sertifikasi SPF (Specific Pathogen Free). Teknik ini harus dilakukan agar keturunan yang diperoleh dapat dipastikan dari induk yang unggul dan tidak terjadi inbreeding. Teknik untuk menghasilkan induk unggul ini membutuhkan prosedur dan peralatan yang sangat canggih dan mahal, salah satu caranya adalah menggunakan teknik fingerprinting, dan lain-lain. Selain itu, jumlah telur dan nauplii yang dihasilkan lebih sedikit bila dibandingkan dengan perkawinan secara alami (Arce et al., 2011).

Pertama-tama, udang betina ditangkap dan dilihat perkembangan ovariumnya. Betina yang sudah memiliki ovarium berkembang akan memiliki warna kehijauan pada lobus ovarium yang terletak pada bagian dasar carapace (Arce et al., 2011).

pembenihan2
Udang dengan ovarium yang sudah berkembang

Spermatophore yang sudah berkembang dari udang jantan dikeluarkan secara manual dengan cara menekan spermatophore secara hati-hati sampai spermatophore keluar dari lubang genital. Spermatophore yang sehat tidak menunjukkan adanya melanisasi, berwarna putih, agak bengkak, dan keras jika disentuh (Arce, 2011).

Udang betina yang ovariumnya sudah berkembang dipegang pelan sampai thelycum nya terlihat. Thelycum tersebut dikeringkan dengan menggunakan kertas handuk (Arce et al., 2011).

Spermatophore ditempatkan di antara jari dan index finger lalu spermatophore ditekan dari ujung yang tertutup ke ujung yang terbuka. Tekanan tersebut membuat pecah kantung sperma dan membebaskan sperma yang membentuk tetesan antara jari dan index finger.  Hal tersebut juga memisahkan massa sperma dari bahan gelatin dan spermatophore (Arce et al., 2011).

pembenihan3
Pembebasan sperma dari spermatophore (Arce et al., 2011)

Udang betina dipegang rapat-rapat lalu tetesan sperma diletakkan ke dalam thelycum (gambar 5). Setelah sperma diletakkan pada posisi yang tepat, posisi poreopod dikembalikan ke posisi semula yang membantu ‘mengunci’ masa sperma. Udang betina tersebut ditempatkan pada spawning tank semaleman (gambar 6). Proses ini harus diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 menit untuk mengurangi tekanan pada udang betina (Arce et al., 2011).

pembenihan4
Penempatan masa sperma pada thelycum (Arce et al, 2008)
pembenihan5
Inseminasi buatan yang sudah selesai dilakukan melalui Teknik spermatophore tunggal (Arce et al, 2008)

DAFTAR PUSTAKA

ADIYODI, K. G. AND R. G. ADIYODI, 1970. Endocrine control of reproduction in decapod crustacea. Biol. Rev. 45: 121-165

ANONIM 1, 2007. Penaeus vannamei. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Penaeus_vannamei (Tanggal akses: 22 Juli 2007)

ANONIM 2, 2011.  Shrimp Farm. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Shrimp _farm (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

AQUACOP, 1975. Maturation and spawning in captivity of penaeid shrimp: Penaeus merguiensis (de Man), P. japonicus (Bate), P. aztecus (Ives), Metapenaeusensis (de Haan) and P. semisulcatus (deHaan). Proc. World Marine culture. Soc. 6: 123- 132

ARCE, STEVE M., M. M. SHAUN, ARGUE, BRAD J., 2011. Artificial insemination and spawning of pacific white shrimp litopenaeus vannamei: implications for a selective breeding program. Diperoleh dari: http://www. lib. noaa. gov/japan/aquaculture/proceedings/report28/Arce. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

ARNSTEIN, D. R. AND T. W. BEARD. 1975. Induced maturation of prawn Penaeus orientalis (Kishinouyi) in the laboratory by means of eyestalk removal. Aquaculture. 5: 411-412

CAILLOUET, C. W., 1972. Ovarian maturation induced by eyestalk ablation in pink shrimp, Penaeus duorarum (Burkenroad). Proc. World Marine culture. Soc. 3: 205-225

CHEN, J. C. AND T. S. CHIN, 1988. Aquaculture. 69: 253-262. COURTLAND, SAM, 1999. Recirculating System Technology For Shrimp Maturation. Diperoleh dari: http://aquaneering. com/article. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

DURONSLET, M., A. I. YUDIN, R. S. WHELLER AND W. H. CLARK, JR. 1975. Light and fine structural studies of natural and artificially induced egg growth of penaeid shrimp. Proc. World Marine culture. Soc. 6: 105-122

HAMEED, A. K. AND S. N. DWIVEDI, 1977.  Acceleration of prawn growth by cauterization of eye stalks and using Actes indicus as supplementary feed. J. India Fish. Assoc. Bombay, 3-4 (1-2): 136-138

LEUNG-TRUJILLO, J. R., 1990. Male reproduction in penaeid shrimp: sperm quality and spermatophore production in wild and captive populations. M. S. thesis, Dept. of Wildlife and Fisheries Sciences, Texas A&M Univ., College Station, TX. p. 91

PERRY, HARRIET M., 2011,  Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diperoleh dari: http://www. dmr. state. ms. us/dmr. css (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

STEWART, ROBERT, 2005. Invertebrates: The Other Food Source. Diperoleh dari: http://oceanworld. tamu. edu/resources/oceanography-book/invertebrates. htm (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

TREECE, G. D. AND J. M. FOX, 1993. Design, Operation and Training Manual for an Intensive Culture Shrimp Hatchery, with Emphasis on P. monodon and P. vannamei. Texas A&M Univ., Sea Grant College Program, Bryan, Texas, Pub. 93-505. p. 187

WEAR, R. G. AND A. SANTIAGO, JR., 1976. Crustaceana. 31(2): 218-220 WYBAN, JAMES A., SWEENEY, JAMES N., 1991.  Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawaii

YANO, I., R. A. KANNA, R. N. OYAMA, and J. A. WYBAN. 1988. Mating Behavior in the Penaeid Shrimp Penaeus vannamei. Marine Biology. 97:171-175

YANO, I., B. TSUKIMURA, J. N. SWEENEY AND J. A. WYBAN, 1988.  Induced ovarian maturation of Penaeus vannamei by implantation of lobster ganglion. Journal of the World Aquaculture Society. 19(4): 204- 209.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *