Teknik Pembesaran

Kegiatan yang dilakukan dalam Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) :

  1. Persiapan lahan.
  2. Pemilihan benur.
  3. Penebaran benur.
  4. Pemberian pakan.
  5. Sampling.
  6. Pemberantasan hama penyakit.
  7. Pengelolaan kualitas air.
  8. Pemanenan dan penanganan hasil.

Persiapan Lahan

Persiapan lahan merupakan awal dari kegiatan pembesaran yang bertujuan agar produksi atau budidaya berjalan dengan baik. Persiapan lahan dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu pengangkutan lumpur, pengeringan, pembakaran jerami, pemasangan kincir, pemasangan jembatan anco, pengisian air.

Persiapan lahan yang kurang baik, akan meningkatkan resiko kegagalan produksi udang, karena siklus pathogen dalam tambak tidak terputus secara sempurna. Berikut ini merupakan tahapan – tahapan persiapan tambak di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang (BPBPLAPU), diantaranya sebagai berikut :

Pengangkutan Lumpur

Lumpur yang terdapat pada petakan merupakan limbah yang berasal dari pakan yang tersisa dan kotoran udang pada produksi terdahulu, biasanya lumpur mengumpul ditengah petakan hal ini disebabkan karena pengadukan oleh kincir.

Pengangkutan lumpur dilakukan setelah beberapa hari setelah panen agar lumpur tidak terlalu basah. Pengangkutan lumpur dilakukan dalam kondisi tanah kering total, terbelah-belah sehingga pada saat pengangkutan tidak sulit. Biasanya pengangkutan lumpur dilakukan bergantung pada kondisi alam dan target produksi, ada kalanya pengangkutan masih dalam keadaan standar untuk mengejar target produksi. Pada proses pengangkutan lumpur ini juga dilakukan pembenahan tanggul dan pematang agar tanggul dan pematang dalam kondisi baik saat digunakan dalam produksi.

Pengangkatan lumpur dilakukan dengan cara membolak-balikan tanah dasar tambak secara manual dengan menggunakan cangkul dimana tanah tersebut digunakan untuk pembenahan tanggul. Pengangkatan lumpur ini dilakukan pada tambak yang sudah lama beroperasi dan sudah banyak mengandung bahan organik, dari sisa pakan yang terbuang dan hasil feses udang.

Pengeringan

Pengeringan adalah pengeluaran air dari tambak hingga kandungan air tanah tambak mencapai 20 – 50%. Pengeringan dilakukan selama 10 hari atau sampai tanah terlihat retak-retak atau bergantung pada musim. Pengeringan bertujuan untuk memutus siklus hidup pathogen dengan cara menghambat sistem tranmisinya, menguapkan gas-gas beracun seperti H2S, dan membantu mikroba melakukan penguraian bahan organik.

Pembakaran Jerami

Tambak yang sudah kering, selanjutnya dilakukan penebaran jerami di seluruh dasar dan pinggir tambak secara merata. Setelah penebaran dilakukan sampai menutupi seluruh permukaan tambak, jerami tersebut dibakar sampai menjadi abu. Tujuan dari pembakaran jerami tersebut adalah agar bakteri-bakteri di dalam tambak ini mati, sehingga tidak ada bibit penyakit yang akan menyebabkan udang menjadi sakit. Perlu kita ketahui bahwa bakteri tidak dapat hidup pada suhu yang tinggi di atas 100 0C. Maka dari pada itu hal yang paling tepat untuk mengatasi bakteri adalah dengan cara pembakaran jerami.

Hasil dari pembakaran jerami tersebut akan menghasilkan abu yang dapat bermanfaat menjadi pupuk untuk kesuburan tanah dan juga membunuh hama-hama yang berada di sekeliling tambak.

Pemasangan Kincir

Pemasangan kincir dilakukan setelah pembakaran jerami. Jumlah kincir dalam 1 petak tambak dengan luas 4.600 m2 yaitu sebanyak 7 unit. Pengoperasian kincir dilakukan secara bergantian, yaitu 4 kincir selama 12 jam dan 3 kincir selama 12 jam juga. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kerusakan pada kincir tersebut.

Penggunaan kincir ditambak bertujuan untuk mensuplai kebutuhan udang akan oksigen terlarut (dissolved oksygen) dalam tambak. Perbandingan jumlah kincir yang akan digunakan dengan jumlah benur yang akan ditebar adalah 1 unit : 50.000 ekor.

Persiapan Tambak

Sebelum kegiatan pengolahan dasar tambak dilakukan hal pertama yaitu dilakukan pemasangan jembatan anco agar memudahkan dalam pemberian pakan dan pada waktu sampling.

Setelah persiapan tambak selesai dan pembakaran jerami sudah sempurna, maka diisi air setinggi 10 cm agar kotoran-kotoran yang ada dalam tambak dapat terangkat dan dapat diserok. Lalu naikkan lagi ketinggian air sampai 30 cm. Setelah itu, pemberian probiotik Thiobacillus sp. sebanyak 5 liter dan bakteri Bacillus sp. sebanyak 20 liter yang diencerkan dalam 100 liter air. Setelah terbuat larutan probiotik lalu disebarkan secara merata ke dalam tambak. Agar penyebaran probiotik dapat merata ke seluruh tambak, maka digunakan kincir air.

Ketinggian air dalam tambak yaitu setinggi 60 cm, maka ketinggian air yang tadinya setinggi 30 cm ditambahkan. Air yang akan digunakan untuk media kelangsungan hidup udang di tambak, adalah air yang berasal dari laut yang sudah melalui petakan tandon. Fungsi utama dari tandon adalah untuk mengendapkan bahan-bahan organik sehingga dapat memperbaiki kualitas. Pemasukan air pertama kali dilakukan pada petak penampungan/ tandon 1 yang dialirkan dengan menggunakan pompa submersible 6”. Dimana pada petakan tandon pertama terdapat pohon bakau atau mangrove, yang berfungsi sebagai biofilter. Air dari tandon 1 dialirkan lagi ke tandon 2 melalui pipa saluran air, dimana pada tandon ini juga terdapat rumput laut (Glacilaria), dan ikan nila merah sebagai biofilter salah satunya untuk menyerap NH3, ¬¬dan sebagai suplai oksigen terlarut (Dissolved Oxygen). Kemudian air dari tandon 2 dilanjutkan ke tandon 3 melalui pipa paralon dimana pada pada saluran ini di pasang membran yang berfungsi sebagai alat pemecah DNA yang berasal dari alam. Alat ini mampu memecahkan DNA dari positif menjadi negatif. Air dari tandin 3 inilah yang yang akan dialirkan ke petak– petak pemeliharaan.

Petakan tambak yang akan ditebari benur harus bebas dari hama agar tingkat kelangsungan hidup udang dapat dicapai seoptimal mungkin (minimal 70%). Untuk itu, air tambak perlu disucihamakan dengan menggunakan pestisida organik yaitu samponin sebanyak 30 ppm kemudian air diaduk dengan pengoperasian kincir.

Pemilihan Benur

Persyaratan kualitatif benur yang dapat dilihat dan diuji adalah :

  • Warna : warna tubuh transparan, kecoklatan atau kehitaman, punggung tidak berwarna keputihan atau kemerahan.
  • Gerakan : gerakan berenang aktif, menentang arus, cenderung mendekat ke arah cahaya (fototaksis positif).
  • Kesehatan dan kondisi tubuh : kondisi tubuh benur yang sehat setelah mencapai ukuran PL 10, organ tubuhnya lengkap, maxilla, mandibula, antenulla dan ekor membuka, hepatopankreas transparan, usus penuh dan gelap.
  • Responsif terhadap rangsangan : benur akan menjentik menjauh dengan adanya kejutan atau jika wadah sampel benur diketuk, dan akan berenang mendekati sumber cahaya jika ada rangsangan cahaya, serta responsif terhadap pakan yang diberikan.

Penebaran Benur

Penebaran benur lebih baik dilaksanakan pada pagi hari pukul 06.00 – 09.00 dengan pertimbangan sebagai berikut:

  • Benur akan mendapat lingkungan media penebaran yang kadar oksigen (DO)nya semakin membaik, penebaran sore hari akan sebaliknya yaitu akan menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air tambak;
  • Pengamatan terhadap benur yang baru disebarkan akan lebih mudah dilaksanakan. Untuk mencegah tingginya tingkat kematian (mortalitas) benur pada saat dan setelah penebaran, dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu terhadap benur yang akan ditebar, baik aklimatisasi salinitas, suhu, maupun pH. Padat penebaran benur udang vannamei yaitu 50 – 75 ekor/m2.

Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan untuk melakukan penebaran benih dengan cara aklimatisasi, diantaranya sebagai berikut :

  • Lakukan penebaran pada pagi hari mulai pukul 05.00 WIB
  • Apungkan kantong plastik benur dalam kondisi benur dalam kondisi tertutup ± 30 menit di dalam tambak
  • Pasang pembatas (tali, bambu) di salah satu sudut tmbak agar kantong plastik tidak berhamburan Buka ikatan kantong plastic
  • Ukur suhu, pH, serta kadar garam dari air media benur dan juga air media tambak
    Perbedaan salinitas tidak boleh lebih dari 5 ppt, suhu tidak boleh lebih dari 2 0C, dan pH tidak boleh lebih dari 0,5
  • Masukan air tambak sedikit demi sedikit hingga perbedaan suhu, salinitas, dan pH tidak terlalu jauh dan relatif sama
  • Masukan kantong plastik ke dalam baskom sebanyak 5 kantong untuk setiap baskom yang telah diberi lubang di dasar dan di bagian samping, amati benur yang telah ditebar kedalam tambak.
  • Padat penebaran udang vannamei adalah 50-75 ekor/ m2.

Pemberian pakan

Berdasarkan spesifikasi teknologi yang akan diterapkan yaitu intensif, maka penyediaan pakan berasal dari pakan tambahan yang telah diolah dalam bentuk Fine crumble dan pellet. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maupun skala laboratorium, pakan udang komersial di Indonesia mengandung protein minimal 30%. Lingkungan budidaya yang dikelola dengan baik sangat dinamis dan mampu menyediakan pakan alami bagi udang dalam tambak.

Pemberian pakan yang diberikan yaitu mempunyai nilai Feeding rate (FR) yaitu 3% dari total biomassa dan pemberian pakan dilakukan secara bertingkat tergantung dari umur udang. Frekuensi pemberian pakan yaitu 4 – 5 kali sehari yag dimulai pada hari pertama dengan dosis disesuaikan dengan ABW dan populasi udang selama pemeliharaan.

Tabel 3. Tabel Pemberian Pakan (Blind Feeding)

Umur

Pakan (kg)

1-5

2

6-10

4

11-15

6

16-20

8

21-25

10

26-30

12

31-40

14

Program pemberian pakan tersebut bersifat fleksibel, dimana jumlah pakan dapat berubah – ubah tergantung pada tingkat nafsu makan udang. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat nafsu makan udang adalah: (1) kondisi tanah dasar tambak; (2) kualitas air; dan (3) tingkat kesehatan udang. Secara praktis, tingkat nafsu makan udang dapat diketahui dengan pengontrolan anco yang dilakukan setiap 1 dan 2 jam setelah pemberian pakan.

Sampling

Kegiatan sampling pertama akan dilakukan pada saat udang mencapai umur 40 hari pemeliharaan di tambak. Sedangkan sampling berikutnya dilakukan 10 hari sekali dari sampling sebelumnya. Adapun maksud dilakukan sampling adalah untuk mengetahui kepadatan (populasi) udang, laju pertumbuhan, dan sekaligus sebagai dasar dalam menetapkan jumlah yang dibutuhkan oleh udang selama pemeliharaan.

Sampling dilakukan mengunakan jala tebar (Felling gear) seluas 4 m2 sebanyak 6 titik. Udang yang tertangkap segera dihitung dan ditimbang untuk menggetahui kepadatan dan berat rata – rata. Setelah itu, udang hasil sampling dikembalikan ke tambak pemeliharaan.

Pemberantasan Hama Penyakit

Hama yang bisaa ditemukan di tambak udang Vanname terdiri dari 3 (tiga) golongan, yaitu: pemangsa (predator), penyaing (kompetitor), dan pengganggu (lihat Tabel 4).

Hama merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu dan bahkan dapat mengancam kehidupan udang Vanname. Untuk itu, hama tersebut harus diantisipasi sedini mungkin agar tingginya mortalitas
udang Vanname yang disebabkan oleh hama dapat ditekan serendah mungkin. Pencegahan dan penanggulangan hama dapat dilakukan dengan cara tertentu, tergantung pada jenis hama yang menjadi sasaran.

Golongan Jenis Hama Spesifikasi

Predator:

  1. Ikan
  2. Ketam
  3. Ular dan Belut
  4. Burung
  5. Manusia
  6. Kakap (Lates calcalifer), Payus (Elops hawaiensis), Kuro (Polynemus sp), Kerong – kerong (Therapon sp), dan Keting (Arius maculates). Kepiting bakau (Scylla serrata), ketam bulu (Sesarma sp).Ular kadut (Cereberus rhynchops), dan Belut (Synbranchus bengalensis).Blekok (Ardeola ralloides speciosa), Cangak (Ardea cinerea rectirostis), Pecuk Gagakan (Phalocrocorax carbo sinensis), dan Pecuk Ulo (Anhinga rufa melanogaster)

Kompetitor:

  1. Ikan Liar
  2. Siput
  3. Udang Liar
  4. Ketam
  5. Mujair (Tilapia mossambica), Belanak (Mugil sp), Pernet (Aplocheilus javanicus), Rekrek (Ambasis gynocephalus).Trisipan (Cerithidea alata; C. quadrata; C. djadjariensis). Udang api, jerbung, mentil, putih, peletok. Ketam (Saesarina sp).

Pengganggu:

  1. Udang Liar
  2. Ketam
  3. Penggerek
  4. Siput
  5. Manusia
  6. Udang tanah (Thalassina anomala), Udang Kerongkong/ Pletok (Thalassina scorpionoides). Ketam Bulu (Saesarina sp) Remis (Teredo navalis) Tritip (Balanus sp), Tiram (Classatrea sp)

Tabel 5. Jenis dan Cara Pencegahan/Penanggulangan Hama

No. Jenis Hama Cara Pencegahan/ Penanggulangan
1. Ikan Liar Pemberian pestisida organik (saponin).
2. Udang Liar Pemasangan saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air secara ketat.
3. Ketam – ketaman Pemasangan pagar plastik di sekeliling tambak
4. Siput dan Penggerek .Pemberian pestisida anorganik (Brestan 60 WP).
5 Burung dan Manusia Memperketat penjagaan/pengotrolan

Jenis penyakit yang sering ditemukan menyerang udang Vanname di tambak akhir – akhir ini adalah Bacterial White Spot Syndrome (BWSS), Taura Syndrome Virus (TSV), Fouling Disease (FD), Black Gill Disease (BGD), dan Infectious Hypodermal Hematopoeitic Necrosis Virus (IHHNV). Beberapa kasus membuktikan bahwa penyakit tersebut belum dapat ditanggulangi secara efektif sehingga tindakan yang tepat dapat dilakukan adalah preventif (pencegahan), seperti:

  • Manajemen kualitas air secara teratur dan kontinyu;
  • Monitoring dan pengelolaan tanah dasar tambak secara intensif;
  • Ketepatan dalam pemberian pakan, baik jumlah, waktu, frekuensi jenis, ukuran, maupun kualitas pakan;
  • Kepadatan penebaran benur dibatasi berdasarkan spesifikasi teknologi yang diterapkan; dan
  • Mendeteksi adanya gejala serangan pathogen baik secara fisik (manual) maupun dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) di laboratorium secara teratur.

Pengelolaan kualitas air

Selama proses pemeliharaan dilakukan pengelolaan kualitas air untuk mencegah dan mengatasi adanya penurunan kualitas air. Jenis kegiatan yang dilakukan tergantung pada hasil monitoring. Monitoring kualitas air dilakukan 3 kali setiap sehari, yaitu pagi, siang, dan sore hari. Adapun kualitas air yang dimonitor meliputi salinitas, suhu, pH. Kecerahan, warna, kadar oksigen terlarut (DO), jenis plankton, dsb.

Pemanenan dan penanganan hasil

Pemanenana akan dilakukan setelah udang mencapai umur 120 hari pemeliharaan di tambak atau disesuaikan dengan laju pertumbuhan udang. Apbila berat rata – rata (ABW) telah mencapai standard permintaan pasar (30 ekor/kg) maka panen dapat dilaksanakan walaupun masa pemeliharaan belum mencapai 120 hari. Proses pemanenan akan dimulai pada malam hari sampai dini hari untuk mencegah hal – hal yang tidak diinginkan. Petak tambak yang akan dipanen dikuras airnya terlebih dahulu mengunakan pintu pengeluaran dan pompa submersible 6”. Setelah air tambak mencapai 50% dari volume semula maka udang segera ditangkap menggunakan jala lempar (felling gear) dan sudu. Kemudian udang ditampung ke dalam wadah yang telah disiapkan sebelumnya.

Sejalan dengan penangkapan udang menggunakan jala lempar dan sudu, pengurasan air tambak terus dilakukan sampai tambak menjadi kering. Setelah itu, sisa udang yang masih dalam tambak segera dikumpulkan menggunakan tangan kosong (ngegogo). Udang hasil panen langsung dicuci dengan air bersih kemudian direndam dalam wadah tertentu (fibreglass) yang telah diisi dengan air es. Setelah itu, udang disortir (dikelompokkan berdasarkan ukuran) kemudian ditimbang dan dipasarkan.

DAFTAR PUSTAKA

ADIYODI, K. G. AND R. G. ADIYODI, 1970. Endocrine control of reproduction in decapod crustacea. Biol. Rev. 45: 121-165

ANONIM 1, 2007. Penaeus vannamei. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Penaeus_vannamei (Tanggal akses: 22 Juli 2007)

ANONIM 2, 2011.  Shrimp Farm. Diperoleh dari: http://en. wikipedia. org/wiki/Shrimp _farm (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

AQUACOP, 1975. Maturation and spawning in captivity of penaeid shrimp: Penaeus merguiensis (de Man), P. japonicus (Bate), P. aztecus (Ives), Metapenaeusensis (de Haan) and P. semisulcatus (deHaan). Proc. World Marine culture. Soc. 6: 123- 132

ARCE, STEVE M., M. M. SHAUN, ARGUE, BRAD J., 2011. Artificial insemination and spawning of pacific white shrimp litopenaeus vannamei: implications for a selective breeding program. Diperoleh dari: http://www. lib. noaa. gov/japan/aquaculture/proceedings/report28/Arce. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

ARNSTEIN, D. R. AND T. W. BEARD. 1975. Induced maturation of prawn Penaeus orientalis (Kishinouyi) in the laboratory by means of eyestalk removal. Aquaculture. 5: 411-412

CAILLOUET, C. W., 1972. Ovarian maturation induced by eyestalk ablation in pink shrimp, Penaeus duorarum (Burkenroad). Proc. World Marine culture. Soc. 3: 205-225

CHEN, J. C. AND T. S. CHIN, 1988. Aquaculture. 69: 253-262. COURTLAND, SAM, 1999. Recirculating System Technology For Shrimp Maturation. Diperoleh dari: http://aquaneering. com/article. pdf (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

DURONSLET, M., A. I. YUDIN, R. S. WHELLER AND W. H. CLARK, JR. 1975. Light and fine structural studies of natural and artificially induced egg growth of penaeid shrimp. Proc. World Marine culture. Soc. 6: 105-122

HAMEED, A. K. AND S. N. DWIVEDI, 1977.  Acceleration of prawn growth by cauterization of eye stalks and using Actes indicus as supplementary feed. J. India Fish. Assoc. Bombay, 3-4 (1-2): 136-138

LEUNG-TRUJILLO, J. R., 1990. Male reproduction in penaeid shrimp: sperm quality and spermatophore production in wild and captive populations. M. S. thesis, Dept. of Wildlife and Fisheries Sciences, Texas A&M Univ., College Station, TX. p. 91

PERRY, HARRIET M., 2011,  Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diperoleh dari: http://www. dmr. state. ms. us/dmr. css (Tanggal akses: 23 Maret 2011)

STEWART, ROBERT, 2005. Invertebrates: The Other Food Source. Diperoleh dari: http://oceanworld. tamu. edu/resources/oceanography-book/invertebrates. htm (Tanggal akses: 24 Maret 2011)

TREECE, G. D. AND J. M. FOX, 1993. Design, Operation and Training Manual for an Intensive Culture Shrimp Hatchery, with Emphasis on P. monodon and P. vannamei. Texas A&M Univ., Sea Grant College Program, Bryan, Texas, Pub. 93-505. p. 187

WEAR, R. G. AND A. SANTIAGO, JR., 1976. Crustaceana. 31(2): 218-220 WYBAN, JAMES A., SWEENEY, JAMES N., 1991.  Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawaii

YANO, I., R. A. KANNA, R. N. OYAMA, and J. A. WYBAN. 1988. Mating Behavior in the Penaeid Shrimp Penaeus vannamei. Marine Biology. 97:171-175

YANO, I., B. TSUKIMURA, J. N. SWEENEY AND J. A. WYBAN, 1988.  Induced ovarian maturation of Penaeus vannamei by implantation of lobster ganglion. Journal of the World Aquaculture Society. 19(4): 204- 209.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *