Sumber daya genetik alami merupakan sumber daya genetis yang belum berubah sifat genetisnya sejak awal sebelum dilakukan pemuliaan maupun erosi genetis. Sumber daya genetis ini sangat esensial sebagai kekayaan variabilitas (Frankel et al, 1995). Sumber daya genetis alami dapat bekembang dengan baik untuk meningkatkan keanekaragaman hayati. Dan sebaliknya keanekaragaman hayati dapat memberikan kesempatan sumber daya genetik alami untuk berkembang dalam suatu ekosistem.

Sumber daya genetik alami perlu dikonservasi untuk menghindari hilangnya data genetik alami tersebut. Sebagai contoh pada pemuliaan tanaman yang telah dipraktekkan di Finlandia selama sekitar seratus tahun. Varietas komersial lama dihasilkan dari pemuliaan tanaman tidak lagi biasa ditanam. Konservasi sumber daya genetik tanaman untuk mempertahankan keanekaragaman genetik untuk kebutuhan petani dan untuk digunakan dalam pemuliaan tanaman dan penelitian. Keragaman genetik yang cukup sangat penting untuk peningkatan genetik dan pemuliaan varietas baru. Kebutuhan masa depan tidak dapat diprediksi, kemungkinan ada kebutuhan untuk mempertahankan beragam pilihan bahan genetik (Oy, 2016).

Pengetahuan masyarakat lokal sangat perlu untuk mempertahankan sumber daya genetik alami. Masyarakat perlu mengetahui status dari sumber daya genetis alami ini, karena semisal sumber daya genetik itu sudah mulai berkurang, maka perlu dilakukan pelestarian untuk menghindari kepunahan sumber daya genetis alami. Pengetahuan masyarakat lokal ini dapat menjadi penghubung sekaligus pengawas dalam konservasi sumber daya genetik alami. Pengawasan dari masyarakat lokal dianggap sangat penting karena masyarakat lokal lah yang sehari-hari hidup di area tersebut. Pengetahuan tentang pentingnya sumber daya genetik alami oleh masyarakat lokal juga dapat membantu dalam pemanfaatan secara ekonomis sehingga akan ada hasrat untuk selalu merawat dan melestarikan sumber daya yang ada. Hal ini akan memicu perilaku yang positif lainnya semisal adanya kearifan lokal yang secara tidak langsung melarang dalam pengerusakan sumber daya yang ada untuk dapat dimanfaatkan dengan bijak.

Seperti yang ditulis oleh Hartini (2009) yang menjelaskan tentang pentingnya kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga keseimbangan lingkungan. Bertahannya kearifan lokal di suatu tempat tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor yang akan mempengaruhi perilaku manusia terhadap lingkungannya. Banyak kearifan lokal yang sampai sekarang terus menjadi panutan masyarakat antara lain di Jawa (pranoto mongso, Nyabuk Gunung, Menganggap Suatu Tempat Keramat); di Sulawesi (dalam bentuk larangan, ajakan, sanksi) dan di Badui Dalam (buyut dan pikukuh serta dasa sila). Kearifan lokal-kearifan lokal tersebut ikut berperan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungannya. Namun demikian kearifan lokal juga tidak lepas dari berbagai tantangan seperti: bertambahnya terus jumlah penduduk, Teknologi Modern dan budaya, Modal besar serta kemiskinan dan kesenjangan. Adapun prospek kearifan lokal di masa depan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat, inovasi teknologi, permintaan pasar, pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di lingkungannya serta berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan langsung dengan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan serta peran masyarakat lokal.

Sumber Esensial dari Variabilitas Genetis dalam merespon tekanan biotik dan abiotik melalui adaptasi

Sumber esensial dari variabilitas genetik dalam meresepon tekanan biotik dan abiotik adalah melalui adaptasi genetik. Menurut review yang dijelaskan oleh Barrett et al (2007) menjelaskan bahwa populasi beradaptasi pada perubahan lingkungan dengan 2 jalur yang berbeda, yaitu seleksi pada variasi genetik yang sudah ada dan mutasi baru. Dibandingkan dengan mutasi baru, adaptasi dari variasi genetik yang ada cenderung menyebabkan evolusi yang cepat, fiksasi lebih banyak alel yang berpengaruh kecil, dan menyebarkan lebih banyak alel resesif.

Adaptasi dari variasi yang ada lebih cepat dari mutasi baru bukan hanya disebabkan oleh alel yang menguntungkan yang sudah tersedia namun juga mereka memulai pada frekuensi yang lebih tinggi. Alasan lain adalah karena alel yang menguntungkan dari variasi yang ada sudah ada lebih lama dari pada mutasi baru dan kemungkinan sudah pernah diuji oleh lingkungan yang sebelumnya. Alasan ketiga adalah penanda molekular dari seleksi tidak sama ketika populasi beradaptasi dari variasi yang ada dari pada mutasi baru (Barrett et al, 2007).

Dari hal penjelasan tersebut sudah jelas bahwa adaptasi genetis merupakan sumber esnsial dari variasi genetis dalam merespon perubahan lingkungan dalam bentuk tekanan biotik ataupun abiotik. Adaptasi genetik dari variasi yang ada menyebabkan eksistensi dari dari alel yang resesif ataupun alel yang berpengaruh kecil menjadi dominan saat terjadi tekanan lingkungan dan membuat variasi yang semula dominan menjadi turun populasinya.

Laporan dari BBC News science (2005) menemukan adanya keterkaitan antara spesies kupu-kupu yang hidup di area geografis yang sama menunjukkan perbedaan corak sayap yang tidak biasa. Warna sayap ini terseleksi untuk memudahkan pengenalan terhadap pasangan potensial. Seleksi ini disebabkan oleh dua faktor yaitu isolasi geografi, isolasi reproduktif, dan tanda pengenal kupu-kupu tersebut. Isolasi geografis bisa dipisahkan oleh gunung dan sungai yang memisahkan populasi selama ratusan generasi. Sedangkan bila tidak dipisahkan secara fisik namun organisme tersebut memutuskan untuk tidak melakukan perkawinan dengan organisme lain yang menyebabkan isolasi genetis disebut isolasi reproduktif. Team Harvard menemukan bahwa kupu-kupu genus Agrodiaetus yang tersebar di Asia mempunyai warna coklat pada betina dan warna yang bervariasi dan silver dan biru ke coklat. Agrodiaetus yang tersebar di geografis berbeda menunjukkan kemiripan yang menyebabkan mating interspesies yang menyebabkan isolasi genetik dan divergensi spesies.

Biodiversitas dapat mempengaruhi stabilitas dalam berfungsinya ekosistem

 Ekosistem dicirikan oleh jaringan hubungan yang kompleks antara individu organisme (yang dibentuk melalui aliran energi dan hara), dan oleh suatu mosaik perputaran arus bolak balik perubahan pada satu sistem yang memungkinkan terjadinya reaksi pada banyak bagian dari sistem yang sama dan pada ekosistem tetangganya. Sudah disadari bersama bahwa ekosistem yang telah berlangsung lama akan mencapai kondisi mantap (steady-state) sebagai ciri sistem terbuka pada umumnya.

Diversitas dapat memberikan peningkatan stabilitas ekosistem namun bukan pengontrol hubungan antara keduanya. Stabilitas ekosistem bergantung pada kemampuan komunitas untuk memberi fungsi dari spesies atau kelompok, yang dapat memenuhi respon diferensial (McCann, 2000). Apabila pada suatu ekosistem mengalami gangguan dari luar maka ekosistem yang stabil akan dapat mempertahankan kondisinya. Keanekaragaman pada komunitas berperan penting dalam mempertahankan kondisi ini karena jika terjadi perubahan lingkungan, peran dari spesies yang terganggu dapat digantikan oleh spesies yang lain dalam komunitas.

Banyak contoh yang melukiskan stabilitas eksistem dikaitkan dengan keanekaragaman ekologis. Ekosistem tundra misalnya, sangat sederhana dalam kaitannya dengan komunitas hewan dan kondisi ini sering memicu terjadinya goyangan populasi hanya karena pengaruh tekanan lingkungan yang kecil. Pada penelitian Myer-Smith, et al, (2011) menjelaskan bahwa pengaruh ekspansi shrub atau semak belukar memicu populasi herbifora yang awalnya tidak berada di daerah itu. Jadi konsep stabilitas lebih ditujukan kepada kemampuan sistem untuk kembali pada kondisi semula setelah terjadinya gangguan terhadap komunitas.

Banyak ekosistem mengalami perubahan berkaitan dengan pengaruh aktivitas manusia yang sering memicu terjadiya perubahan ekologis yang menyebabkan banyak organisme yang tidak mampu menyesuaikan diri. Contoh yang terjadi pada ekosistem hutan hujan tropika yang mengalami pembukaan areal yang cukup luas akan mengubah struktur tanah dan produktivitas lahan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barrett R.D.H. dan Schluter D. (2007) Adaptation from standing genetic variation. 2007Elsevier Ltd. Allrights reserved. doi: 10.1016/j.tree.20 07.09.008

BBC News science (Julianna Kettlewell) (2005). Butterfly unlocks evolution secret. http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/4708459.stm

Frankel O.H., Brown A.H.D. and Burdon J.J. 1995. The Conservation of Plant Biodiversity. Cambridge University Press, Cambridge.

McCann M.S. (2000). The diversity–stability debate. 1205 Docteur Penfield Avenue, Department of Biology, McGill University, Montreal, Quebec, Canada H3A 1B1

Myers-Smith I.H. et al. (2011). Shrub expansion in tundra ecosystems: dynamics, impacts and research priorities. Environ. Res. Lett.6(2011) 045509 (15pp) doi:10.1088/1748-9326/6/4/045509

Oy M. S. 2016. GENETIC RESOURCES – SECURING BIODIVERSITY

Suhartini (2009). Kajian kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan Sumberdaya alam dan lingkungan. Jurusan Pedidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *