Sel line adalah kultur primer yang telah disubkulturkan (atau diturunkan). Istilah ini mengimplikasikan adanya beberapa garis keturunan sel, baik dari fenotip yang sama atau yang berbeda. Jika salah satu garis keturunan sel, yang dipilih dengan kloning, pemisahan sel secara fisik, atau dengan metode lain, memiliki sifat khusus tertentu yang telah teridentifikasi pada sebagian besar sel dalam kultur, sel line ini dikenal sebagai strain sel (Freshney, 1994).

Jika sel line ditransformasi secara in vitro, akan menghasilkan sel line kontinyu (continuous cell line), dan jika diseleksi atau dikloning dan ditandai, akan dikenal sebagai strain sel kontinyu (continuous cell strain). Pada tahap ini, sangat penting untuk mengkonfirmasi identitas sel line dan mengecualikan kemungkinan kontaminasi silang; banyak sel line yang digunakan digunakan biasanya tidak sesuai dengan apa yang diklaim, namun terkontaminasi silang oleh sel HeLa atau beberapa sel line lain yang dapat tumbuh secara cepat (Freshney, 1994).

Subkultur pertama menghasilkan kultur sekunder, sekunder menjadi tersier, dan seterusnya, meskipun dalam prakteknya, nomenklatur ini jarang digunakan di luar kultur tersier. Dalam pekerjaan Hayflick dan rekan-rekannya yang menggunakan fibroblast diploid manusia, masing-masing subkultur dibagi menjadi dua (rasio pemisahan 1: 2), sehingga jumlah turunan sama dengan jumlah generasi. Jumlah turunan adalah jumlah berapa kali kultur telah disubkultur, sedangkan jumlah generasi adalah jumlah duplikasi populasi sel yang telah mengalami pembelahan, karena jumlah duplikasi dalam kultur primer dapat diperkirakan. Ketika rasio pemisahan 1: 2, jumlah turunan diperkirakan sama dengan jumlah generasi. Namun, jika subkultur dilakukan pada rasio pemisahan lebih besar dari 1:2, jumlah generasi akan meningkat lebih cepat dari pada jumlah turunan berdasarkan jumlah duplikasi karena populasi sel telah tumbuh sejak subkultur sebelumnya. Perkiraan ini tidak memperhitungkan hilangnya sel melalui nekrosis, apoptosis, diferensiasi atau penuaan dini dan penarikan dari siklus, yang mungkin berlangsung di setiap siklus pertumbuhan antara masing-masing subkultur (Freshney, 1994).

Reference

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *