Pengelolaan satwa liar yang dilakukan Colorado Parks & Wildlife (CPW) adalah dengan mengedepankan penekanan terhadap predator yang ada untuk meningkatkan populasi rusa keledai (mule deer). Penekanan atas populasi predator untuk meningkatkan populasi rusa keledai tersebut adalah tidak tepat, karena mempengaruhi kestabilan ekosistem. Pembunuhan atas predator singa gunung (mountain lions) dan beruang hitam (black bear) yang dimaksudkan tidak akan meningkatkan populasi rusa keledai, karena daya dukung lingkungan yang tidak mendukung rusa keledai untuk berkembang. Pengelolaan melalui penekanan predasi ditujukan untuk mempengaruhi perubahan dalam pola predasi untuk meningkatkan populasi mangsa. Pengelolaan predasi paling efektif adalah bila jumlah rusa keledai berada di bawah kapasitas dari sumber makanan yang dapat dijangkau, predasi dapat membatasi pertumbuhan populasi, upaya pengendalian yang cukup untuk mengurangi populasi predator, waktu penyingkiran predator yang optimal (misalnya, musim semi), dan upaya pengendalian secara fokus spasial. Pengelolaan predasi tidak efektif ketika populasi rusa terbatasi oleh sumber makanan yang tersedia, terbatasnya jumlah predator, dan pengelolaan predasi tidak fokus penerapan skala besar (Anderson, 2014).

Sumber lain menyebutkan bahwa kontrol pada predasi tidak signifikan dalam meningkatkan jumlah populasi mangsa. Predasi yang dilakukan oleh anjing hutan diduga adalah merupakan faktor utama dalam penurunan populasi rusa keledai di sepanjang bagian timur. Namun, studi yang menginvestigasi respon keseluruhan kawanan rusa keledai pada kontrol anjing hutan secara intensif tidak berhasil membuktikan bahwa jumlah rusa keledai meningkat akibat kontrol terhadap anjing hutan (Gill, et al., 1999).

Pengelolaan rusa keledai harus dilakukan untuk proses jangka panjang, bukan perbaikan yang cepat namun bersifat sementara. Untuk menjaga populasi tetap mencukupi, harus dikelola agar habitat dapat mendukung jumlah hewan dari waktu ke waktu. Pengelolaan yang mungkin untuk meningkatkan populasi rusa keledai adalah dengan merestorasi habitat tempat tinggal rusa keledai. Syarat dasar habitat rusa keledai meliputi kelimpahan sumber makanan herba, vegetasi, dan bentang alam yang menyediakan tempat bersembunyi dan pelindung terhadap suhu, dan akses ke sumber-sumber air. Rusa keledai pada musim panas berada di dataran yang lebih tinggi dan bermigrasi ke hutan yang lebih rendah atau shrublands di musim dingin untuk menemukan makanan, menghindari predator, dan mencari perlindungan dari cuaca yang keras. Oleh karena itu, persiapan musim panas, musim dingin, dan habitat transisi sangat penting untuk mempertahankan populasi rusa keledai (NRCS, 2005).

Pengelolaan satwa liar yang disarankan adalah pengelolaan yang mengedepankan penanganan pada semua aspek yang mendukung yaitu kualitas habitat, kuantitas habitat, predator, cuaca, kematian pada jalan raya, penyakit, dan kompetisi antar spesies. Contoh yang mendukung dari cara ini dijelaskan oleh UTAH DIVISION OF WILDLIFE RESOURCES (UDWR) bahwa populasi rusa di Utah telah berkurang dari awalnya pada tahun 1960 dan 1980-an, tetapi telah relatif stabil dan sedikit meningkat dalam 2 dekade terakhir dan menurun selama waktu itu. Rusa keledai menghadapi sejumlah faktor yang dapat memiliki dampak kumulatif pada kemampuan mereka untuk berkembang. Kehilangan dan degradasi habitat, ditambah dengan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan, membuat dampak yang paling signifikan pada jumlah rusa tersebut. Faktor-faktor lain seperti predasi dan penyakit yang intensif ketika kualitas habitat berkurang (UDWR, 2014).

Jika tujuannya adalah untuk mencapai populasi kawanan rusa yang diinginkan di Utah, pengerjaan habitat yang luas perlu dilakukan untuk merehabilitasi rentang toleransi rusa dan mengimbangi kecenderungan iklim terhadap kondisi panas dan kering. Sangat penting bahwa DWR, lembaga negara, suku asli Amerika, badan-badan federal, organisasi konservasi, pemilik tanah swasta, dan lain-lain bekerja sama untuk melindungi dan meningkatkan habitat rusa jika kita berharap untuk mempertahankan dan memperluas populasi sejenis rusa untuk memenuhi tujuan pengelolaan (UDWR, 2014).

Peran seni sebagai media kampanye konservasi biodiversitas di bumi

Peran seni sangat penting dalam kapanye konservasi, karena dengan seni seorang bisa dengan cepat memahami apa yang dimaksudkan dan lebih mudah untuk menarik perhatian masyarakat atas pesan yang disampaikan. Hal ini akan membuat komunikasi yang baik antar scientist dan masyarakat. Komunikasi ini perlu untuk menggambarkan apa yang sebenarnya telah terjadi di alam dari kacamata scientist dan dapat diterjemahkan dengan baik oleh masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat melalui program seni dipandu oleh kebutuhan untuk menciptakan dan mempertahankan tingkat kesadaran masyarakat dalam konservasi keanekaragaman hayati. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat, partisipasi dan pendidikan publik sangat penting dalam mempromosikan keanekaragaman hayati. Biodiversitas yang dilindungi akan meningkatkan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan sementara mengurangi perubahan iklim.

Ada banyak usaha yang telah dilakukan dalam upaya koservasi biodiversitas dengan menggunakan media seni, salah satunya adalah yang telah dilakukan oleh Judy Helgen, peneliti dari Minnesota Pollution Control Agency pada tahun 1996 tentang malformasi misterius yang terjadi pada katak. Dia memberi perhatian lebih pada penyebab deformasi tersebut yang kemungkinan selanjutnya akan menular kepada manusia.  Setelah satu dekade, dia menemukan bahwa malformasi tersebut disebabkan oleh cacing pita parasit trematoda yang disebut Ribeiroia ondatrae. Trematoda tersebut dapat menginfeksi spesies katak hanya saat perkembangan kaki. Parasit itu masuk ke dalam tunas anggota tubuh dari berudu dan menciptakan kista yang mencegah semua sel di tungkai berkembang dari berkomunikasi satu sama lain. Akibatnya, beberapa kaki dapat tumbuh di mana hanya satu harus memiliki (Gambar 1). Tragisnya deformasi tersebut dapat cukup berbahaya bagi katak muda yang akan mati karena tidak dapat bergerak dengan baik (Fessenden, 2016).

cpw1
Gambar 1. DFB 45, Arès, Brandon Ballengée, 2008. Scanner photograph of cleared and stained multi-limbed Pacific Tree frog from Aptos, California in scientific collaboration with Dr. Stanley K. Sessions. Title in collaboration with the poet KuyDelair. (Courtesy of the artist and Ronald Feldman Fine Arts, New York)

Hal tersebut mendorong scientist Brandon Ballengée untuk menunjukkannya pada masyarakat dan memanfaatkan ini sebagai kesempatan untuk menghubungkan masyarakat dengan lingkungan. Ballengée adalah seorang seniman, biologis, dan aktivis lingkungan. Penelitiannya yang menggali penyebab deformasi pada ikan dan amfibi, dan gambar karya seninya terinspirasi dari ilmu pengetahuannya (Fessenden, 2016).

Dalam acara Celebrating the International Day of Biological Diversity pada 22 Mei 2015 juga diperkenalkan beberapa mural yang memberikan pesan kepada masyarakan mengenai pentingnya menjaga lingkungan (Gambar 2).

cpw2
Gambar 2 Mural pada Celebrating the International Day of Biological Diversity pada 22 Mei 2015

Ke empat mural tersebut menjelaskan tentang:

  1. Mural on Environmental Pollution yaitu mural yang mengilustrasikan efek polusi lingkungan. Hal ini menunjukkan bagaimana agro chemical dan buangan industri menemukan jalannya menuju sungai dan mencemari air yang digunakan untuk keperluan rumah tangga dan keperluan hewan. Asap industri yang menyebabkan polusi pada atmoser. Hasilnya adalah penyakit pada manusia, hewan, dan lingkungan tersebut.
  2. Mural on Conservation. Mural tersebut mengilustrasikan manfaat dari konservasi. Penerapan tungku memasak yang lebih baik, penanaman pohon, dan pembangkit micro-hydo power yang mengurangi tekanan yang diberikan pada hutan oleh masyarakat lokal yang sumber bahan bakar utamanya adalah kayu.
  3. Mural ini mengilustrasikan agrikultur pintar melalui pemanfaatan bio slurry dari biogas untuk meningkatkan produktivitas tanah. Hal ini juga akan meningkatkan produksi makanan.
  4. Mural ini menggambarkan polusi di dalam Sekitar 80% rumah tangga di daerah pedesaan masih menggunakan metode memasak tradisional, yang memerlukan banyak kayu bakar yang mengekspos mereka pada polusi dan mengerahkan tekanan pada hutan. Hal ini menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.

Karya-karya tersebut memberikan pesan yang sangat dalam bagi kelangsungan biodiversitas yang ada dengan membangun kesadaran dari masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, C. 2014. Mule Deer Issues Synthesis. Colorado Parks Wildlife.

Jim, C.Y. 2010. Old Masonry Walls as Ruderal Habitats for Biodiversity Conservation and Enhancement in Urban Hong Kong. Urban Biodiversity and Design, 1st edition. Edited by N. Muller, P. Werner and John G. Kelcey. © 2010 Blackwell Publishing Ltd

Gill, R.B., T. D. I. Beck, R. H. Kahn, C. J. Bishop, M. W. Miller, D. J. Freddy, T. M. Pojar, N. T. Hobbs G. C. White Declining Mule Deer Populations in Colorado: Reasons and Responses. A Report to the Colorado Legislature. Colorado Division of Wildlife November 1999.

National Resources Conservation Services (NRCS). 2005. Mule Deer (Odocoileus hemionus). Fish and Wildlife Habitat Management Leaflet Number 28

Fessenden, M. 2016. With Deformed Frogs and Fish, a Scientist-Artist Explores Ecological Disaster and Hope. A 20-year retrospective of Brandon Ballengée’s artwork explores humans’ connection to cold-blooded creatures. Published http://www.smithsonian.com. October 7, 2016

Utah Division of Wildlife Resources (UDWR). 2014. Utah Mule Deer Statewide Management Plan. Department of Natural Resources

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *