Timbal (Pb) yang juga sering disebut timah hitam (lead) merupakan salah satu logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan organisme lainnya. Kegiatan industri yang perpotensi sebagai sumber pencemaran Pb misalnya industri baterai, bahan bakar, kabel, pipa serta industri kimia. Selain itu juga sumber Pb dapat berasal dari sisa pembakaran pada kendaraan bermotor dan proses penambangan. Semua sisa buangan yang mengandung Pb dapat masuk ke dalam lingkungan perairan dan menimbulkan pencemaran (Herman, 2006).

Pb di dalam tubuh manusia dapat masuk secara langsung melalui air minum, makanan atau udara. Pb dapat menyebabkan gangguan pada organ seperti gangguan neurologi (syaraf), ginjal, sistem reproduksi, sistem hemopoitik serta sistem syaraf pusat. Selain itu pula Pb di dalam badan perairan dapat meracuni dan mematikan organisme yang ada di dalam perairan tersebut, sehingga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem (Santi, 2001).

Kelimpahan rata-rata unsur Pb dalam tanah adalah 5-50 ppm (Juliawan dkk, 2005). Namun Pb adalah logam berat yang secara fisiologis tidak diperlukan tanaman maupun hewan (Hindersah dkk, 2004). Logam berat tidak dapat didegradasi, sehingga untuk melakukan remediasi area yang tercemar oleh logam berat dilakukan secara fisik, kimawi ataupun biologis namun metode tersebut mahal, tidak efektif dan berdampak negatif bagi lingkungan (Lasat, 2002). Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan pemulihan (remediasi) yang mudah, murah dan efisien agar lahan yang tercemar logam berat dapat digunakan kembali untuk berbagai kegiatan dengan aman. Salah satu metode remediasi yang dapat digunakan adalah fitoremediasi. Fitoremediasi merupakan teknik pemulihan lahan tercemar dengan menggunakan tumbuhan untuk menyerap, mendegradasi, mentransformasi dan mengimobilisasi bahan pencemar, baik itu logam berat maupun senyawa organik. Metode ini mudah diaplikasikan, efisien, murah dan ramah lingkungan (Schnoor  and McCutcheon, 2003).

Penelitian tentang berbagai macam tumbuhan telah banyak dilakukan untuk mengetahui potensi dari masing-masing tumbuhan tersebut dalam menyerap logam berat. Tumbuhan yang telah digunakan dalam beberapa penelitian fitoremediasi logam berat sebelumnya adalah  Polygonum hydropiper L.,  Rumex acetosa L. (Wang  et al., 2003),  Lolium perenne (O Connor  et al., 2003), Brassica juncea (Bennet et al., 2003), Thlaspi caerulescens, Zea mays L. (Lombi et al., 2001), Vetiveria zizanioides (Greenfield, 1989), Helianthus annus dan Brassica napus (Solhi et al., 2005),  Streptanthus polygaloides,  Sebertia acuminata,  Armeria maritima,  Aeollanthus biformifolius,  Haumaniatrum katangense, dan dari genus Alyssum (Rismana, 2002).

Salah satu tanaman tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk proses remediasi adalah tanaman gandarusa (Justicia gendarussa). Tanaman ini tumbuh liar di hutan, tanggul sungai atau ditanam sebagai tumbuhan obat, perdu, tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 0,8-2 m batangnya berkayu, segiempat, bercabang, beruas-ruas  dan berwarna coklat kehitaman. Daun mempunyai pertulangan yang menyirip berhadapan, bertangkai pendek, hijau tua, tunggal, lanset, dengan panjang 5-20 cm, sedangkan lebarnya 1-3,5 cm. bunganya berwarna ungu, mahkota bentuk tabung, berbibir dua, majemuk, bentuk malai dengan panjang 3 sampai 12 cm. Buah berbentuk ganda berbiji empat. Biji berwarna  coklat, kecil dan keras. Tanaman gandarusa mempunyai akar tunggang dan berwarna coklat (Dalimartha, 2001).

Justicia gendarussa

Media  tanam  yang bisa digunakan adalah tanah taman yang biasa dipakai untuk membuat taman-taman di rumah. Tanah taman ini dianggap baik karena subur dan tidak memakai pupuk. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengaturan pH tanah, dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan alami tanaman jarak pagar dalam menyerap logam berat Pb.  Beberapa variabel yang akan digunakan antara lain variasi konsentrasi logam berat, dan efek kombinasi logam berat dan akumulasi pada bagian tumbuhan. Berdasarkan  diatas, maka pada penelitian ini akan mengkaji tentang fitoremediasi tanah tercemar logam berat dengan menggunakan tanaman gandarusa (Justicia gendarussa).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *