Sejak terbitnya buku “The Origin of Species” dan diterimanya teori evolusi yang diungkapkan di dalamnya oleh Charles Darwin (1809-1882) maka sistim klasifikasi bertujuan untuk mencerminkan evolusi jenis. Jenis yang ada sekarang tidak lagi dianggap sebagai ciptaan khusus yang statis, mantap dan tidak berubah-ubah, tetapi merupakan populasi yang bervariasi,dinamis dan dianggap sebagai keturunan jenis-jenis sebelumnya. Filogeni adalah perkembangan sejarah garis-garis evolusi dalam suatu golongan makhluk hidup, jadi dapat diartikan sebagai asal dan evolusi suatu takson. Klasifikasi ini menekankan keeratan hubungan kekerabatan nenek moyang takson satu dengan yang lainnya. Untuk keperluan klasifikasi ini, orang mencoba menerka arah kecondongan evolusi ciri morfologi yang ada dan menentukan ciri primitif dan maju, misalnya: pohon lebih primitif dari terna, susunan bunga berfusi lebih maju dan lain-lain.

Karakter morfologi telah lama digunakan dalam banyak penelitian filogenetika. Dengan pesatnya perkembangan teknik-teknik di dalam biologi molekuler, seperti PCR (polymerase chain reaction) dan sikuensing DNA, penggunaan sikuen DNA dalam penelitian filogenetika telah meningkat pesat dan telah dilakukan pada semua tingkatan taksonomi, misalnya famili, marga, dan species. Filogenetika molekuler mengkombinasikan teknik biologi molekuler dengan statistik untuk merekonstruksi hubungan filogenetika (Cranston et al., 1991).

Pemikiran dasar penggunaan sikuen DNA dalam studi filogenetika adalah bahwa terjadi perubahan basa nukleotida menurut waktu, sehingga akan dapat diperkirakan kecepatan evolusi yang terjadi dan akan dapat direkonstruksi hubungan evolusi antara satu kelompok organisme dengan yang lainnya. Beberapa alasan mengapa digunakan sikuen DNA: (1) DNA merupakan unit dasar informasi yang mengkode organisme; (2) relatif lebih mudah untuk mengekstrak dan menggabungkan informasi mengenai proses evolusi suatu kelompok organisme, sehingga mudah untuk dianalisis; (3) peristiwa evolusi secara komparatif mudah untuk dibuat model; dan (4) menghasilkan informasi yang banyak dan beragam, dengan demikian akan ada banyak bukti tentang kebenaran suatu hubungan filogenetika.

Hubungan evolusi diantara spesies dicerminkan dalam DNA dan proteinnya, dalam gen dan produk gennya. Jika dua spesies memiliki pustaka gen dan protein dengan urutanmonomer yang sangat bersesuaian, urutan itu pasti disalin dari nenek moyang yang sama.Organisme yang secara taksonomi berbeda jauh, seperti manusia dan bakteri memiliki beberapa protein yang sama, misalnya sitokrom c, suatu protein yang terlibat dalam respirasi seluler pada semua spesies aerob. Mutasi telah menggantikan asam amino di beberapa tempat pada protein tersebut selama perjalanan panjang evolusi, tetapi molekul sitokrom c  pada semua spesies sangat mirip dalam struktur dan fungsi. Tidak jauh berbeda, perbandingan jumlah asam amino yang berbeda dalam hemoglobin pada beberapa vertebrata memperkuat bukti-bukti paleontologi dan anatomi perbandingan mengenai hubungan evolusioner diantaraspesies-spesien tersebut.Suatu kode genetik yang sama merupakan bukti yang tak terbantahkan mengenai fakta bahwa semua kehidupan saling berhubungan. Dengan demikian jelas, bahasa kode genetik telah diturunkan melalui semua cabang pohon kehidupan sejak permulaan munculnya kode genetik tersebut pada bentuk kehidupan yang lebih awal. Dengan demikian biologi molekuler telah menambahkan babak terbaru pada bukti-bukti bahwa evolusi adalah dasar kesatuan dankeanekaragaman kehidupan.

Para ahli biologi telah lama meyakini bahwa gen manusia dan simpanse sekitar 98,5% sama persis. Tetapi Roy Britten, seorang biologiwan di California Institute of Technology, berkata dalam sebuah studi yang diterbitkan minggu ini bahwa cara baru pembandingan gen memperlihatkan bahwa kesamaan genetis antara manusia dan simpanse hanyalah sekitar 95 persen.. Britten mengambil kesimpulan ini berdasarkan sebuah program komputer yang membandingkan 780.000 dari 3 miliar pasang basa dari heliks DNA manusia dengan yang ada pada simpanse. Ia menemukan lebih banyak ketidakcocokan daripada yang ditemukan para peneliti sebelumnya, dan menyimpulkan bahwa sedikitnya 3,9 persen basa DNA adalah berbeda.Ini membuatnya berkesimpulan bahwa terdapat sekitar 5% perbedaan genetis mendasar antara kedua spesies.

New Scientist, sebuah majalah ilmiah terkemuka sekaligus pendukung Darwinisme, melaporkan hal yang sama berikut, dalam tulisan yang berjudul “Perbedaan DNA manusia dengan simpanse kini tiga kali lebih besar. Ternyata kita lebih berbeda daripada dugaan semula, demikian menurut hasil perbandingan terkini atas DNA manusia dan simpanse. Telah lama diyakini bahwa kita memiliki 98,5 persen kesamaan bahan genetis dengan saudara terdekat kita. Sekarang, tampaknya ini tidak benar. Nyatanya, kita memiliki kesamaan bahan genetik tak sampai 95%, yang berarti peningkatan tiga kali lipat dalam hal variasi antara kita dengan simpanse.

Sebagai tambahan, protein-protein dasar seperti yang telah diungkapkan di atas adalah molekul vital yang serupa dan umum dijumpai bukan saja pada simpanse, melainkan juga pada banyak makhluk hidup yang berbeda. Struktur protein pada semua spesies ini amat serupa dengan protein pada manusia. Sebagai contohnya, analisa genetis yang diterbitkan dalam New Scientist telah mengungkapkan 75% kesamaan antara DNA cacing nematoda dan DNA manusia. Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa perbedaan antara cacing tersebut dengan manusia hanya sebesar 25%. Sebaliknya, dalam sebuah penemuan lain yang juga telah terbit di media, dinyatakan bahwa hasil pembandingan antara gen lalat buah genus Drosophila dengan gen manusia menunjukkan kesamaan sebesar 60%.

Pada jurnal Distribution and evolution of the Anopheles punctulatus group (Diptera: Culicidae) in Australia and Papua New Guinea yang ditulis oleh Nigel W. Beebe, menyebutkan bahwa terjadi perbedaan asumsi persamaan sequence DNA antara spesies A. farauti s.s. dan A. farauti  7 serta A. farauti s.s. and A. punctulatus. Perbedaan spesies dari tiap anggota dari Anopheles punctulatus diestimasi melalui variasi sequence dan frekuensi tranversion dari gen COII (Foley et all, 1998).

Pada spesies yang memiliki kekerabatan paing dekat yaitu A. farauti s.s. dan A. farauti  7 memiliki perbedaan sequence  DNA lebih panjang daripada yang diestimasikan. Sama halnya pada A. farauti s.s. and A. punctulatus yang memiliki kekerabatan paling jauh.

Kasus yang sama tertulis pada Paper Evolution of the second orangutan: phylogeny and biogeography of hominid origins. Sebelumnya disebutkan bahwa filogeni antara Simpanse, kera afrika, dan orang utan memiliki kesamaan filogeni yang sama dengan manusia. Pada paper ini tertulis bahwa filogeni yang terdapat pada manusia dan orang utan memiliki kesamaan hanya sekitar 98 %. Sedangkan 2 % lainnya sangat berbeda, karena 2 % perbedaan tersebut terdapat lebih dari 15 juta genom. Sedangkan pada morfologi, manusia, orang utan, simpanse dan kera afrika memiliki sangat banyak kemiripan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *