Antibiotik termasuk jenis obat yang cukup sering diresepkan dalam pengobatan modern. Antibiotik adalah zat yang membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Sebelum penemuan antibiotik yang pertama yaitu penisilin, pada tahun 1928, jutaan orang di seluruh dunia tak terselamatkan jiwanya karena infeksi-infeksi yang saat ini mudah diobati. Ketika influenza mewabah pada tahun 1918, diperkirakan 30 juta orang meninggal, dan data tersebut lebih banyak daripada yang terbunuh pada Perang Dunia I.

Pencarian antibiotik telah dimulai sejak penghujung abad ke 18 seiring dengan meningkatnya pemahaman teori kuman penyakit, suatu teori yang berhubungan dengan bakteri dan mikroba yang menyebabkan penyakit. Saat itu para ilmuwan mulai mencari obat yang dapat membunuh bakteri penyebab sakit. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menemukan apa yang disebut “peluru ajaib”, yaitu obat yang dapat membidik/ menghancurkan mikroba tanpa menimbulkan keracunan.

Pada permulaan tahun 1920, ilmuwan Inggris Alexander Fleming melaporkan bahwa suatu produk dalam airmata manusia dapat melisiskan (menghancurkan) sel bakteri. Zat ini disebut lysozyme, yang merupakan contoh pertama antibakteri yang ditemukan pada manusia. Seperti pyocyanase, lysozyme juga menemukan jalan buntu dalam usaha pencarian antibiotik yang efektif, karena sifatnya yang merusak sel-sel bakteri non-patogen. Namun pada tahun 1928, Fleming secara kebetulan menemukan antibakteri lain. Saat kembali dari liburan diakhir pekan, Fleming memperhatikan satu set cawan petri lama yang ia tinggalkan. Ia menemukan bahwa koloni Staphylococcus aureus yang ia goreskan pada cawan petri tersebut telah lisis. Lisis sel bakteri terjadi pada daerah yang berdekatan dengan cendawan pencemar yang tumbuh pada cawan petri. Ia menghipotesa bahwa suatu produk dari cendawan tersebut menyebabkan lisis sel stafilokokus. Produk tersebut kemudian diberi nama penisilin karena cendawan pencemar tersebut dikenali sebagai Penicillium notatum.

Pengertian Antibiotik

Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri anti = lawan, bios = hidup, sehingga antibiotik dapat diartikan sebagai zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain, sedang toksisitasnya terhadap manusia relatif kecil.

Pada tahun 1889, Vuillemin menggunakan istilah antibiosis (harfiah, melawan kehidupan) dalam konsep biologi yang diartikan sebagai satu organisme yang menghancurkan organisme lain dalam melindungi kepentingan hidupnya.

Benedict dan Langlykke menyatakan bahwa antibiotik adalah suatu senyawa kimia yang diturunkan dari atau diproduksi oleh organisme hidup, yang dalam kadar kecil mampu menghambat proses hidup mikroorganisme.

Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris dr.Alexander Fleming (Penisilin) pada tahun 1928. Tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan digunakan dalam terapi di tahun 1941oleh dr. Florey. Kemudian banyak zat dengan khasiat antibiotik diisolir oleh para peneliti lain di seluruh dunia, namun toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat. Suatu senyawa dapat digolongkan sebagai antibiotik jika:

  1. Suatu produk metabolisme (meskipun dapat ditirukan atau bahkan dapat diperoleh secara sintesis kimia).
  2.  Suatu produk sintetik dengan struktur senyawa yang serupa dengan antibiotik yang terdapat di alam.
  3. Menantagoniskan pertumbuhan dan/ atau kelangsungan hidup satu atau lebih jenis mikroorganisme.
  4. Efektif dalam kadar rendah.

Antibiotik juga dapat dibuat secara sintetis, atau semi sintetis. Aktivitas antibiotik umumnya dinyatakan dalam satuan berat (mg) kecuali yang belum sempurna permurniannya dan terdiri dari campuran beberapa macam zat atau karena belum diketahui strukturn kimianya, aktivitasnya dinyatakan dalam satuan internasional = International Unit (IU). Di bidang peternakan antibiotik sering dimanfaatkan sebagai zat gizi tambahan untuk mempercepat pertumbuhan ayam potong negeri.

Penggolongan/ Klasifikasi  Antibiotik

Meskipun ada lebih dari 100 macam antibiotik, namun umumnya mereka berasal dari beberapa jenis antibiotik saja, sehingga mudah untuk dikelompokkan.

Berdasarkan luas aktivitas kerjanya, antibiotik dapat digolongkan atas :

Zat-zat dengan aktivitas sempit (narrow spectrum).

Zat yang aktif terutama terhadap satu atau beberapa jenis bakteri saja (bakteri gram positif atau bakteri gram negatif saja). Contohnya eritromisin, kanamisin, klindamisin (hanya terhadap bakteri gram positif), streptomisin, gentamisin (hanya terhadap bakteri gram negatif saja.

Zat-zat dengan aktivitas luas (broad spectrum).

Zat yang berkhasiat terhadap semua jenis bakteri baik jenis bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif. Contohnya ampisilin, sefalosporin, dan kloramfenico.

Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:

Golongan Aminoglikosida

Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa. Dengan adanya gugusan-amino, zat-zat ini bersifat basa lemah dan garam sulfanya yang digunakan dalam terapi mudah larut dalam air. Aminoglikosid dari sejarahnya digunakan untuk bakteri gram negatif. Aminoglikosid pertama yang ditemukan adalah Streptomisin. Aktivitas bakteri Aminoglikosid dari Gentamisin, Tobramisin, Kanamisin, Netilmisin dan Amikasin terutama tertuju pada basil gram negatif yang aerobik (yang hidup dengan oksigen). Aminoglikosid merupakan produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti Streptomyces griseus untuk Streptomisin, Streptomyses fradiae untuk Neomisin, Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin, Streptomyces tenebrarius untuk Tobramisin, Micromomospora purpures untuk Gentamisin dan Asilasi kanamisin A untuk Amikasin.

Aminoglikosida dapat dibagi atas dasar rumus kimianya sebagai berikut :

Streptomisin

Mengandung satu molekul gula-amino dalam molekulnya. Sinonim dihydrostreptomycin sulfate; Streptomycine sulfate dan memiliki rumus struktur C12H14N7O12. Streptomisin diperoleh dari Streptomyces griseus oleh Walksman (1943) dan sampai sekarang penggunaannya hampir terbatas hanya untuk tuberkolusa. Ada dua jenis streptomisin, yaitu streptomisin A yang selanjunya disebut streptomisin (tanpa akhiran A) dan disingkat S, serta streptomisin B atau manosido streptomisin. Struktur kimia streptomisin B memiliki unit penyusun manosa.

Streptomisin

Struktur kimia streptomisin tersusun atas tiga unit senyawa, yaitu streptidin, streptosa, dan N-metil-L-Glukosamina. Ikatan antarunit merupakan ikatan glikosida.

Sifat fisikokimia

Obat ini dalam perdagangan berada dalam bentuk garam sulfat. Streptomisin sulfat merupakan serbuk higroskopis warna putih yang tidak berbau. Obat ini larut dalam air dan sangat larut dalam alkohol. Injeksi Streptomisin sulfat dalam perdagangan tersedia dalam bentuk steril liofilik tanpa pengawet atau dalam bentuk larutan steril.

Indikasi

Tuberkulosis, dalam bentuk kombinasi obat lain, bersama dengan doksisiklin pada pengobatan brucellosis; enterococcal endokarditis. Streptomisin saat ini semakin jarang digunakan kecuali untuk kasus resistensi.

Dosis, cara pemberian, dan lama pemberian

Dengan injeksi intramuskular dalam. Obat ini diberikan secara intramuskular dengan dosis 15mg/kg (maksimal 1 g) sehari. Dosis diturunkan pada pasien dengan berat badan dibawah 50 kg, pada usia di atas 40 tahun dengan kerusakan ginjal. Konsentrasi obat dalam plasma harus diukur pada pasien dengan kerusakan ginjal dan harus digunakan secara hati-hati.

Farmakologi
  • Distribusi ke dalam cairan ekstraseuler termasuk serum, absces, ascitic, perikardial, pleural, sinovial, limfatik, dan cairan peritonial. Dapat terdistribusi menembus plasenta, dalam jumlah yang kecil masuk dalam air susu ibu.
  • Terikat dengan protein dalam tubuh sebesar 34%.
  • Waktu paruh eliminasi: bayi baru lahir 4-10 jam; dewasa 2-4 jam; waktu bertambah panjang pada kerusakan ginjal.
  • Waktu untuk mencapai kadar puncak serum : 1 jam
  • Ekskresi : urin (90% dalam bentuk obat yang tidak berubah); feses, saliva, keringat dan air mata (50 mcg/mL)
Stabilitas penyimpanan

Bergantung dari produsen obat, larutan yang telah direkonstitusi tetap stabil selama 2-4  minggu jika disimpan dalam refrigerator; paparan sinar matahari menyebabkan warna larutan menjadi gelap tanpa kehilangan potensinya secara nyata.

Kontraindikasi

Hipersensitivitas terhadap streptomycine atau komponen lain dalam sediaan; kahamilan.

Efek samping

Reaksi hipersensitivitas, paraesthesia pada mulut

Interaksi dengan obat lain

Meningkatkan efek toksisitas: peningkatan perpanjangan efek dengan senyawa depolarisasi dan nondepolarisasi neuromuskular blocking. Penggunaaan bersama dengan amfoterisin dan diuretic loop dapat meningkatkan nefrotoksisitas.

Toksisitasnya sangat besar karena dapat menyebabkan kerusakan pada saraf otak ke-8 yang melayani organ keseimbangan dan pendengaran. Gejala-gejala awalnya adalah sakit kepala, vertigo, mual dan muntah. Kerusakan bersifat reversibel, artinya dapat pulih kembali kalau penggunaan obat diakhiri meskipun kadang-kadang tidak seutuhnya.

Resistensinya sangat cepat sehingga dalam penggunaannya harus dkombinasi dengan INH dan PAS Na atau rifampisin. Pemberian melalui parerental karena tidak diserap oleh saluran cerna. Derivat streptomisin, dehidrostreptomisin, menyebabkan kerusakan organ pendengaran lebih cepat dari steptomisin sehingga obat ini tidak digunakan lagi sekarang.

Kanamisin

Memiliki turunan amikasin, dibekasin, gentamisin, dan turunannya netilmisin dan tobramisin, yang semuanya memiliki dua molekul gula yang dihubungkan oleh sikloheksan.

Struktur kanamisin

Kanamisin Diperoleh dari Streptomyces Kanamycetius (Okami dan Umezawa 1957). Strukturnya ditemukan pada 1958. Struktur kimia kanamisin tersusun atas tiga unit senyawa, yaitu 6-D-glukosamina,1,3-diamino-4,5,6-trihidroksi sikloheksana dan 3-D-glukosamina. Ikatan antar unit penyusunnya merupakan ikatan glikosida.

Kanamisin mempunyai sifat basa karena adanya radikal-radikal amino dalam struktur kimianya. Dengan demikian, kanamisin dengan asam akan membentuk garam.

Persediaan dalam bentuk larutan atau bubuk kering untuk injeksi. Pemakaian oral hanya kadang-kadang diberikan untuk infeksi usus, atau membersihkan usus untuk persiapan pembedahan.

Berkhasiat bakteriostatik pada basil TBC, bahkan yang resisten terhadap streptomisin sehingga menjadi obat pilihan kedua bagi penderita TBC. Juga digunakan dalam pengobatan infeksi saluran kemih oleh pseudomonas (suntikan). Efek sampingnya gangguan keseimbangan dan pendengaran, toksis terhadap ginjal. Obat generik : Kanamysin. Serbuk inj. 1 gr/vial, 2g/vial.

Neomisin

Diperoleh dari Steptomices fradiae oleh Walksman. Tersedia untuk penggunaan topikal dan oral, penggunaan secara parenteral tidak dibenarkan karena toksik. Karena baik sebagai antibiotik usus (aktif terhadap bakteri usus) maka digunakan untuk sterilisasi usus sebelum operasi. Penggunaan lokal banyak dikombinasikan dengan antibiotik lain (polimiksin B. basitrasin) untuk menghindari terjadinya resistensi.

Struktur Neomisin C
Gentamisin

Diperoleh dari Mycromonospora purpurea. Berkhasiat terhadap infeksi oleh kuman gram negatif seperti Proteus, Pseudomonas, Klebsiella, Enterobacter yang antara lain dapat menyebabkan meningitis, osteomelitis pneumonia, infeksi luka bakar, infeksi saluran kencing, telinga, hidung dam tenggorokan.

Sebaiknya penggunaan gentasimin secara sistemis hanya diterapkan pada infeksi-infeksi yang berat saja, dan penggunaan gentamisin secara topikal khususnya di lingkugan rumah sakit dibatasi agar tidak terjadi resistensi pada kuman-kuman yang sensitif.

Efek sampingnya gangguan keseimbangan dan pendengaran toksik terhadap ginjal, sediaan dalam bentuk injeksi dan salep (topikal). Obat generik Gentasimin cairan inj.10 mg/mL, dan 40 mg/mL.

Framisetin

Diperoleh dari Streptomyces decaris. Rumus kimia dan khasiatnya mirip Neomisin. Hanya digunakan secara lokal saja, misalnya salep atau kasa yang diimpregnasi.

Sediaan dari Aminoglikosid 

Sediaan Aminoglikosid pada umumnya tersedia sebagai garam sulfat. Sediaan dari Aminoglikosid dapat dibagi dalam dua kelompok :

  1. Sediaan Aminoglikosid sistemik untuk pemberian IM atau IV yaitu Amikasin, Gentamisin, Kanamisin dan Streptomisin.
  2. Sediaan Aminoglikosid topikal terdiri dari Aminosidin, Kanamisin, Neomisin, Gentamisin dan Streptomisin. Dalam kelompok topikal termasuk juga semua Aminoglikosid yang diberikan per oral untuk mendapatkan efek lokal dalam lumen saluran cerna.

Berikut ini adalah spesialisasi obat-obat golongan Aminoglikosida:

Golongan Beta-Laktam

Golongan Beta-Laktam: diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).

PENISILIN
Penisilin

Dengan gugus R sebagai berikut:

Penicillin mempunyai struktur seperti cincin B laktam yang merupakan syarat mutlak untuk menunjukkan khasiatnya. Jika cincin menjadi terbuka oleh enzim β lactamase (penisilinase dan cefalosforinase) maka khasiat antibakteri penisilin menjadi lenyap.

Hidrolisis Penisilin
Mekanisme Kerja Penisilin

Penisilin merintangi / menghambat pembentukan sintesa dinding sel bakteri sehingga bila sel bakteri tumbuh dengan dinding sel yang tidak sempurna maka bertambahnya plasma atau air yang terserap dengan jalan osmosis akan menyebabkan dinding sel pecah sehingga bakteri menjadi musnah.

Resistensi

Pemakaian yang tidak tepat dapat menyebabkan bakteri terutama golongan  Stafilococcus  dan Bakteri Coli menjadi resisten terhadap penisilin. Resistensi bakteri ini terbentuk dengan cara bakteri membentuk enzim β laktamase atau bakteri mengubah bentuknya menjadi bakteri huruf L yaitu bentuk bakteri tanpa dinding sel. Bakteri bentuk L dapat menimbulkan infeksi kronis (misalnya infeksi paru-paru dan saluran kemih) karena lama berkembangnya. Bakteri semacam ini dengan mudah dapat dimatikan dengan kotrimoksazol atau tetrasiklin.

Derivat ( turunan ) Penisilin

Berdasarkan perkembangannya, terbentuk derivat-derivat Penisilin seperti di bawah ini : 

  1. Penisilin spektrum sempit
    • Benzil penisilin = Penisilin G tidak tahan asam lambung, sehingga pemberian secara oral akan diuraikan leh asam lambung, karena itu penggunaannya secara injeksi atau infus intra vena.
    • Penisilin V = Fenoksimetil Penisilin. Penisilin ini tahan asam lambung, pemberian sebaiknya dalam keadaan sebelum makan.
    • Penisilin tahan Penisilinase. Derivat ini hampir tidak terurai oleh penisilinase, tapi aktivitasnya lebih ringandari penisilin G dan V. umumnya digunakan untuk kuman-kuman yang resisten terhadap obat-obat tersebut. Contohnya Kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin. Kombinasi kloksasilin dengan asam klavulanat menghasilkan efek sinergisme dengan khasiat 50 kali lebih kuat, efektif terhadap E. Coli, H. Influenza dan Staphylococcus aureus.Contohnya Augmentin (Beecham).
    • Asam Klavulanat adalah senyawa β laktam hasil fermentasi Streptomyces clavuligerus
  2. Penisilin spektrum luas
    1. Ampisillin. Spektrum kerjanya meliputi, Spektrum kerjanya meliputi banyak kuman gram positif dan gram negatif yang tidak peka terhadap penisilin-G. Khasiatnya terhadap kuman-kuman gram positif lebih ringan daripada penisilin-penisilin spektrum sempit. Banyak digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi atau peradangan pada saluran pernapasan (bronkitis), saluran pencernaan (disentri), dan infeksi saluran kemih.
    2. Amoksilin. Spektrum kerjanya sama dengan ampisilin, tetapi absorbsinya lebih cepat dan lengkap. Banyak di gunakkan terutama pada bronkitis menahun dan infeksi saluran kemih.

Tabel. Beberapa jenis penisilin dan strukturnya

Produk dari Penisilin G: Benzilbenisilin.

SEFALOSPORIN

Struktur sefalosporin mirip dengan penisilin, yaitu adanya cincin betalaktam yang pada sefalosporin berikatan dengan cincin dihidrotiazin. Modifikasi R1 pada posisi 7 cincin betalaktam dihubungkan dengan aktivitas antimikrobanya, sedangkan subtitusi R2 pada posisi 3 cincin dihidritiazin mempengaruhi metabolisme dan farmakokinetiknya.

Struktur Sefalosporin

Sefalosporin terbagi dalam 3 kelompok atau generasi yang terutama didasarkan atas aktifitas antimikrobanya yang secara tidak langsung juga sesuai dengan urutan masa pembuatannya. Generasi tersebut adalah :

Generasi pertama

Aktifitas anti mikrobanya tidak banya berbeda dengan penisilin berspektrum luas, yaitu mempunyai aktifitas yang baik terhadap gram (+) aerob dan beberapa gram (-). Keunggulannya dari penisilin adalah aktifitasnya terhadap bakteri penghasil penisilinase. Yang termasuk generasi pertama ialah :

  1. Untuk pemberian peroral : Sefaleksin, sefradin, sefadroksil, sefaleksin
  2. Untuk pemberian IV : Sefazolin, sefalotin, sefapirin
  3. Untuk pemberian IM : Sefapirin, sefazolin
Generasi kedua

Golongan ini kurang aktif terhadap bakteri gram + dibandingkan dengan generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap gram -. Yang termasuk generasi kedua ialah :

  1. Untuk pemberian peroral : Sefaklor
  2. Untuk pemberian IV dan IM : Sefosinid, sefoksitin, sefamandol, sefuroksim, sefotetan, seforanid
Generasi ketiga

Golongan ini kurang aktif terhadap gram (+), tetapi jauh lebih aktif terhadap gram (-). Yang termasuk generasi ketiga ialah : Sefoperazon, seftriakson, sefotaksim, moksalaktam, seftizoksim.

Penggunaan sefalosporin dalam obstetrik makin meluas. Obat ini digunakan sebagai profilaksis dalam seksio sesarea dan dalam pengobatan abortus septik, pielonefritis dan amnionitis. Dan sampai saat ini efek teratogenik dalam penggunaan obat ini belum ditemukan.

Transfer transplasental dari sefalosporin cepat dan konsentrasi bakterisidnya adekuat, baik pada jaringan janin maupun cairan amnion. Pemberian dosis tinggi secara bolus yang berulang menunjukkan hasil kadar di dalam serum janin dan cairan amnion yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian secara infus dalam jumlah obat yang sama besarnya.

Hidrolisis β-Laktam sefalosporin

Produk Sefalosporin

Antibiotik β-Laktam yang Lain

Golongan Kinolon (fluorokinolon)

Golongan kinolon diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.

Fluorokuinolon

Antibiotik ini mulai dikenal tahun 1962 oleh Lesher. Pada aplikasinya, sediaan obat yang mengandung antibiotik golongan fluoroquinolon banyak tersedia. Proxan-S, Proxan-C, Neo Meditril, Doctril dan Coliquin merupakan contoh sediaan antibiotik dari golongan fluoroquinolon.

Ketika “kontak” dengan bakteri, flouroquinolon akan menyerang inti sel (DNA) bakteri dengan menghambat enzim DNA gyrase. Mekanisme ini akan mengakibatkan bakteri mati (bakterisid). Antibiotik ini memiliki spektrum kerja yang luas, baik terhadap bakteri Gram (+), Gram (-) dan Mycoplasma.

Aplikasi pemberiannya dapat dilakukan secara oral (melalui saluran pencernaan) maupun injeksi, baik subkutan atau intramuskuler. Agar obat bekerja optimal hindari adanya mineral/logam seperti Ca2+, Mg2+ dan Al3+ dalam air minum yang digunakan untuk melarutkan obat karena bisa menurunkan penyerapan obat di saluran pencernaan.

Golongan Tetrasiklin

Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomycesaureofaciens. Kemudian ditemukan oksitetrasklin sendiri klortetrasiklin. Tetrasiklin merupakan antibiotik dengan spektrum luas, bersifat bakteriostatik dan mekanisme kerjanya dengan jalan menghambat sintesa protein bakteri. Penggunaan saat ini semakin berkurang karena masalah resistensi.

Struktur Tetrasiklin

Tabel Harga R lingkar ke-1, 2, dan 3 senyawa-senyawa tetrasiklin

Tetrasiklin berwarna kuning, bersifat amfoter dan mudah terurai oleh cahaya menjadi anhidro dan epitetrasiklin yang toksik untuk ginjal. Tetrasiklin yang telah mengalami penguraian mudah dilihat dari sediaanyya yang berwarna kuning tua sampai coklat tua. Tetrasiklinharus disimpan.di tempat yang kering, terlindung dari cahaya. Dengan logam bervalensi 2 dan 3 (Ca, Mg, Fe ) membentuk kompleks yang inaktif, maka tetrasiklin tidak boleh diminun bersama dengan susu dan obat-obat antasida. Tetrasiklin banyak digunakan untuk mengobati bronchitis akut dan kronis, disentri amoeba, pneumonia kolera, infeksi saluran empedu penggunaan lokal sering dipakai karena jarang menimbulkan sanitasi.

Efek samping
  • Mual, muntah-muntah, diare karena adanya perubahan pada flora usus.
  • Mengendap pada jaringan tulang dan gigi yang sedang tumbuh(terikat pada kalsium) menyebabkan gigi menjadi bercak-bercak coklat dan mudah berlubang serta pertumbuhan tulang terganggu.
  • Foto sensitasi
  • Sakit kepala, vertigo
Peringatan / larangan
  • Tidak boleh diberikan pada anak-anak di bawah 8 tahun, ibu hamil, dan menyusui.
  • Tidak boleh diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan fungsi hati.
Kontra indikasi: Penderita yang hipersensitiv terhadap tetrasiklin
Anggota golongan tetrasiklin:
  1. Aureomisin (klortetrasiklin), diberikan secara oral, parenteral, topikal absorbsi dihambat oleh susu.
  2. Teramisin (oksitetrasiklkin) (generik), cairan injeksi 50 mg/ vial : diberikansecara oral, parenteral, topikal, absorbsi dihambat oleh susu.
  3. Deklomisin (dimetil klortetrasiklin) bersifat long akting, absorbsi tidak dihambat baik oleh makanan maupun susu
  4. Akromisin (tetrasiklin), dianjurkan untuk meningitis, bronchitis dan jerawat.Pemberian secara oral.

Spesialite obat-obat golongan Tetrasiklin

“Modifikasi Semisintetik Tetrasiklin”

Golongan Makrolida

Kelompok antibiotik ini teridiri dari eritromisin, karbomisin, oleandomisin, dan pimarisin.

Eritromisin

Eritromisin dihasilkan oleh Streptomyces erythreus. Berkhasiat sebagai bakteriostatik, dengan mekanisme kerja merintangi sintesis protein bakteri. Antibiotik ini tidak stabil dalam suasana asam (mudah terurai oleh asam lambung) dan kurang stabil pada suhu kamar. Untuk mencegah pengrusakan oleh asam lambung maka dibuat tablet salut selaput atau yang digunakan jenis esternya (stearat danestolat. Karena memiliki spktrum antibakteri yang hampir sama dengan penisilinmaka obat ini digunakan sebagai alternatif pengganti penisilin, bagi yang sensitif terhadap penisilin.

Sediaan : Erytromisin (generik) kapsul 250 mg, 500 mg, sirup kering 200 mg/ 5 ml.

Struktur Eritromisin
Spiramisin

Spektrum kegiatannya sama dengan eritromisin, hanya lebih lemah. Keuntungannya adalah dayaa penetrasi ke jaringan mulut, tenggorokan dan saluran pernafasan lebih baik dari Eritromisin.

Sediaan : Spiramisin (generik) tabl. 250 mg, 500 mg.

Tabel. Spesialite obat-obat golongan makrolida

Golongan Sulfonamida

Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.

kotrimoksazol

Antibiotik ini bersifat bakteriostatik, yaitu bekerja menghambat pertumbuhan bakteri. Mekanismenya melalui hambatan pada sintesis asam folat sehingga mengganggu perkembangan bakteri. Saat diberikan pada ayam baik secara oral maupun suntikan (subkutan, intramuskuler), antibiotik yang telah digunakan sejak 1933 ini akan mampu mengatasi infeksi bakteri Gram (+), Gram (-) dan protozoa. Agar daya kerja lebih optimal, saat pemberian obat dengan kandungan antibiotik ini sebaiknya tidak diberikan suplemen berupa vitamin B dan atau asam amino. Selain itu, saat ayam mengalami gangguan ginjal sebaiknya penggunaan antibiotik ini dihindari.

Selain itu, obat ini menghambat pertumbuhan bakteri dengan mencegah penggunaan PABA (para amino benzoic acid) oleh bakteri untuk mensintesis PGA (pteroylglutamic acid).

Trimetoprim-sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatis pada dua tahap yang berturutan pada mikroba, sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergis.

Struktur Sullfanilamide dan trimetoprim

Antibiotika lain yang penting (seperti: kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat)

Berdasarkan mekanisme aksinya, yaitu mekanisme bagaimana antibiotik secara selektif meracuni sel bakteri, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Mengganggu sintesa dinding sel, seperti penisilin, sefalosporin, imipenem, vankomisin, basitrasin. Akibatnya pembentukan dinding sel tidak sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmosa dari plasma, akhirnya sel akan pecah.
  2. Mengganggu sintesa protein bakteri, akibatnya sel tidak sempurna terbentuk seperti klindamisin, linkomisin, kloramfenikol, makrolida, tetrasiklin, gentamisin.
  3. Menghambat sintesa folat, seperti sulfonamida dan trimetoprim.
  4. Mengganggu sintesa DNA, seperti metronidasol, kinolon, novobiosin.
  5. Mengganggu sintesa RNA, seperti rifampisin akibatnya sel tidak biasa berkembang
  6. Mengganggu fungsi membran sel,molekul lipoprotein dari membran sel dikacaukan pembentukannya, hingga bersifat lebih permeabel akibatnya zat-zat penting dari inti sel dapat keluar (kelompok peptida) seperti polimiksin B, gramisidin.
Kloramfenikol

Sejak ditemukan pertama kali dan diketahui bahwa daya antimikrobanya kuat, maka penggunaan obat ini meluas dengan cepat sampai tahun 1950 ketika diketahui bahwa obat ini dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.

Struktur Kloramfenikol dan Tiamfenikol

Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Kerjanya dengan jalan menghambat sintesis protein kuman

Antibiotik dapat pula digolongkan berdasarkan organisme yang dilawan dan jenis infeksi. Berdasarkan keefektifannya dalam melawan jenis bakteri, dapat dibedakan antibiotik yang membidik bakteri gram positif atau gram negatif saja, dan antibiotik yang berspektrum luas, yaitu yang dapat membidik bakteri gram positif dan negatif. Sebagian besar antibiotik mempunyai dua nama, nama dagang yang diciptakan oleh pabrik obat, dan nama generik yang berdasarkan struktur kimia antibiotik atau golongan kimianya. Contoh nama dagang dari amoksilin, sefaleksin, siprofloksasin, kotrimoksazol, tetrasiklin dan doksisiklin, berturut-turut adalah Amoxan, Keflex, Cipro, Bactrim, Sumycin, dan Vibramycin.

Biosintesis Antibiotik

Biosintesis Penisilin, sefalosporin dan 7α-metoksisefalosporin

Jalur Percabangan Hipotetik Biosintesis Penisilin N dan Sefalosporin C

Sintesis Fenoksimetilpenisilin

Konversi Penisilin alam menjadi penisilin sintetik

Mekanisme Aktivitas Antibiotik

Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif yang tinggi. Artinya obat itu harus bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk manusia. Berdasarkan sifat ini, ada antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan ada pula yang bersifat bakterisid. Bakterisid adalah zat antibakteri yang memiliki aktifitas membunuh bakteri, sedangkan bakteriostatik adalah zat antibakteri yang memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri (menghambat perbanyakan populasi bakteri), namun tidak mematikan.

Mekanisme aksi beberapa antibiotik yang umum digunakan:

Setiap antibiotik hanya efektif untuk jenis infeksi tertentu. Misalnya untuk pasien yang didiagnosa menderita radang paru-paru, maka dipilih antibiotik yang dapat membunuh bakteri penyebab radang paru-paru ini. Keefektifan masing-masing antibiotik bervariasi tergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.

Antibiotik oral adalah cara yang paling mudah dan efektif, dibandingkan dengan antibiotik intravena (suntikan melalui pembuluh darah) yang biasanya diberikan untuk kasus yang lebih serius. Beberapa antibiotik juga dipakai secara topikal seperti dalam bentuk salep, krim, tetes mata, dan tetes telinga.

Penentuan jenis bakteri patogen ditentukan dengan pemeriksaan laboratorium. Tehnik khusus seperti pewarnaan gram cukup membantu mempersempit jenis bakteri penyebab infeksi. Spesies bakteri tertentu akan berwarna dengan pewarnaan gram, sementara bakteri lainnya tidak.

Tehnik kultur bakteri juga dapat dilakukan, dengan cara mengambil bakteri dari infeksi pasien dan kemudian dibiarkan tumbuh. Dari cara bakteri ini tumbuh dan penampakannya dapat membantu mengidentifikasi spesies bakteri. Dengan kultur bakteri, sensitivitas antibiotik juga dapat diuji.

Penting bagi pasien atau keluarganya untuk mempelajari pemakaian antibiotik yang benar, seperti aturan dan jangka waktu pemakaian. Aturan pakai mencakup dosis obat, jarak waktu antar pemakaian, kondisi lambung (berisi atau kosong) dan interaksi dengan makanan dan obat lain.

Pemakaian yang kurang tepat akan mempengaruhi penyerapannya, yang pada akhirnya akan mengurangi atau menghilangkan keefektifannya. Bila pemakaian antibiotik dibarengi dengan obat lain, yang perlu diperhatikan adalah interaksi obat, baik dengan obat bebas maupun obat yang diresepkan dokter. Sebagai contoh, Biaxin (klaritromisin, antibiotik) seharusnya tidak dipakai bersama-sama dengan Theo-Dur (teofilin, obat asma).

Jangka waktu pemakaian antibiotik adalah satu periode yang ditetapkan dokter. Sekalipun sudah merasa sembuh sebelum antibiotik yang diberikan habis, pemakaian antibiotik seharusnya dituntaskan dalam satu periode pengobatan.

Bila pemakaian antibiotik berhenti di tengah jalan, maka tidak semua bakteri akan mati, sehingga menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut. Hal ini dapat menimbulkan masalah serius bila bakteri yang resisten berkembang sehingga menyebabkan infeksi ulang.

Efek Samping Penggunaan Antibiotik

Disamping banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dalam pengobatan infeksi, antibiotik juga memiliki efek samping pemakaian, walaupun pasien tidak selalu mengalami efek samping ini. Efek samping yang umum terjadi adalah sakit kepala ringan, diare ringan, dan mual.

Dokter perlu diberitahu bila terjadi efek samping seperti muntah, diare hebat dan kejang perut, reaksi alergi (seperti sesak nafas, gatal dan bilur merah pada kulit, pembengkakan pada bibir, muka atau lidah, hilang kesadaran), bercak putih pada lidah, dan gatal dan bilur merah pada vagina

Resistensi Antibiotik

Salah satu perhatian terdepan dalam pengobatan modern adalah terjadinya resistensi antibiotik. Bakteri dapat mengembangkan resistensi terhadap antibiotik, misalnya bakteri yang awalnya sensitif terhadap antibiotik, kemudian menjadi resisten.

Resistensi ini menghasilkan perubahan bentuk pada gen bakteri yang disebabkan oleh dua proses genetik dalam bakteri:

Mutasi dan seleksi (atau evolusi vertikal)

Evolusi vertikal didorong oleh prinsip seleksi alam. Mutasi spontan pada kromosom bakteri memberikan resistensi terhadap satu populasi bakteri. Pada lingkungan tertentu antibiotika yang tidak termutasi (non-mutan) mati, sedangkan antibiotika yang termutasi (mutan) menjadi resisten yang kemudian tumbuh dan berkembang biak.

Perubahan gen antar strain dan spesies (atau evolusi horisontal)

Evolusi horisontal yaitu pengambil-alihan gen resistensi dari organisme lain. Contohnya, streptomises mempunyai gen resistensi terhadap streptomisin (antibiotik yang dihasilkannya sendiri), tetapi kemudian gen ini lepas dan masuk ke dalam E. coli atau Shigella sp.

Beberapa bakteri mengembangkan resistensi genetik melalui proses mutasi dan seleksi, kemudian memberikan gen ini kepada beberapa bakteri lain melalui salah satu proses untuk perubahan genetik yang ada pada bakteri.

Ketika bakteri yang menyebabkan infeksi menunjukkan resistensi terhadap antibiotik yang sebelumnya sensitif, maka perlu ditemukan antibiotik lain sebagai gantinya. Sekarang penisilin alami menjadi tidak efektif melawan bakteri stafilokokus dan harus diganti dengan antibiotik lain. Tetrasiklin, yang pernah dijuluki sebagai “obat ajaib”, kini menjadi kurang bermanfaat untuk berbagai infeksi, mengingat penggunaannya yang luas dan kurang terkontrol selama beberapa dasawarsa terakhir.

Keberadaan bakteri yang resisten antibiotik akan berbahaya bila antibiotik menjadi tidak efektif lagi dalam melawan infeksi-infeksi yang mengancam jiwa. Hal ini dapat menimbulkan masalah untuk segera menemukan antibiotik baru untuk melawan penyakit-penyakit lama (karena strain resisten dari bakteri telah muncul), bersamaan dengan usaha menemukan antibiotik baru untuk melawan penyakit-penyakit baru.

Berkembangnya bakteri yang resisten antibiotik disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan. Ini mencakup seringnya antibiotik diresepkan untuk pasien demam biasa atau flu. Meskipun antibiotik tidak efektif melawan virus, banyak pasien berharap mendapatkan resep mengandung antibiotik ketika mengunjungi dokter. Setiap orang dapat membantu mengurangi perkembangan bakteri yang resisten antibiotik dengan cara tidak meminta antibiotik untuk demam biasa atau flu.

Farmakokinetika Antibiotik

Agar suatu obat efektif untuk pengobatan, maka obat itu harus mencapai tempat aktifitasnya di dalam tubuh dengan kecepatan dan jumlah yang cukup untuk menghasilkan konsentrasi efektif.

Faktor-faktor yang penting dan berperan dalam farmakokinetika obat adalah absorpsi, distribusi, biotransformasi, eliminasi, faktor genetik dan interaksi obat. Antibiotika yang akan mengalami transportasi tergantung dengan daya ikatnya terhadap protein plasma. Bentuk yang tidak terikat dengan protein itulah yang secara farmakologis aktif, yaitu punya kemampuan sebagai antimikroba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *