Antitusif adalah obat yang menekan refleks batuk, digunakan pada gangguan saluran nafas yang tidak produktif dan batuk akibat teriritasi, seperti ekstrak, tingtur, dan serbuk.

Pada tahun 1805, seorang ahli farmasi dari Jerman bernama Sertuerner berjaya mengisolasi morfin (diambil dari bahasa Yunani Morpheus, bermakna Dewa Mimpi). Kandungan morfin daripada  candu sampai 10%. Pada  tahun 1874, kilang ubat Bayer di Jerman berjaya  mensintesis heroin (diasetilmorfin atau diamorfin) dari bahan asas morfin menggunakan asam asetat atau cuka anhidrat. Nama heroin diambil dari bahasa Jerman, yakni heroic yang bermakna pahlawan. Heroin yang pertama kali dibuat ini dicoba untuk obat penekan batuk (antitusif) dan penghilang rasa sakit.

Klasifikasi Antitusif

Secara umum berdasarkan tempat kerja obat antitusif dibagi atas antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yang berkerja di sentral. Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik.

Antitusif yang bekerja di perifer

Obat golongan ini menekan batuk dengan mengurangi iritasi lokal di saluran nafas, yaitu pada reseptor iritan perifer dengan cara anastesi langsung atau secara tidak langsung mempengaruhi lendir saluran nafas. Jenis dari antitusif yang bekerja di perifer antara lain:

Obat-obat anestesi

Obat anestesi lokal seperti benzokain, lidokain, benzilalkohol, fenol dan garam fenol digunakan dalam pembuatan lozenges. Obat ini mengurangi batuk akibat rangsang reseptor iritan di faring, tetapi hanya sedikit manfaatnya untuk mengatasi batuk akibat kelainan salauran nafas bawah.

Obat anestesi yang diberikan secara topikal seperti tetrakain, kokain dan lidokain sangat bermanfaat dalam menghambat batuk akibat prosedur pemeriksaan bronkoskopi.

Beberapa hal harus diperhatikan dalam pemakaian obat anestesi topikal yaitu resiko aspirasi beberapa jam sesudah pemakaian obat. Diketahui kemungkinan reaksi alergi terhadap obat anestesi. Peningkatan tekanan jalan nafas sesudah inhalasi zat anestesi. Resiko terjadinya efek toksis sistemik termasuk aritmia dan kejang terutama pada penderita penyakit hati dan jantung.

Salah satu jenis dari obat-obat anestesi adalah lidokain. Lidokain merupakan contoh obat anestesi yang diberikan secara topikal seperti tetrakain, dan kokain. Obat ini sangat bermanfaat dalam menghambat batuk dari pemeriksaan bronkoskopi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemakaian anestesi topikal antara lain:

  1. Resiko aspirasi beberapa jam sesudah pemakaian obat.
  2. Kemungkinan adanya reaksi alergi terhadap obat anestesi.
  3. Peningkatan tahanan jalan napas sesudah inhalasi zatanestesi.
  4. Resiko terjadinya efek toksis sistemik, termasuk aritmia dan kejang terutama pada penderita penyakit hati dan jantung.

Lidokain adalah derivat asetanilida yang merupakan obat pilihan utama untuk anestesi permukaan maupun infiltrasi. Lidokain adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Anestesi terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama, dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain.

Obat ini mempunyai kemampuan untuk menghambat konduksi di sepanjang serabut saraf secara reversibel, baik serabut saraf sensorik, motorik, maupun otonom.Kerja obat tersebut dapat dipakai secara klinis untuk menyekat rasa sakit dari atau impuls vasokonstriktor menuju daerah tubuh tertentu. Lidokain mampu melewati sawar darah otak dan diserap secara cepat dari tempat injeksi. Dalam hepar, lidokain diubah menjadi metabolit yang lebih larut dalam air dan disekresikan ke dalam urin. Absorbsi dari lidokain dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain tempat injeksi, dosis obat, adanya vasokonstriktor, ikatan obat – jaringan, dan karakter fisikokimianya. Berikut ini adalah sintesis dari lidokain:

Sintesis Lidokain

Demulcent

Demulcent bekerja melapisi mukosa faring dan mencegah kekeringan selaput lendir. Obat ini digunakan sebagai pelarut antitusif lain atau sebagai lozenges yang mengandung madu, akasia, gliserin dan anggur. Secara objektif tidak ada data yang menunjukkan obat ini mempunyai efek antitusif yang bermakna, tetapi karena aman dan memberikan perbaikan subjektif obat ini banyak dipakai.

Struktur Demulcent

Antitusif yang bekerja sentral.

Obat ini berkerja menekan batuk dengan meninggikan ambang rangsangan yang dibutuhkan untuk merangsang pusat batuk dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik.

Antitusif golongan narkotik

Jenis-jenis antitusif yang bekerja sentral golongan narkotik antara lain:

Opiat

Opiat dan derivatnya mempunyai berbagai macam efek farmakologi sehingga digunakan sebagai analgesik, antitusif, sedatif, menghilangkan sesak karena gagal jantung dan anti diare. Diantara golongan alkaloid, jenis morfin dan kodein sering digunakan. Efek samping obat ini adalah penekanan pusat nafas, konstipasi, kadang-kadang mual dan muntah, serta efek adiksi.

Struktur Opiat

Opiat dapat menyebabkan terjadinya brokospasme karena pelepasan histamin. Tetapi efek ini jarang terlihat pada dosis terapi untuk antitusif. Disampint itu, narkotik juga dapat mengurangi efek pembersihan mukosilier dengan menghambat sekresi kelenjar mukosa bronkus dan aktivitas silia.

Kodein

Kodein merupakan asam opiat alkaloid yang dijumpai dalam konsentrasi 0,7-2,5%. Kebanyakan kodein dibuat dari morfin melalui proses metilasi .

Struktur Kodein

Di dalam hati kodein diubah menjadi morfin dengan dikatalis oleh enzim sitokrom P450 dan CYP2D6. Kodein digunakan sebagai obat batuk. Kodein selalu dibuat dalam pil atau cairan dan dapat dipakai dalam bentuk tunggal maupun sebagai obat campuran dengan kafein, aspirin, asetaminofen, atau ibuprofen. Kodein merupakan antitusif narkotik yang paling efektif dan salah satu obat yang paling sering diresepkan. Pada orang dewasa dosis tunggal 20-60 mg atau 40-160 mg per hari biasanya efektif. Kodein ditolerir dengan baik dan sedikit sekali menimbulkan ketergantungan. Disamping itu obat ini sangat sedikit sekali menyebabkan penekanan pusat nafas dan pembersihan mukosilia.

Kelemahan dari penggunaan kodein adalah rasanya pahit, mual dan muntah, menurunkan peristalsis sehingga menyebabkan konstipasi, menyebabkan ketergantungan, dan menyebabkan alergi karena memicu pelepasan histamin. Efek samping pada dosis biasa jarang ditemukan.

Hidrokodon
Struktur Hidrokodon

Hidrokodon merupakan derivat sintetik morfin dan kodein, mempunyai efek antitusif yang serupa dengan kodein. Efek samping utama adalah sedasi, pelepasan histamin, konstipasi, dan kekeringan mukosa. Obat ini tidak lebih unggul dari kodein.

Derivat morfin dan kodein yang lain seperti hidromorfon memang  mempunyai efek antitusif, tetapi obat ini mempunyai efek adiksi yang lebih besar dan tidak lebih unggul bila dibandingkan dengan kodein.

Antitusif non-narkotik

Jenis-jenis dari antitusif non-narkotik antara lain:

Dekstrometrofan
Struktur Dekstrometrofan

Dekstrometorfan merupakan bahan kimia sintetik dengan nama kimianya adalah 3 methoxy-17-methyl morphinan monohydrat yang merupakan d-isomer dari levophenol, analog dari kodeindan analgesik opioid.

Dekstrometorfan merupakan derivat fenantren non-narkotik yang berkhasiat menekan rangsangan batuk, yang sama kuatnya dengan kodein tapi bertahan lebih lama. Mekanisme kerjanya berdasarkan peningkatan ambang pusat batuk di otak. Pada penyalahgunaan dengan dosis tinggi dapat terjadi efek stimulasi SPP dengan menimbulkan semacam euforia, maka kadang kala digunakan oleh pecandu obat.

Butamirat sitrat
Struktur Butamirat Sitrat

Obat ini bekerja pada sentral dan perifer. Pada sentral obat ini menekan pusat refleks dan di perifer melalui aktifitas bronkospasmolitik dan aksi antiinflamasi. Obat ini ditoleransi dengan baik oleh penderita dan tidak menimbulkan efek samping konstipasi, mual, muntah dan penekanan susunan saraf pusat. Butamirat sitrat mempunyai keunggulan lain yaitu dapat digunakan dalam jangka panjang tanpa efek samping dan memperbaiki fungsi paru yaitu meningkatkan kapasitas vital dan aman digunakan pada anak. Dosis dewasa adalah 3×15 ml dan untuk anak-anak umur 6-8 tahun 2×10 ml sedangkan anak berumur lebih dari 9 tahun dosisnya 2×15 ml.

Difenhidramin

Difenhidramin merupakan generasi pertama obat antihistamin. Dalam proses terapi difenhidramin termasuk kategori antidot, reaksi hipersensivitas, antihistamin, dan sedatif. Memiliki sinonim Difenhiramin HCl dan digunakan untuk mengatasi gejala alergi pernapasn dan alergi kulit, memberi efek mengantuk bagi orang yang sulit tidur, mencegah mabuk perjalanan dan sebagai antitusif, antimual, dan anestesi topikal.

Struktur Difenhidramin

Difenhiramin merupakan amina stabil dan cepat diserap pada pemberian secara oral, dengan konsentrasi darah puncak terjadi pada 2-4 jam. Obat ini di dalam tubuh dapat terdistribusi meluas dan dapat dengan segera memasuki sistem syaraf pusat, sehingga dapat menimbulkan efek sedasi dengan waktu maksimum 1-3jam. Difenhidramin memiliki waktu kerja selama 4-7 jam, sedangkan waktu paruhnya mencapai 2-8 jam dan 13,5 jam bagi pasien dengan geriarti.

Difenhiramin memblokir aksi histamin. Difenhidramin menghambat pelepasan histamin (H1) dan asetilkolin (menghilangkan ingus saat flu). Hal ini memberi efek seperti peningkatan kontraksi otot polos vaskular, sehingga mengurangi kemerahan, hipertermia, dan edema yang terjadi selama reaksi peradangan. Difenhidramin menghalangi reseptor H1 pada perifer nociceptors sehingga mengurangi sensitisasi dan akibatnya dapat mengurangi gatal yang berhubungan dengan reaksi alergi.

Cara kerja difenhiramin di dalam tubuh dibagi menjadi dua cara, yaitu:

Kerja antikolinoseptor

Kebanyakan antagonis H1 terutama dari subgrup etanolamin dan etilendiamin, mempunyai efek seperti atropin yang bermakna atas reseptor muskarinik perifer. Kerja ini mungkin bertanggung jawab bagi beberapa manfaat yang dilaporkan bagi rinore nonalergi tetapi bisa juga menyebabkan retensio urina dan kaburnya penglihatan.

Anestesi lokal

Sebagian besar antagonis H1 merupakan anastesi lokal yang efektif. Obat ini menghambat saluran natrium pada membran yang dirangsang dengan cara yang sama seperti prokain dan lidokain. Sebenarnya difenhidramin dan prometazin lebih kuat sebagai anestesi lokal daripada prokain. Kadang-kadang dipakai untuk menimbulkan anestesi lokal pada penderita yang alergi terhadap obat anestesi lokal konvensional.

Difenhiramin mempunyai manfaat mengurangi batuk kronik pada bronkitis. Efek samping yang dapat ditimbulkan ialah mengantuk, kekeringan mulut dan hidung, kadang-kadang menimbulkan perangsangan susunan saraf pusat. Obat ini mempunyai efek antikolinergik karena itu harus digunakan secara hati-hati pada penderita glaukoma, retensi urin dan gangguan fungsi paru. Dosis yang dianjurkan sebagai obat batuk ialah 25 mg setiap 4 jam, tidak melebihi 100 mg/ hari untuk dewasa. Dosis untuk anak berumur 6-12 tahun ialah 12,5 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 50 mg/ hari. Sendangkan untuk anak 2-5 tahun ialah 6,25 mg setiap 4 jam dan tidak melebihi 25 mg / hari

Noskapin
Struktur Noskapin

Noskapin tidak mempunyai efek adiksi meskipun termasuk golongan alkaloid opiat. Efektivitas dalam menekan batuk sebanding dengan kodein. Kadang-kadang memberikan efek samping berupa pusing, mual, rinitis, alergi akut dan konjung-tivitis. Dosis dewasa 15-30 mg setiap 4- 6 jam, dosis tunggal 60 mg aman dalam menekan batuk paroksismal. Anal( berumur 2 – 12 tahun dosisnya 7,5 – 15 mg setiap 3 – 4 jam dan tidak melebihi 60 mg per hari.

Isoaminil
Gambar 2.17. Struktur Isoaminil

Isoaminile (4-(dimethylamino)-2-isopropyl-2-phenylpentanenitrile) ditemukan oleh Hoechst AG di tahun 1950-an. Digunakan di bawah nama dagang (Peracon) sebagai antitusif dan secara struktural terkait dengan metadon. Efek psikedelik telah dicatat dari dosis sekitar 300 mg dan di atas. Dosis normal adalah 40-80 terapi mg garam siklamat tidak melebihi lima dosis dalam periode 24-jam. Selain efek antitusif sentral juga antikolinergik merupakan, menunjukkan kedua tindakan antimuscarinic dan antinicotinic.

Karbetapentan (Pentoxyverine)
Struktur Karbetapentan

Karbetapentan (2-[2-(diethylamino)ethoxy]ethyl 1-phenylcyclopentanecarboxylate) digunakan untuk pengobatan batuk kering yang terkait dengan kondisi umum, bronkitis dingin atau sinusitis. Seperti antitusif kodein dan lainnya, mengurangi gejala, tetapi tidak menyembuhkan penyakit. Tidak ada uji coba klinis terkontrol mengenai efisiensi pentoyxverine yang tersedia.

Karbetapentan menekan refleks batuk dalam sistem saraf pusat, tetapi mekanisme yang tepat tindakan tidak diketahui dengan pasti. Obat bertindak sebagai antagonis reseptor muskarinik pada (subtipe M1) dan sebagai agonis pada reseptor sigma (subtipe σ1). Sifat antikolinergik secara teoritis dapat berada pada alveoli paru dan mengurangi produksi dahak. Spasmolytic dan sifat anestesi lokal juga telah dijelaskan. Relevansi klinis dari mekanisme ini adalah tidak pasti.

Benzonatat
Struktur Benzonatat

Benzonatate atau 2,5,8,11,14,17,20,23,26-nonaoxaoctacosan-28-il para-butylaminobenzoate adalah antitusif non-opioid oral (penekan batuk) dengan efek yang terakhir dari 6 sampai 8 jam. Karena bukan merupakan golongan opioid, benzonatate tidak rentan terhadap penyalahgunaan obat batuk seperti beberapa lainnya seperti kodein. Benzonatate telah disetujui oleh US Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 1958.

Sebuah antitusif, benzonatate digunakan untuk mengurangi batuk dalam kondisi pernapasan beragam seperti emfisema bronkitis, influenza pneumonia, dan. Ini tidak boleh digunakan untuk menekan batuk produktif atau di tempat pengobatan penyebab sebenarnya batuk, seperti pengobatan asma.

Telah digunakan dalam dosis kecil sebagai anestesi topikal untuk mulut atau nyeri faring. Praktek ini tidak dianjurkan, karena anestesi orofaringeal dapat menyebabkan aspirasi paru.

Golongan Thiol

Obat ini memecah rantai disulfida mukoprotein, dengan akibat lisisnya mukus. Salah satu obat yang termasuk golongan ini adalah asetilsistein.

Struktur Asetilsistein

Asetilsistein (acetylcycteine) diberikan kepada penderita penyakit bronkopulmonari kronis, pneumonia, fibrosis kistik, obstruksi mukus, penyakit bronkopulmonari akut, menjaga saluran pernafasan dan kondisi lain yang terkait dengan mukus yang pekat sebagai faktor penyulit. Ia diberikan secara semprotan (nebulization) atau obat tetes hidung. Asetilsistein menurunkan viskositas sekret paru pada pasien radang paru. Kerja utama dari asetilsistein adalah melalui pemecahan ikatan disulfida. Reaksi ini menurunkan viskositasnya dan seterusnya memudahkan penyingkiran sekret tersebut, juga dapat menurunkan viskositas sputum. Efektivitas maksimal terkait dengan pH dan mempunyai aktivitas yang paling besar pada batas basa kira-kira pH 7 hingga 9. Sputum akan menjadi encer dalam waktu 1 menit, dan efek maksimal akan dicapai dalam waktu 5 hingga 10 menit setelah diinhalasi. Semasa trakeotomi, obat ini juga diberikan secara langsung pada trakea. Efek samping yang mungkin timbul berupa spasme bronkus, terutama pada pasien asma. Selain itu, terdapat juga timbul mual, muntah, stomatitis, pilek, hemoptisis, dan terbentuknya sekret berlebihan sehingga perlu disedot (suction). Maka, jika obat ini diberikan, hendaklah disediakan alat penyedot lendir nafas. Biasanya, larutan yang digunakan adalah asetilsistein 10% hingga 20%.

Biosintesis Antitusif

Salah satu jenis antitusif yang terkenal adalah kodein yang termasuk turunan senyawa alkaloid. Kodein disintesis dari dengan prekursor tirosin yang merupakan suatu jenis asam amino. Berikut ini akan dijelaskan mengenai biosintesis kodein dari prekusor tirosin.

Mekanisme biosintesis kodein dari prekusor tirosin.

Mekanisme Kerja Antitusif

Jenis Kodein

Kodein merupakan analgesik agonis opioid. Efek kodein terjadi apabila kodein berikatan secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai tempat di susunan saraf pusat. Efek analgesik kodein tergantung afinitas kodein terhadap reseptor opioid tersebut. Kodein dapat meningkatkan ambang rasa nyeri dan mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima dari thalamus. Kodein juga merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf pusat dengan menekan pusat batuk.

Kodein mudah diserap dari saluran gastrointestinal usus dan dimetabolisme oleh O-dan N-demethylation di hati untuk morfin dan norcodeine yang dengan kodein yang diekskresikan hampir seluruhnya oleh ginjal, terutama sebagai konjugat dengan asam glukuronat. Sebagian besar produk-produk ekskresi dalam urin muncul dalam waktu 6 jam dan 40 sampai 60 persen dari kodein diekskresikan bebas atau terkonjugasi, kira-kira 5 sampai 15 persen sebagai bebas morfin dan sekitar 10 hingga 20 persen sebagai bebas dan terkonjugasi.

1 Komentar pada “Antitusif: Obat Penekan Refleks Batuk”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *