Salah satu ancaman yang cepat atau lambat akan menghancurkan generasi muda kita adalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Masalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidisipliner, multisektor dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.

Dalam bidang kedokteran sebagian besar golongan NAPZA masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan dengan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur illegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya di kota-kota besar saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil di seluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15-24 tahun. Tampaknya generasi generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA. Oleh karena itu kita semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda. Sector kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA.

Berdasarkan laporan WHO (2004) pada tahun 2002, penyalahgunaan obat-obat terlarang mengakibatkan 85.000 kematian di seluruh dunia yang terdiri dari 70.000 (82,35%) laki-laki dan 15.000 (35,47%) perempuan. Proporsi tertinggi terdapat di Mediterania Timur (35,37%) dan di susul Asia Tenggara (27,10%).

Pengertian Zat Adiktif

Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus yang jika dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar biasa, atau zat yang bukan narkotika dan psikotropika tetapi menimbulkan ketagihan. Zat adiktif merupakan zat atau bahan kimia yang bisa membanjiri sel saraf di otak khususnya Reward Circuit atau jalur kesenangan dengan dopamine, yaitu zat kimia yang mengatur sifat senang, perhatian, kesadaran dan fungsi lainnya

Zat adiktif dapat mempengaruhi otak dalam berbagai cara:

  1. Stimulant (membuat orang merasa lebih energik)
  2. Depressant (membawa rasa relaksasi)
  3. Hallucionogens (mengubah cara seseorang mengalami pengalaman secara nyata)

Macam-Macam Zat Adiktif

Zat adiktif dapat digolongkan menjadi legal, illegal dan yang digabung dengan resep.

  1. Zat adiktif legal: caffeine, nikotin, alkohol, inhalants
  2. Zat adiktif yang khusus tersedia atau digabung dengan resep obat: amphetamine, sedative-hypotic, opioids
  3. Zat adiktif illegal: cannabis, kokain, hallucinogens, phencyclidine

Zat Adiktif Legal

Caffeine

Caffeine adalah sebuah bahan kimia yang mempunyai efek:

  • Stimulasi system saraf pusat
  • Stimulasi metabolism
  • Menyerap karbohidrat (26% lebih banyak jika mengonsumsi caffeine) dan lemak lebih banyak pada saat beraktivitas

Stimulasi system saraf pusat yang meningkat akan meningkatkan alertness, wakefulness, kecepatan dalam berpikir, fokus dan koordinasi tubuh yang baik. Efek inilah yang diharapkan jika seseorang mengonsumsi kopi di pagi hari ataupun pada waktu mau beraktivitas.

Stimulasi metabolisme akan mempercepat proses metabolisme, contohnya konsumsi kopi akan mempercepat tubuh kita untuk memproduksi urin. Efek lain yang banyak dicari orang adalah tingkat penyerapan karbohidrat yang lebih tinggi jika kita mengonsumsi caffeine. Bagi beberapa orang yang sedang ingin menurunkan berat badan, efek yang terakhir ini mungkin menjadi salah satu prioritas. Efek caffeine dapat dirasakan dalam 45 menit (untuk pria dewasa yang sehat) dan akan bertahan selama 8 jam (efek caffeine akan menurun dari jam ke-3 sampai jam ke 8). Penelitian mengenai caffeine juga sudah dilakukan di dunia olah raga misalnya olah raga bersepeda dengan hasil bahwa konsumsi caffeine 9 miligram per kilogram berat badan akan meningkatkan endurance sebesar 51% .

Dari efek yang telah disebutkan diatas, perlu diingat bahwa konsumsi caffeine harus sesuai dengan batasan maksimum dan tidak disarankan untuk mengonsumsi secara berlebihan. Bagi pria disarankan dua sampai tiga gelas sehari. Berbagai jenis spesies kopi mengandung kadar caffeine yang berbeda pula , Arabica misalnya mengandung hanya setengah kadar caffeine dari kopi Robusta. Cara pembuatan juga menentukan kadar caffeine dalam sebuah cangkir kopi. Misalnya espresso jika dibandingkan dengan kopi tubruk mengandung kadar caffeine lebih rendah walaupun espresso mempunyai rasanya lebih kuat/strong. Jadi kita sebaiknya mencari tahu jenis kopi dan cara pembuatannya, sehingga kita bisa mengukur kadar caffeine dengan baik.

Nikotin

Nikotina adalah senyawa kimia organik kelompok alkaloid yang dihasilkan secara alami pada berbagai macam tumbuhan, terutama suku terung-terungan (Solanaceae) seperti tembakau dan tomat. Nikotina berkadar 0,3 sampai 5,0% dari berat kering tembakau berasal dari hasil biosintesis di akar dan terakumulasi di daun.

Nikotina merupakan racun saraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida. Pada konsentrasi rendah, zat ini dapat menimbulkan kecanduan, khususnya pada rokok. Nikotina memiliki daya karsinogenik terbatas yang menjadi penghambat kemampuan tubuh untuk melawan sel-sel kanker, akan tetapi nikotina tidak menyebabkan perkembangan sel-sel sehat menjadi sel-sel kanker.

Pada konsentrasi rendah (sebuah menghasilkan rokok rata-rata sekitar 1 mg nikotin diserap), substansi bertindak sebagai stimulan pada mamalia dan merupakan faktor utama yang bertanggung jawab untuk membentuk ketergantungan-sifat dari merokok tembakau. Menurut American Heart Association, kecanduan nikotin secara historis menjadi salah satu kecanduan paling sulit untuk istirahat, sedangkan karakteristik farmakologis dan perilaku yang menentukan kecanduan tembakau adalah sama dengan yang menentukan kecanduan heroin dan kokain. Kandungan nikotin dalam rokok telah perlahan-lahan meningkat selama bertahun-tahun, dan satu studi menemukan bahwa ada peningkatan rata-rata 1,6% per tahun antara tahun 1998 dan 2005. Ini ditemukan untuk semua kategori pasar utama dari rokok.

Penelitian pada tahun 2011 telah menemukan bahwa nikotin menghambat enzim memodifikasi kromatin-(kelas I dan II deacetylases histon) yang meningkatkan kemampuan kokain menyebabkan kecanduan.

Nikotin adalah cairan, higroskopis berminyak yang larut dengan air dalam bentuk dasarnya. Sebagai dasar nitrogen, nikotin bentuk garam-garam dengan asam yang biasanya padat dan larut dalam air. Nikotin dengan mudah menembus kulit. Seperti yang ditunjukkan oleh data fisik, basa bebas nikotin akan membakar pada suhu di bawah titik didihnya, dan uap yang akan membakar di 308 K (35°C, 95°F) di udara meskipun tekanan uap rendah. Karena itu, sebagian besar nikotin yang dibakar ketika rokok adalah merokok, namun, cukup dihirup untuk menyebabkan efek farmakologis.

Pengaruh nikotin bagi manusia?
Pengaruh positif:

Secara perilaku, efek stimulasi dari nikotin menyebabkan peningkatan perhatian, belajar, waktu reaksi, dan kemampuan untuk memecahkan masalah. Menghisap rokok juga dapat meningkatkan mood, menurunkan ketegangan, menghilangkan kecemasan dan perasaan depresif. Selain itu nikotin juga dapat berfungsi sebagai antipsikotik, analgesik, dan neuroproteksi. Pemaparan nikotin dalam jangka pendek meningkatkan aliran darah serebral tanpa mengubah metabolisme oksigen serebral.

Pengaruh negatif:

Nikotin mendorong terjadinya adhesi platelet yang diasosiasikan dengan penyakit kardiovaskuler dan hipertensi. Nikotin juga mempunyai aktivitas biologi yang poten yang akan meningkatkan epinefrin dalam darah, menambah denyut jantung dan menginduksi vasokonstriksi perifer. Selain itu nikotin juga menyebabkan gangguan pernapasan, gangguan pencernaan, dan dapat menyebabkan muntah.

Berapa dosis nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan?

Kadar nikotin 4-6 mg yang diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa menimbulkan ketagihan. Nikotin adalah zat kimia yang sangat toksik. Dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan, karena paralisis (kegagalan) pernafasan.

Bagaimana mekanisme kerjanya?

Ketika kita menghisap tembakau, saat itu juga zat nikotin yang terkandung di dalamnya meresap ke dalam paru-paru yang kemudian langsung masuk ke dalam aliran darah untuk seterusnya disirkulasikan menuju otak. Semua ini terjadi dalam waktu yang sangat cepat, bahkan waktu yang ditempuh nikotin untuk mencapai otak tidak lebih dari 8 detik setelah tembakau terhisap. Bukan hanya lewat paru-paru saja nikotin bisa masuk ke dalam aliran darah. Nikotin juga bisa mencapai aliran darah melalui membran sel yang terdapat di mulut, di hidung atau bahkan lewat sel kulit.

Molekul nikotin juga berbentuk serupa dengan bentuk neurotransmiter dalam tubuh manusia yang bernama asetilkholin. Asetilkholin dengan reseptornya bereaksi dalam berbagai fungsi, diantaranya dalam molekul yang mengatur pergerakan tubuh, pernapasan, denyut jantung, dan memori. Pasangan ini juga berperan dalam pelepasan neurotransmiter lainnya dan sel hormon yang berefek pada perasaan hati, selera makan, memori dan banyak lagi yang lainnya. Pada waktu berada di otak, molekul nikotin ini langsung menyatu dengan reseptor dan bertindak seperti layaknya sebuah asetilkholin.

Nikotin juga bereaksi di bagian otak yang mengatur pembentukan perasaan nyaman dan dihargai. Hal ini disebabkan karena perjalanannya di otak, ternyata nikotin akan bereaksi di bagian otak menempel pada reseptor otak yang bernama α 4 β 2, sehingga merangsang pelepasan neurotransmiter dan melepaskan dopamin yang memberikan efek fisiologis seperti rasa nikmat, tenang, dan menciptakan perasaan nyaman dan dihargai pada manusia.

Bagaimana nikotin dapat menyebabkan kecanduan?

Kenikmatan yang dirasakan dari setiap batang rokok hanyalah sementara. Perokok kemudian akan menyalakan sebatang lagi dan tidak lama kemudian, akan menjadi ketagihan kepada nikotin. Secara perlahan nikotin akan mengakibatkan perubahan pada sel-sel otak perokok yang menyebabkan seorang perokok merasa perlu untuk merokok lebih banyak untuk mengatasi gejala-gejala ketagihan. Saat seorang perokok tidak merokok kadar dopamin lama kelamaan akan berkurang, sehingga badan merasa tidak enak, tidak bisa konsentrasi, cemas, lalu mereka akan mencari rokok lagi untuk dihisap.

Ketergantungan ini dipersepsikan sebagai kenikmatan yang memberikan kepuasan psikologis. Gejala ini dapat dijelaskan dari konsep tobacco dependency (ketergantungan rokok), artinya perilaku merokok adalah perilaku yang menyenangkan dan bergeser menjadi aktivitas yang bersifat obsesif. Hal ini disebabkan oleh sifat nikotin yang adiktif, jika dihentikan secara tiba-tiba akan menimbulkan stress. Secara manusiawi orang cenderung untuk menghindari ketidakseimbangan dan lebih senang mempertahankan apa yang selama ini dirasakan sebagai kenikmatan sehingga dapat dipahami jika para perokok sulit untuk berhenti merokok.

Kontroversial mengenai kejahatan rokok!

Sebenarnya nikotin tidak betah tinggal dalam tubuh manusia. Waktu paruh (t1/2) nikotin dalam tubuh manusia berkisar antara 20-40 menit.
Jika orang merokok satu batang rokok filter, kadar nikotin yang terserap dalam darah sebanyak 40 pph. Dan, setelah 30 menit setelah menghisap rokok, kadar nikotin dalam darah berkurang separonya menjadi 20 pph. Setelah 30 menit lagi, tinggal 10 pph dan seterusnya. Dalam 2-3 jam, nikotin sudah bersih dari dalam darah.

Alkohol

Alkohol merupakan zat adiktif dan memiliki berbagai bentuk, termasuk bir, asam cuka, anggur, ‘alcopops’ dan spirits seperti whisky, gin dan vodka. Alkohol tersedia di Indonesia dan banyak dijual di tempat-tempat berlisensi kepada orang yang berusia di atas 18 tahun, serta dinikmati dan digunakan dengan aman oleh banyak orang. Namun, alkohol merupakan penyebab masalah kesehatan dan sosial. Di Inggris, alkohol menyebabkan lebih banyak kematian daripada jenis zat adiktif lainnya.

Alkohol menjadikan otak dan badan lebih santai, dan biasanya diminum untuk efek yang menyenangkan ini. Karena kemampuannya untuk merubah suasana hati dan menyebabkan perubahan fisik, alkohol juga dapat menyebabkan masalah fisik, psikologis dan sosial. Banyak orang yang merasa bahwa minum alkohol secara moderat (satu atau dua unit alkohol per hari) dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan rasa relaks, dan berfungsi untuk mengundang selera makan. Satu unit alkohol itu sama dengan setengah pint bir berkekuatan normal atau lager, segelas anggur, atau segelas kecil sherry atau port.

Lembaga-lembaga kesehatan menganjurkan laki-laki untuk tidak minum lebih dari 3 hingga 4 unit alkohol per hari. Untuk perempuan, batas hariannya adalah 2-3 unit. Saran ini berlaku juga apakah anda minum tiap hari, mingguan atau di antara itu. Menghabiskan “jatah” minum per minggu anda dalam sekali waktu (sering disebut binge drinking) dapat menyebabkan lemahnya daya koordinasi, muntah-muntah, reaksi emosional yang berlebihan (termasuk rasa sedih, tangis, marah dan kekasaran) dan bahkan dapat menyebabkan pingsan. Perempuan yang hamil, atau berencana untuk hamil, disarankan untuk tidak minum lebih dari 1 hingga 2 unit per minggu.

Hangover pada hari berikutnya — sakit kepala, mulut kering, merasa sakit dan lelah — merupakan konsekuensi umum dari minum alkohol yang banyak pada malam sebelumnya. Gejala-gejala ini disebabkan karena dehidrasi dan keracunan, maka, bila anda minum alkohol, anda sebaiknya juga minum banyak air.

Karena bahwa jumlah kecil alkohol dapat mempengaruhi koordinasi, reaksi dan kemampuan anda mengambil keputusan, anda tidak boleh minum bahkan setetespun bila akan mengendalikan kendaraan bermotor atau mesin.

Minum alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan koma dan bahkan kematian. Konsumsi alkohol yang banyak dalam jangka panjang (10 unit atau lebih per hari untuk laki-laki atau 6 unit atau lebih untuk perempuan) dapat menyebabkan buruknya kesehatan, mempengaruhi hati, jantung dan otak. Minum alkohol setiap hari dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis.

Selain itu, orang yang minum alkohol dalam jumlah besar seringkali memiliki pola makan yang buruk dan ini dapat menyebabkan permasalahan kesehatan lain. Alkohol merupakan zat depresif dan dapat menyebabkan atau memperburuk masalah mental, psikologis atau emosional. Bila digunakan bersamaan dengan zat lain, seperti obat penghilang rasa sakit yang biasa seperti parasetamol, alkohol dapat menimbulkan efek yang lebih buruk.

Tidak ada bukti bahwa minum alkohol secara moderat (satu atau dua unit alkohol per hari) dapat menyebabkan masalah bagi orang dengan HIV. Namun, bila anda memiliki hepatitis atau bila tingkat lemak darah anda tinggi, maka anda harus mengurangi konsumsi alkohol anda atau berhenti sama sekali. Minum alkohol berlebihan dapat mempengaruhi kekebalan tubuh anda dan dapat memperlambat kesembuhan dari infeksi.

Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat juga mengakibatkan efek serius pada orang yang mengkonsumsi obat anti-HIV. Alkohol diproses oleh hati dan hati yang sehat dibutuhkan agar tubuh dapat memproses obat-obatan secara efektif. Peningkatan lemak darah yang disebabkan oleh beberapa jenis obat anti-HIV dapat diperparah dengan konsumsi alkohol berlebihan.

Orang yang memiliki hepatitis dan HIV dianjurkan untuk sama sekali tidak minum alkohol. Orang yang hatinya rusak akibat terlalu banyak alkohol (terutama bila ia memiliki hepatitis) lebih mungkin untuk mengalami efek samping dari obat anti-HIV, khususnya protease inhibitor.

Alkohol dapat bereaksi buruk dengan beberapa jenis obat (misalnya beberapa jenis obat anti-TB dan antibiotik) sehingga anda harus berkonsultasi dengan ahli farmasi untuk menentukan apakah aman untuk minum alkohol dengan obat-obatan baru yang diresepkan. Namun, tidak ada interaksi signifikan antara obat-obatan anti-HIV yang ada sekarang dengan alkohol.

Alkohol dapat menyebabkan muntah. Bila anda muntah dalam satu jam setelah minum obat anti-HIV, atau obat lain yang harus anda minum, maka anda harus mengulangi dosis tersebut.

Alkohol diperoleh atas peragian/fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi dengan proses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Kadar alkohol dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit. Setelah diserap, alkohol/etanol disebarluaskan ke suluruh jaringan dan cairan tubuh. Dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah orang akan menjadi euforia, namun dengan penurunannya orang tersebut menjadi depresi.

Dikenal 3 golongan minuman berakohol yaitu golongan A; kadar etanol 1%-5% (bir), golongan B; kadar etanol 5%-20% (minuman anggur/wine) dan golongan C; kadar etanol 20%-45% (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput).

Pada umumnya alkohol :

  • Akan menghilangkan perasaan yang menghambat atau merintangi.
  • Merasa lebih tegar berhubungan secara sosial (tidak menemui masalah).
  • Merasa senang dan banyak tertawa.
  • Menimbulkan kebingungan.
  • Tidak mampu berjalan.

Inhalants

Inhalants atau solvent adalah uap bahan yang mudah menguap yang dihirup. Contohnya aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tinner, uap bensin.Umumnya digunakan oleh anak di bawah umur atau golongan kurang mampu/anak jalanan. Penggunaan menahun toluen yang terdapat pada lem dapat menimbulkan kerusakan fungsi kecerdasan otak. Efek penggunaan inhalants adalah:

  1. Pada mulanya merasa sedikit terangsang.
  2. Dapat menghilangkan pengendalian diri atau fungsi hambatan.
  3. Bernafas menjadi lambat dan sulit.
  4. Tidak mampu membuat keputusan.
  5. Terlihat mabuk dan jalan sempoyongan.
  6. Mual, batuk dan bersin-bersin.
  7. Kehilangan nafsu makan.
  8. Halusinasi.
  9. Perilaku menjadi agresif/berani atau bahkan kekerasan.
  10. Bisa terjadi henti jantung (cardiac arrest).
  11. Pemakaian yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan syaraf otak menetap, keletihan otot, gangguan irama jantung, radang selaput mata, kerusakan hati dan ginjal dan gangguan pada darah dan sumsum tulang. Terjadi kemerahan yang menetap di sekitar hidung dan tenggorokan.
  12. Dapat terjadi kecelakaan yang menyebabkan kematian di antaranya karena jatuh, kebakar, tenggelam yang umumnya akibat intoksikasi/keracunan dan sering sendirian. bat intoksikasi/keracunan dan sering sendirian.

Pengaruh Segera Setelah pemakaian

  • Bau zat yang dihirup.
  • Dari hidung keluar air, batuk bersin, dan hidung berdarah.
  • Bicara pelo, gangguan keseimbangan dan koordinasi.
  • Sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan, jantung berdebar dan denyut nadi cepat, kesulitan pernapasan, dan selera makan hilang.
  • Mulut kering dan merasa lemah, mual, dan muntah.

Pengaruh Jangka Panjang

  • Otot lemah dan rasa letih, nyeri perut, dan selera makan hilang.
  • Mudah tersinggung, kebingungan, dan gangguan orientasi.
  • Gangguan penglihatan (penglihatan ganda) dan halusinasi (penglihatan semu).

Pengaruh pada system tubuh manusia

  1. System Syaraf  Pusat
  2. Meningkatkan risiko kerusakan otak yang menetap.
  3. Meningkatkan risiko kerusakan syaraf (perasaan tumpul dan kesemutan pada tangan dan kaki)
  4. System Jantung dan Pembuluh darah
  5. Merusak jantung.
  6. System Pernapasan
  7. Meningkatkan risiko kerusakan paru-paru.
  8. Berkurang atau hilangnya penciuman karena saluran hidung rusak

Zat adiktif yang khusus tersedia atau digabung dengan resep obat

1.    Amphetamine

Nama generik/turunan amfetamin adalah D-pseudo epinefrin yang pertama kali disintesis pada tahun 1887 dan dipasarkan tahun 1932 sebagai pengurang sumbatan hidung (dekongestan). Berupa bubuk warna putih dan keabu-abuan. Ada 2 jenis amfetamin yaitu MDMA (metil dioksi metamfetamin) dikenal dengan nama ectacy. Nama lain fantacy pils, inex. Metamfetamin bekerja lebih lama dibanding MDMA (dapat mencapai 12 jam) dan efek halusinasinya lebih kuat. Nama lainnya shabu, SS, ice. Cara penggunaan dalam bentuk pil diminum. Dalam bentuk kristal dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap melalui hidung, atau dibakar dengan memakai botol kaca yang dirancang khusus (bong). Dalam bentuk kristal yang dilarutkan dapat juga melalui suntikan ke dalam pembuluh darah (intravena).

Amphetamin menyebabkan meningkatnya detak jantung, berkurangnya nafsu makan, memperbaiki suasana hati, dan membesarnya pupil mata. Pengguna amphetamin menyebutkan adanya “rush” rasa percaya diri yang bertahan tiga atau empat jam sebelum kemudian “turun”. Rasa khawatir dan gelisah kemudian mengambil alih dari titik ini. Penggunaan amphetamin secara berulang kali dapat menyebabkan toleransi terhadap jenis napza ini, yang berarti anda harus mengkonsumsi lebih banyak untuk mencapai rasa “high”. Gejala gelisah, paranoia dan panik dapat juga muncul. Penggunaan jangka panjang dan berat dapat menyebabkan gangguan mental.

Penggunaan amphetamin menunda, namun tidak menghilangkan, kebutuhan untuk makan. Pengguna reguler seringkali mengalami turunnya berat badan dan malnutrisi. Hal ini mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, dan ini merupakan masalah besar bagi orang dengan HIV. Efek-efek yang ditimbulkan:

  • Jantung terasa sangat berdebar-debar (heart thumps).
  • Suhu badan naik/demam.
  • Tidak bisa tidur.
  • Merasa sangat bergembira (euforia).
  • Menimbulkan hasutan (agitasi).
  • Banyak bicara (talkativeness).
  • Menjadi lebih berani/agresif.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mulut kering dan merasa haus.
  • Berkeringat.
  • Tekanan darah meningkat.
  • Mual dan merasa sakit.
  • Sakit kepala, pusing, tremor/gemetar.
  • Timbul rasa letih, takut dan depresi dalam beberapa hari.
  • Gigi rapuh, gusi menyusut karena kekurangan kalsium.
2.    Sedative-hypotic

Sedatif (obat penenang) dan hipnotikum (obat tidur). Nama jalanan BDZ antara lain BK, Lexo, MG, Rohip, Dum. Cara pemakaian BDZ dapat diminum, disuntik intravena, dan melalui dubur. Ada yang minum BDZ mencapai lebih dari 30 tablet sekaligus. Dosis mematikan/letal tidak diketahui dengan pasti. Bila BDZ dicampur dengan zat lain seperti alkohol, putauw bisa berakibat fatal karena menekan sistem pusat pernafasan. Umumnya dokter memberi obat ini untuk mengatasi kecemasan atau panik serta pengaruh tidur sebagai efek utamanya, misalnya aprazolam/Xanax/Alviz.

Sedative: Obat yang menyebabkan ketenangan, relaksasi, pengurangan kecemasan, meliputi barbiturat, benzodiazepin. Hipnotik: Obat yang menginduksi tidur, digunakan untuk terapi insomnia parah, meliputi barbiturat, benzodiazepines.

Barbiturat merupakan kelompok obat yang bekerja sebagai depresan SSP, memproduksi berbagai efek, mulai dari sedasi ringan hingga anestesia. Beberap berfungsi sebagai antikonvulsan. Barbiturat merupakan agonis GABA (gamma-aminobutyric acid), bekerja pada receptor GABAA . Barbiturat merupakan turunan asam barbiturate

Struktur kimia dari barbiturate adalah:

Benzodiazepin digunakan untuk terapi ansietas (kecemasan) atau insomnia parah, bekerja cepat. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan dan toleransi Bekerja sebagai agonis reseptor GABAA. Mulai banyak diresepkan pada 1960an

  • Akan mengurangi pengendalian diri dan pengambilan keputusan.
  • Menjadi sangat acuh atau tidak peduli dan bila disuntik akan menambah risiko terinfeksi HIV/AIDS dan hepatitis B & C akibat pemakaian jarum bersama.

Obat tidur/hipnotikum terutama golongan barbiturat dapat disalahgunakan misalnya seconal.

  • Terjadi gangguan konsentrasi dan keterampilan yang berkepanjangan.
  • Menghilangkan kekhawatiran dan ketegangan (tension).
  • Perilaku aneh atau menunjukkan tanda kebingungan proses berpikir.
  • Nampak bahagia dan santai.
  • Bicara seperti sambil menelan (slurred speech).
  • Jalan sempoyongan.
  • Tidak bisa memberi pendapat dengan baik.
3.    Opioids

Merupakan golongan Narkotika alami yang sering digunakan dengan cara dihisap (inhalasi).

  • Menimbulkan rasa kesibukan (rushing sensation)
  • Menimbulkan semangat
  • Merasa waktu berjalan lambat.
  • Pusing, kehilangan keseimbangan/mabuk.
  • Merasa rangsang birahi meningkat (hambatan seksual hilang).
  • Timbul masalah kulit di sekitar mulut dan hidung.

Zat adiktif illegal

Cannabis

Ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai 2 meter. Berdaun menjari dengan bunga jantan dan betina ada di tanaman berbeda (berumah dua). Bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Ganja hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut.

Ganja menjadi simbol budaya hippies yang pernah populer di Amerika Serikat. Hal ini biasanya dilambangkan dengan daun ganja yang berbentuk khas. Selain itu ganja dan opium juga didengungkan sebagai simbol perlawanan terhadap arus globalisme yang dipaksakan negara kapitalis terhadap negara berkembang. Di India, sebagian Sadhu yang menyembah dewa Shiva menggunakan produk derivatif ganja untuk melakukan ritual penyembahan dengan cara menghisap hashish melalui pipa chilam/chillum, dan dengan meminum bhang.

Di beberapa negara tumbuhan ini tergolong narkotika, walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia. Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia (rasa gembira) yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara para pengguna tertentu.

Efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir. Namun, hal ini masih menjadi kontroversi, karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya. Selain diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu (termasuk kanker), banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya (terutama pada para seniman dan musisi).

Berdasarkan penelitian terakhir, hal ini (lonjakan kreativitas), juga dipengaruhi oleh jenis ganja yang digunakan. Salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreativitas adalah hasil silangan modern “Cannabis indica” yang berasal dari Indiadengan “Cannabis sativa” dari Barat. Jenis ganja silangan inilah yang tumbuh di Indonesia.

Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu. Segolongan tertentu ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas, sementara ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berfikir kreatif (bukan aktif secara fisik seperti efek yang dihasilkan metamfetamin). Ganja, hingga detik ini, tidak pernah terbukti sebagai penyebab kematian maupun kecanduan. Bahkan, di masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa, di mana hampir semua unsur yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Hal ini sangat bertolak belakang dan berbeda dengan efek yang dihasilkan oleh obat-obatan terlarang dan alkohol, yang menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan hingga tersiksa secara fisik, dan bahkan berbuat kekerasan maupun penipuan (aksi kriminal) untuk mendapatkan obat-obatan kimia buatan manusia itu.

Dalam penelitian ilmiah dengan metode systematic review yang membandingkan efektifitas ganja sebagai obat antiemetic didapatkan hasil ganja memang efektif sebagai obat antiemetic dibanding prochlorperazine, metoclopramide, chlorpromazine, thiethylperazine, haloperidol, domperidone, atau alizapride, tetapi pengunaannya sangat dibatasi dosisnya, karena sejumlah pasien mengalami gejala efek psikotropika dari ganja yang sangat berbahaya seperti pusing, depresi, halusinasi, paranoia, dan juga arterial hypotension

Efek yang ditimbulkan
  • Denyut jantung atau nadi lebih cepat.
  • Mulut dan tenggorokan kering.
  • Merasa lebih santai, banyak bicara dan bergembira.
  • Sulit mengingat sesuatu kejadian.
  • Kesulitan kinerja yang membutuhkan konsentrasi, reaksi yang cepat dan koordinasi.
  • Kadang-kadang menjadi agresif bahkan kekerasan.
  • Bilamana pemakaian dihentikan dapat diikuti dengan sakit kepala, mual yang berkepanjangan, rasa letih/capek.
  • Gangguan kebiasaan tidur.
  • Sensitif dan gelisah.
  • Berkeringat.
  • Berfantasi.
  • Selera makan bertambah.
Pemanfaatan

Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan digunakan sebagai bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya kuat. Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak.

Namun demikian, karena ganja juga dikenal sebagai sumber narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, orang lebih banyak menanam untuk hal ini dan di banyak tempat disalahgunakan.

Di sejumlah negara penanaman ganja sepenuhnya dilarang. Di beberapa negara lain, penanaman ganja diperbolehkan untuk kepentingan pemanfaatan seratnya. Syaratnya adalah varietas yang ditanam harus mengandung bahan narkotika yang sangat rendah atau tidak ada sama sekali.

Sebelum ada larangan ketat terhadap penanaman ganja, di Aceh daun ganja menjadi komponen sayur dan umum disajikan. Bagi penggunanya, daun ganja kering dibakar dan dihisap seperti rokok, dan bisa juga dihisap dengan alat khusus bertabung yang disebut bong.

Budidaya

Tanaman ini ditemukan hampir disetiap negara tropis. Bahkan beberapa negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca. Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya.

Hasil panen ganja berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang disebut hasyis.

Kokain

Coca pertama semak-semak berasal dari Amerika Selatan ke Eropa pada 1750. Albert Niemann terisolasi pada musim dingin 1859-1860 di laboratorium dari Friedrich Wöhler di Göttingen, komponen aktif dari semak koka. Dia memberikan nama alkaloid kokain. Hal ini kontroversial apakah Niemann telah benar-benar berhasil sebagai isolasi pertama dari kokain. Kinerja ini juga disebabkan oleh kimiawan Friedrich Jerman Gädcke bahwa pada awal 1855, suatu substansi yang ia sebut Erythroxylin dikatakan telah terisolasi dari semak koka, Yang mengajar di Universitas Pavia, ahli saraf dan ahli patologi Paolo Mantegazza ini sudah pada tahun 1858 dapat (menurut sumber lain pada tahun 1859).

Sejak 1879, kokain digunakan untuk mengobati kecanduan morfin, sehingga dalam Sanatorium Bellevue bawah Robert Binswanger. Pada tahun yang sama,. Vassili ditemukan oleh Anrep pada Julius-Maximilians-Universitas Würzburg, efek analgesik kokain. Untuk 1884 itu menulis sebagai anestesi lokal dalam penggunaan klinis di Jerman, tentang waktu yang sama seperti Sigmund Freud tentang efek dalam karyanya pada Coca:

Efek psikologis dari Cocainum mur. dalam dosis 0,05-0,10 gram adalah dalam mantra cerah dan euforia gigih, yang berbeda dari euforia normal orang sehat berbeda dalam apa-apa. Ini benar-benar hilang Alterationsgefühl yang menyertai mantra oleh alkohol, juga memiliki karakteristik efek dari dorongan alkohol untuk operasi segera. Anda merasa peningkatan pengendalian diri, merasa lebih kuat dan mampu bekerja, tetapi jika Anda bekerja, Anda juga kehilangan alkohol, teh atau kopi-diinduksi peningkatan eksitasi dan kekuatan spiritual mulia. Hal ini hanya cukup normal dan akan segera memiliki kesulitan untuk percaya bahwa satu berada di bawah pengaruh.

Efek penggunaan kokain:

  • Menimbulkan keriangan, kegembiraan yang berlebihan (ecstasy).
  • Hasutan (agitasi), kegelisahan, kewaspadaan dan dorongan seks.
  • Penggunaan jangka panjang mengurangi berat badan.
  • Timbul masalah kulit.
  • Kejang-kejang, kesulitan bernafas.
  • Sering mengeluarkan dahak atau lendir.
  • Merokok kokain merusak paru (emfisema).
  • Memperlambat pencernaan dan menutupi selera makan.
  • Paranoid.
  • Merasa seperti ada kutu yang merambat di atas kulit (cocaine bugs).
  • Gangguan penglihatan (snow light).
  • Kebingungan (konfusi).
  • Bicara seperti menelan (slurred speech).

Hallucinogens

Kelompok ini umum agen farmakologis dapat dibagi menjadi tiga kategori besar: psychedelics, dissociatives, dan deliriants. Kelas-kelas obat psikoaktif memiliki kesamaan bahwa mereka dapat menyebabkan perubahan dalam persepsi subjektif, emosi pikiran, dan kesadaran. Tidak seperti obat psikoaktif lain, seperti stimulan dan opioid, obat ini tidak hanya memperkuat negara asing pikiran, melainkan menginduksi pengalaman yang secara kualitatif berbeda dari kesadaran biasa. Pengalaman-pengalaman ini sering dibandingkan non-biasa bentuk-bentuk kesadaran seperti trans, meditasi, dan mimpi.

Istilah “halusinogen” adalah sebuah ironi karena obat ini tidak menyebabkan halusinasi pada dosis yang khas. Halusinasi, tegasnya, adalah persepsi yang tidak memiliki dasar dalam kenyataan, tapi yang muncul sepenuhnya realistis. Sebuah “halusinasi” yang khas disebabkan oleh obat psikedelik lebih akurat digambarkan sebagai modifikasi persepsi biasa, dan subjek biasanya cukup menyadari sifat ilusi dan persepsi mereka pribadi. Deliriants, seperti diphenhydramine dan atropin, dapat menyebabkan halusinasi dalam pengertian yang tepat.

Psychedelics, dissociatives, dan deliriants memiliki sejarah panjang penggunaan obat dalam tradisi-tradisi dan agama di seluruh dunia. Mereka digunakan dalam bentuk ritual penyembuhan perdukunan dan ramalan, dalam ritus inisiasi, dan dalam ritual keagamaan gerakan sinkretik seperti União lakukan vegetal, Santo Daime, dan Gereja asli Amerika. Ketika digunakan dalam praktek keagamaan, obat-obatan psikedelik, serta zat-zat lain seperti tembakau, yang disebut sebagai entheogens. Juga, di beberapa negara bagian dan pada beberapa reservasi, obat-obatan tertentu seperti peyote diklasifikasikan sebagai bagian dari upacara agama yang diakui, dan jika digunakan dalam upacara mengatakan, dianggap hukum. s

Phencyclidine

Phencyclidine (klip kompleks nama kimia 1 – (1-phenylcyclohexyl) Piperidina), biasanya diinisialisasi sebagai PCP dan bahasa sehari-hari dikenal sebagai debu malaikat, adalah obat disosiatif rekreasi. Sebelumnya digunakan sebagai agen anestesi, PCP menunjukkan kedua efek halusinogen dan neurotoksik.

Pertama kali disintesis pada tahun 1926, itu akhirnya dipatenkan pada tahun 1952 oleh perusahaan farmasi Parke-Davis dan dipasarkan dengan nama merek Sernyl. Dalam struktur kimia, PCP adalah derivatif arylcyclohexylamine, dan, dalam farmakologi, itu adalah anggota dari keluarga anestesi disosiatif. PCP terutama bekerja sebagai antagonis reseptor NMDA, yang menghambat aktivitas reseptor NMDA dan, seperti kebanyakan antiglutamatergic halusinogen, secara signifikan lebih berbahaya daripada kategori lain dari halusinogen. Lainnya NMDA antagonis reseptor termasuk ketamin, tiletamine, dekstrometorfan dan oksida nitrat. Meskipun efek psikoaktif utama PCP berlangsung selama beberapa jam, total eliminasi dari tubuh tingkat suku biasanya meluas delapan hari atau lebih.  Sebagai obat rekreasi, PCP dapat dicerna, merokok, atau mendengus.

Efek perilaku dapat bervariasi dengan dosis. Dosis rendah menghasilkan mati rasa di kaki dan keracunan, ditandai dengan mengejutkan, kiprah goyah, bicara cadel, mata merah, dan kehilangan keseimbangan. Dosis sedang (5-10 mg intranasal, atau 0,01-0,02 mg / kg intramuskular atau intravena) akan menghasilkan analgesia dan anestesi. Dosis tinggi dapat menyebabkan kejang. Pengguna sering tidak tahu berapa banyak obat mereka mengambil karena kecenderungan obat yang akan dibuat secara ilegal di kondisi yang tidak terkendali.

Efek psikologis termasuk perubahan berat pada citra tubuh, hilangnya batas-batas ego, paranoia dan depersonalisasi. Halusinasi, euforia, impuls bunuh diri dan perilaku agresif yang dilaporkan. Obat telah dikenal untuk mengubah negara-negara mood dengan cara tak terduga, menyebabkan beberapa individu untuk menjadi terpisah, dan lain-lain untuk menjadi animasi. Mabuk individu dapat bertindak dengan cara yang tak terduga, mungkin didorong oleh delusi dan halusinasi mereka. PCP dapat menyebabkan perasaan kekuatan, kekuasaan, dan kekebalan serta efek mati rasa pada pikiran. Kadang-kadang, ini menyebabkan tindak kekerasan aneh. Namun, penelitian oleh Jaringan Drug Abuse Warning pada tahun 1970 menunjukkan bahwa laporan media PCP-diinduksi kekerasan yang sangat berlebihan dan bahwa insiden kekerasan yang tidak biasa dan sering (tapi tidak selalu) terbatas pada individu dengan reputasi untuk agresi terlepas dari penggunaan narkoba. Laporan dalam pertanyaan yang sering ditangani dengan peningkatan seharusnya dalam kekuatan yang diberikan oleh obat, ini sebagian dapat dijelaskan oleh efek obat bius. Jenis yang paling sering dikutip insiden termasuk melukai diri sendiri dari berbagai jenis, melanggar borgol (prestasi dilaporkan membutuhkan sekitar 550 lbf (2,4 kN) kekuatan), menimbulkan kerusakan properti yang luar biasa, dan mencabut gigi sendiri.

Termasuk dalam portofolio gangguan perilaku adalah tindakan melukai diri termasuk bunuh diri, dan serangan pada orang lain atau merusak properti. Sifat analgesik obat dapat menyebabkan pengguna merasa sedikit rasa sakit, dan bertahan dalam tindakan kekerasan atau merugikan sebagai hasilnya. Dosis rekreasi obat juga dapat menyebabkan keadaan psikotik yang menyerupai episode skizofrenia yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan pada suatu waktu dengan dosis beracun. Pengguna umumnya melaporkan bahwa mereka merasa terlepas dari kenyataan, atau kesadaran bahwa seseorang tampaknya agak terputus dari realitas.

Gejala diringkas oleh perangkat mnemonic RED Denmark:. Kemarahan, eritema (kemerahan kulit), pupil melebar, delusi, amnesia, nystagmus (osilasi dari bola mata ketika bergerak lateral), eksitasi, dan kekeringan kulit.

Heroin

Heroin (diacetylmorphine (INN)), juga dikenal sebagai diamorfin (BAN), atau, khususnya dalam literatur lama, sebagai diasetat morfin, adalah analgesik opioid disintesis dari morfin, turunan dari opium poppy. Ketika digunakan dalam pengobatan itu biasanya digunakan untuk mengobati sakit parah, seperti yang dihasilkan dari serangan jantung. Ini adalah 3,6-diacetyl ester morfin, dan fungsi sebagai prodrug morfin (yang berarti bahwa itu adalah metabolik dikonversi menjadi morfin di dalam tubuh). Bentuk kristal putih dianggap “heroin murni” biasanya garam hidroklorida, diacetylmorphine hidroklorida. Ketika heroin dipasok secara ilegal, meskipun, sering dicampur ke bentuk freebase, menumpulkan kemilau dan konsistensi dengan bubuk putih matte. Pada 2004, sekitar 87% dari pasokan dunia dari opium dan turunannya, termasuk heroin , dianggap diproduksi di Afghanistan. Namun, produksi di Meksiko telah meningkat enam kali lipat 2007-2011, perubahan persentase itu dan menempatkan Meksiko sebagai produsen opium kedua terbesar di dunia.

Di bawah diamorfin nama kimia, diacetylmorphine diresepkan sebagai analgesik yang kuat di Inggris, di mana ia diberikan melalui subkutan, intramuskular, atau rute intravena intratekal. Penggunaannya meliputi pengobatan untuk nyeri akut, seperti pada trauma fisik yang parah, infark miokard, nyeri pasca-bedah, dan nyeri kronis, termasuk stadium akhir kanker dan penyakit terminal lainnya. Di negara lain itu lebih umum untuk menggunakan morfin atau opioid kuat lainnya dalam situasi ini. Pada tahun 2004, Institut Kesehatan Nasional dan Klinis Excellence dihasilkan pedoman pengelolaan bagian caesar yang merekomendasikan penggunaan diacetylmorphine intratekal atau epidural pasca operasi untuk menghilangkan rasa sakit.

Seperti kebanyakan opioid, heroin murni tidak menyebabkan banyak komplikasi jangka panjang selain ketergantungan dan sembelit [36] tercemar “jalanan” Namun heroin dianggap salah satu obat yang paling berbahaya terutama jika dikonsumsi secara intravena.

  • Penggunaan heroin intravena (dan substansi lainnya) dengan jarum yang tidak steril dan jarum suntik atau peralatan terkait lainnya dapat mengakibatkan:
  • Risiko tertular patogen melalui darah seperti HIV dan hepatitis
  • Risiko tertular endokarditis bakteri atau jamur dan mungkin vena sklerosis
  • Abses
  • Keracunan dari kontaminan ditambahkan untuk “memotong” atau encer heroin
  • Kronis sembelit
  • Kecanduan
  • Toleransi
  • Ketergantungan fisik dapat hasil dari penggunaan jangka panjang dari semua opioid, menghasilkan gejala penarikan tentang penghentian penggunaan
  • Penurunan fungsi ginjal (meskipun saat ini tidak diketahui apakah ini adalah karena adulterants atau penyakit menular)

 
Efek yang ditimbulkannya:

  • Denyut nadi melambat.
  • Tekanan darah menurun.
  • Otot-otot menjadi lemas/relaks.
  • Diafragma mata (pupil) mengecil (pin point).
  • Mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan diri.
  • Membentuk dunia sendiri (dissosial) : tidak bersahabat.
  • Penyimpangan perilaku : berbohong, menipu, mencuri, kriminal.
  • Ketergantungan dapat terjadi dalam beberapa hari.
  • Efek samping timbul kesulitan dorongan seksual, kesulitan membuang hajat besar, jantung berdebar-debar, kemerahan dan gatal di sekitar hidung, timbul gangguan kebiasaan tidur.

Morfin

Merupakan zat aktif (narkotika) yang diperoleh dari candu melalui pengolahan secara kimia. Umumnya candu mengandung 10% morfin. Cara pemakaiannya disuntik di bawah kulit, ke dalam otot atau pembuluh darah (intravena)

  • Menimbulkan euforia.
  • Mual, muntah, sulit buang hajat besar (konstipasi).
  • Kebingungan (konfusi).
  • Berkeringat.
  • Dapat menyebabkan pingsan, jantung berdebar-debar.
  • Gelisah dan perubahan suasana hati.
  • Mulut kering dan warna muka berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *